Pelajar Vietnam. (Foto: Lien Hoang)

Pelajar Vietnam. (Foto: Lien Hoang)

Coba Anda perhatikan negara-negara di Asia Tenggara. Negara mana menurut Anda yang paling banyak menyekolahkan warganya ke Amerika Serikat?

Jawabannya adalah Vietnam. Empat dekade lalu, Amerika Serikat dan Vietnam berperang. Tapi kini hubungan kedua negara membaik dan salah satu penyebabnya adalah sektor pendidikan. 

Kita simak laporan yang disusun Lien Hoang dari kota Ho Chi Minh berikut ini.

Puluhan orang Vietnam tengah berada di Pusat Kebudayaan sekaligus kantor konsulat Amerika di kota Ho Chi Minh. Mereka bertemu staf rekrutmen dari Universitas Amerika Serikat.

Tidak sulit untuk merekrut mahasiswa asal Vietnam. Mereka sudah cinta Amerika. Mereka menyukai film-film Hollywood, iPhone, dan Mariah Carey. Jadi bagi kebanyakan mereka, belajar di Amerika adalah sebuah cita-cita. 

Saya bertemu salah satu calon mahasiswa bernama Nguyen Huyen Thi My. Perempuan berusia 23 tahun ini menggunakan jam istirahat siangnya untuk mendengar pemaparan soal soal program S2.

Huyen sebelumnya dia sudah pernah belajar di Pennsylvania Amerika Serikat. Dia mengaku itu benar-benar mengubahnya.

“Saya tidak menyadari betapa besar perubahan yang saya alami setahun tinggal di Amerika. Ketika saya pulang ke Vietnam, orangtua dan teman-teman saya sangat terkejut karena pola pikir saya yang berbeda. Saya melihat berbagai hal dalam perspektif berbeda dan makin dewasa.”

Meski 40 tahun lalu, militer kedua negara saling membunuh dalam Perang Vietnam, kini  mereka cukup dekat. Dan salah satu penyebabnya adalah pendidikan.

Perguruan tinggi di Amerika Serikat punya reputasi terbaik di dunia. Dan orang Vietnam terobsesi dengan pendidikan.

Vietnam mengirimkan lebih pelajar ke Amerika dibanding negara Asia Tenggara lain. Tapi karena tidak semua orang bisa membeli tiket pesawat ke sana,  maka tidak lama lagi Amerika akan mengirimkan pendidikannya ke Vietnam.

Saat ini sedang berlangsung pembangunan Universitas Fulbright Vietnam. 

Sebenarnya di kota Ho Chi Minh sudah ada program Fulbright yang dijalankan oleh Harvard. 

Kampus ini akan menjadi sekolah non-profit pertama bergaya Amerika di Vietnam, yang menggunakan metode pengajaran Amerika.

“Generasi pemimpin Vietnam mendatang layak mendapat kesempatan untuk mendapat pendidikan kelas dunia di negara mereka sendiri. Pendidikan yang memungkinkan mereka memimpin negara ini menuju masa depan. Dan mereka tidak harus meninggalkan Vietnam untuk mendapatkannya,” kata Konsul Jenderal Amerika Serikat, Rena Bitter.

Tentu saja, Amerika Serikat tidak melakukan ini semata karena kebaikan hati. Banyak perusahaan Amerika ingin memperkerjakan orang Vietnam karena gajinya lebih murah.

Sesto Vecchi adalah pengacara Amerika yang sudah tinggal di Vietnam selama dua dekade. Dia mengatakan tenaga kerja Vietnam butuh lebih banyak pelatihan dan keterampilan, dan ini salah satunya didapat di sekolah. 

“Kita tahu Vietnam sangat baik dalam ilmu pengetahuan, matematika, dan teknologi. Apa yang dibutuhkan majikan adalah kemampuan bahasa yang lebih baik dan kemampuan bekerja dalam tim. Ini adalah jenis pendidikan dan lingkungan yang harus dimiliki siswa agar siap bergabung dalam bursa kerja,” kata Vecci.

Dan perusahaan-perusahaan Amerika juga berinvestasi di bidang pendidikan. 

General manager Intel, Sherry Boger, mengatakan pendidikan yang lebih baik akan membuat orang Vietnam mendapat keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja di bidang penghasil chip.

“Saya sangat bangga dan yakin pada kaum muda Vietnam. Mereka terbukti punya semangat, komitmen, dan kontribusi pada perusahaan dan masyarakat. Mereka bisa mengembangkan kemampuan teknis dan kepemimpinan  mereka agar lebih baik. Jadi saya sangat bangga dengan para pekerja kami.”

Jadi perusahaan-perusahaan Amerika mendapat karyawan yang lebih terampil sementara warga Vietnam mendapat pendidikan dan keahlian Amerika.

Huyen, salah satu yang berminat pada program S2 di Kampus Amerika senang kampus Fullbright akan dibuka Vietnam. 

“Saya sangat senang. Ini mungkin universitas Amerika pertama di Vietnam. Dan Fulbright sangat terkenal. Saya berharap hubungan Vietnam dan Amerika Serikat makin baik. Kita punya lebih banyak kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan budaya dan membuat dunia jadi lebih baik,” harap Huyen.

Setelah kampus itu dibuka, warga Vietnam seperti Huyen bisa mendapatkan pendidikan ala Amerika tanpa perlu pergi ke Amerika Serikat.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!