Pengunjuk rasa memakai pakaian tahanan berwarna oranye saat unjuk rasa menuntut penutupan Guantanamo

Pengunjuk rasa memakai pakaian tahanan berwarna oranye saat unjuk rasa menuntut penutupan Guantanamo. (Foto: Ghayor Waziri)

Ketika pertama kali terpilih, Presiden Amerika Barack Obama, berjanji akan menutup dan mengosongkan penjara kontroversial Guantanamo Bay, dalam waktu satu tahun.

Tapi setelah tujuh tahun, janji itu belum juga dipenuhi.

Dari Kabul, Afghanistan, Ghayor Waziri bertemu bekas tahanan Guantanamo yang dihukum penjara selama tujuh tahun tanpa diadili.

Ratusan siswa sedang belajar di sebuah sekolah swasta di Kabul.

Shareef Allah Sherzad yang berusia 36 tahun bekerja sebagai pengawas kualitas pengajaran di sekolah ini. 

Tapi selama tujuh tahun, dari 2003 hingga 2010, dia ditahan di penjara Guantanamo Bay di Kuba. Setelah hukuman berat di Guantanamo, Shareef Allah ingin kembali ke kehidupan normal.

“Di sana para tahanan sering dihukum seperti tidak boleh tidur atau membenamkan kami di air,” kenang Shareef.

Shareef Allah Sherzad mengatakan penjaga penjara merampas makanan tahanan dan melecehkan mereka. 

Dia berusia 22 tahun dan baru saja kembali ke Afghanistan dari Pakistan ketika ditangkap. 

Sampai kini dia tidak tahu alasan penahanannya selama tujuh tahun.

“Sejujurnya sejak ditangkap sampai dibebaskan, saya tidak tahu mengapa pasukan Amerika menangkap saya. Awalnya mereka bilang saya punya ikatan dengan Al-Qaeda lalu Taliban lalu mereka bilang saya punya hubungan dengan jaringan Haqani. Akhirnya mereka menuduh saya punya koneksi dengan ketua Hizb-e-Islami, Hekmatyar. Dia ketua kelompok yang melawan pasukan Afghanistan dan internasional,” kata Shareef. 

Jaringan Haqani adalah kelompok pemberontak yang beraksi di bawah kepemimpinan Taliban, sementara Hizb-e-Islami adalah faksi mujahidin yang terlibat dalam perang sipil di Afghanistan.

Tapi Shareef membantah terlibat dengan kelompok-kelompok itu. 

Dalam beberapa pekan terakhir di Kabul, warga kota yang marah berdemonstrasi di luar Kedutaan Amerika menuntut penutupan penjara itu. 

Pengunjuk rasa, beberapa berpakaian meniru seragam penjara berwarna oranye, memegang spanduk bertulis ‘Tutup Guantanamo!’ dan ‘Guantanmo, memalukan Hak Asasi Manusia!’  

“Setelah 15 tahun masih ada orang yang ditahan di penjara Guantanamo. Mereka tidak punya pengacara dan hak sebagai manusia. Setelah 15 tahun, kejahatan mereka masih tidak jelas dan tidak ada pengadilan yang menjatuhkan vonis. Jadi mereka harus dibebaskan. Itu alasan kami berdemo di sini dan meminta Amerika menutup penjara itu,” kata aktivis Nazer Muhammad Mutmain yang ikut dalam unjuk rasa itu.

Beberapa pengunjuk rasa menyebut diri mereka sebagai anggota keluarga tahanan Guantanamo.

Yang lainnya menyalahkan Presiden Amerika Barack Obama karena tidak memenuhi janjinya untuk menutup penjara itu.

Para pengunjuk rasa sedang membacakan pernyataan bersama di aksi itu menuntut Amerika untuk menutup semua penjara tersembunyinya.

Seorang peserta aksi bernama Omer Khan berasal dari Provinsi Khost. Putranya ditahan di Guantanamo selama bertahun-tahun tanpa alasan yang jelas.

“Sudah 14 tahun mereka menahan putra saya di penjara Guantanamo. Dan sampai sekarang tidak ada yang bertanggung jawab memberikan alasan penangkapannya. Jika dia dituduh melakukan kejahatan, dia harus diadili. Tanpa vonis pengadilan, tidak ada yang bisa dipenjara. Jika tidak ada kejahatan yang dituduhkan padanya, dia harus dibebaskan,” tuntut Omer Khan.

Selama ditahan Shareef mengaku kesulitan menghubungi keluarganya dan seperti tahanan lainnya dia mengalami masalah mental yang parah.

“Kami hanya bisa berhubungan dengan keluarga lewat surat, yang diurus ICRC. Tapi butuh beberapa bulan sebuah surat bisa sampai karena ditahan pasukan Amerika. Contohnya ada surat dari keluarga, yang saya terima setelah 21 bulan. Di dalam penjara banyak tekanan dan saya mengalami masalah mental. Saya mengalami depresi dan mimpi buruk,” tutur Shareef.

Abdul Rahman Hootak dari Komisi HAM independen Afghanistan. Organisasinya telah menerima banyak laporan soal penjara Guantanamo dan ini menjadi perhatian utama lembaganya.

“Guantanamo adalah penjara dimana sebagian besar tahanannya ditangkap dan dipenjara secara ilegal. Penjara ini bertentangan dengan semua hukum internasional dan hak asasi manusia.”

Penjara Guantanamo dibuka tahun 2002 dan pernah menampung hingga 700 narapidana. Sekarang jumlah penghuninya kurang dari 100 orang, dimana delapan diantaranya diyakini warga Afghanistan.

Dan meski jumlah tahanannya sudah jauh berkurang, ini tidak cukup bagi warga Kabul.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!