Beberapa bencana alam paling dahsyat di dunia ini terjadi di Pakistan.

Dalam lima tahun terakhir, lebih dari 23 juta warga Pakistan merasakan dampak dari gempa dan banjir hebat.

Antara 2005 hingga 2010, hampir seratus ribu jiwa melayang akibat bencana alam.

Setelah satu dekade penuh gejolak, Naeem Sahoutara menyelidiki apa pelajaran yang bisa diambil oleh Pakistan.

Warga Islamabad sudah terbiasa dengan gempa bumi.

Ibukota Pakistan itu terletak di atas garis patahan seismik yang melewati beberapa negara di Asia Selatan.

Kashif Ahmed, bekerja sebagai penjaga keamanan di kota itu. Pada Oktober 2005, desanya Neelam yang berada di wilayah Kashmir, rata dengan tanah akibat gempa yang kuat.

“Saya sedang sibuk bekerja di rumah ketika gempa terjadi. Dalam lima menit semuanya jadi gelap dan tertutup debu. Pegunungan berubah menjadi debu dan rumah kami rata dengan tanah.”

Gempa berkekuatan 7,6 SR itu menyebabkan kerusakan yang sangat besar. Korban tewas mencapai 80 ribu orang dan menyebabkan 3,5 juta jiwa menjadi pengugsi. 

Itu bencana terburuk yang pernah dihadapi negara itu dan saat itu, pemerintah mengalami keterbatasan mekanisme untuk mengatasi bencana itu.

Tapi dua tahun kemudian pemerintah membentuk Otoritas Managemen Bencana Nasional atau NDMA.

Ahmed Kamal, juru bicara badan tersebut mengatakan setelah satu dekade Pakistan jauh lebih siap dan terkoordinir.

“Semua departemen federal dan provinsi terkait bekerja di bawah satu payung. Di tingkat federal, Otoritas Manajemen Bencana Nasional membuat rencana cadangan nasional, terutama untuk bencana meteorologi.”

Pada 2010 banjir besar yang disebabkan hujan deras merendam seperlima dari negara itu. Sekitar dua ribu orang tewas sementara 20 juta jiwa kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian mereka.

Ketika struktur koordinasi sudah ditetapkan, manajemen yang buruk merusak upaya rehabilitasi.

Tapi Kamal mengatakan pemerintah sudah mendapat pelajaran.

“Dalam kasus bencana alam yang paling penting adalah bagaimana kita menanggapinya. Ini tanggapan langsung atau tertunda? Kami belajar dari gempa bumi 2005 dan banjir 2010, kami membuat fasilitas sumber daya manusia di setiap provinsi. Tujuannya untuk menyediakan bahan-bahan makanan dan non-makanan dalam waktu singkat. Tahun ini kami juga mengukir prestasi besar dengan meluncurkan fasilitas pesan singkat gratis berisi informasi peringatan bencana,” tambah Ahmed Kamal.

Ini adalah inisiatif pemerintah dan perusahaan seluler swasta. Pesan singkat berisi peringatan soal banjir dan gempa saat ini dikirim secara teratur ke 52 juta orang di seluruh negeri ketika bencana terjadi.

Sistem pesan pendek adalah tahap pertama dari sistem peringatan dini negara dan telah diterima dengan baik sejauh ini.

Badan ini mengklaim pesan singkat peringatan ini menyelamatkan banyak orang saat banjir di musim hujan tahun lalu di provinsi bagian timur, Punjab.

Tapi  sekitar 150 kilometer dari kantor NDMA, proyek perumahan untuk memukimkan kembali dua ribu  keluarga pengungsi akibat gempa 2005, belum kunjung selesai.

Analis seperti penulis Tahir Malik mengatakan pemerintah perlu memperbaiki masalah tata kelola pemerintahan.

“Tentu saja ada beberapa perbaikan, tapi menurut saya pemerintah telah belajar dari pengalaman sebelumnya. Saat banjir parah tahun 1980-an banyak uang bantuan berdatangan dari masyarakat internasional. Setelah gempa bumi 2005, respon masyarakat internasional juga sangat besar. Tapi sayang pemerintah hanya tertarik untuk mendapatkan uang. Padahal kita juga harus membekali diri untuk bisa menghadapi bencana semacam itu.”

Pemerintah saat ini bekerja sama dengan ratusan LSM untuk bekerja di berbagai sektor seperti pengurangan risiko dan rehabilitasi jika terjadi bencana alam.

Pakar dari Oxfam, Dr Manzoor, mengatakan pemerintah telah mengambil langkah-langkah positif, namun perlu lebih fokus untuk mengurangi resiko bencana.

“Sangat penting untuk memperkuat otoritas manajemen bencana provinsi yang diisi para ahli khusus pengurangan resiko bencana. Dan pemerintah harus benar-benar bekerja keras dan mendukung semua komunitas kemanusiaan untuk datang dan berbagi peran dengan pemerintah.” 

Dan koordiansi yang lebih baik dari tingkat nasional hingga daerah akan membuat perbedaan besar katanya.

“Ini akan mengurangi kerugian sekaligus menyelamatkan lebih banyak nyawa dan ini adalah cara berkelanjutan dalam mengelola bencana di Pakistan,” kata Dr. Manzoor.

Tapi sampai itu terjadi, para pakar khawatir dengan kurang siapnya Pakistan menghadapi bencana alam di masa depan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!