Penduduk Asli Australia: Tidak Ada Alasan Merayakan Hari Nasional

Namun Hari Nasional Australia yang jatuh pada tanggal 26 Januari itu diwarnai kontroversi karena tanggal itu menandai awal pemukiman kolonial Inggris di Australia.

Senin, 01 Feb 2016 13:39 WIB

Aksi protes penduduk asli Australia menentang perayaan Hari Nasional Australia. (Foto: Jarni Blakkar

Aksi protes penduduk asli Australia menentang perayaan Hari Nasional Australia. (Foto: Jarni Blakkarly)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Australia merayakan Hari Nasionalnya Selasa lalu. Sebagian warga menggunakan hari ini untuk bersantai bersama teman dan keluarga.

Namun Hari Nasional Australia yang jatuh pada tanggal 26 Januari itu diwarnai kontroversi karena tanggal itu menandai awal pemukiman kolonial Inggris di Australia.

Penduduk Asli Australia merujuk tanggal itu sebagai 'Hari Penyerangan’ dan setiap tahun mereka melakukan unjuk rasa menentang perayaan itu secara nasional.

Koresponden Asia Calling KBR,  Jarni Blakkarly [Black-yang-lee] mengikuti aksi unjuk rasa itu di Sydney.

Lebih dari seribu orang yang terdiri dari penduduk Asli dan bukan penduduk asli Australia berjalan kaki melalui jalan-jalan di Sydney. Mereka turun ke jalan memprotes perayaan hari libur nasional di negara itu – Hari Nasional Australia.

Tak jauh dari tempat unjuk rasa, pada 1788 Laksamana Inggris mendarat dengan armada kapal dan menancapkan bendera Inggris, menyatakan tanah itu bagian dari Kerajaan Inggris.

Setelah penjajahan selama 228 tahun dan kekerasan serta perampasan, banyak penduduk asli Australia menganggap tanggal ini tidak perlu dirayakan. 

Caine Carroll bersama keluarganya bergabung dalam unjuk rasa itu. 

“Banyak pertumpahan darah dan itu tidak diakui, terutama diantara generasi yang lebih muda. Itu alasan saya mengajak putra saya ke mari agar mereka tahu apa arti hari Nasional Australia yang sebenarnya. Ini adalah hari berkabung bukan perayaan. Nenek moyang mereka meninggal saat memperjuangkan tanah ini dan sampai hari ini kami masih berjuang.”

Ketika aksi unjuk rasa terus bergerak di jalanan Sydney yang sibuk, banyak orang yang keluar rumah untuk merayakan hari libur berhenti untuk menonton. Beberapa mengibarkan bendera Australia atau memakai kaus bertema Australia.

Tapi banyak juga orang bukan asli Australia yang tidak ikut berpesta dan memilih bergabung dengan aksi unjuk rasa itu. 

“Menurut saya penting kalau bukan penduduk asli ikut bergabung dalam aksi ini. Ini terkait perlakuan yang mereka dapatkan sejak bermukimannya orang kulit putih di sini. Menurut saya ini kewajiban kita semua untuk menunjukkan dukungan kita dengan cara yang kita bisa,” kata salah satu peserta bernama Hannah.

Penduduk Asli Australia terus menghadapi kerugian sosial dan ekonomi yang signifikan di negara itu. 

Mereka menghadapi kemiskinan, pengangguran, tunawisma dan pemenjaraan yang ekstrim.

Cara pemerintah merayakan hari nasional Australia juga telah berubah secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak perayaan yang melibatkan para migran, terutama dari Asia yang jumlahnya terus meningkat. 

Tapi Nakkiah Lui, seorang aktris dan penulis naskah warisan Gamilaroi, mengatakan meski Australia terlihat lebih multikultural, itu tidak mengubah perasaan orang Aborigin soal tanggal ini.

“Ide Australia Baru, Australia yang multikultural, saya pikir akan menghapus identitas Aborijin dan mereka belum termasuk dalam gagasan apa itu hari Nasional Australia. Tanggal ini akan selalu menjadi perdebatan dan keputusan besar harus dibuat agar Australia bisa berubah. Salah satunya dengan mengubah tanggal.”

Setelah 26 Januari perdebatan bagaimana seharusnya Australia merayakan sejarah kolonial dan identitas modern akan menghilang dan muncul lagi tahun depan.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

KPPU Belum Temukan Indikasi Monopoli PT IBU

  • Menristek Bakal Tindak Dosen HTI Sesuai Prosedur
  • PUPR Kejar Sejumlah Ruas Trans Sumatera Beroperasi 2018
  • Kelangkaan Garam, Kembali ditemukan Garam Tak Berlogo BPOM

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.