Latihan keamanan di sebuah kampus khusus perempuan di Karachi. (Foto: Police Special Security Unit (

Latihan keamanan di sebuah kampus khusus perempuan di Karachi. (Foto: Police Special Security Unit (SSU)

Pelajar di Pakistan kini menjadi korban langkah keamanan yang makin intensif. Beberapa lembaga pendidikan menyewa pasukan bersenjata dan menggunakan pemindai biometrik. 

Langkah ini diambil menyusul kejadian fatal bulan lalu, ketika sebuah kelompok militan menyerang sebuah sekolah dan menembak 21 pelajar.

Tapi para ahli khawatir langkah ini juga berdampak negatif pada pelajar itu sendiri.

Dari Karachi, kita simak laporan yang disusun Naeem Sahoutara berikut ini.

Di satu pagi yang dingin, para pelajar tiba di Sekolah Khusus Perempuan St Patrick di pusat kota Karachi. 

Satu per satu pelajar berhenti di depan pintu masuk untuk memindai sidik jari mereka di mesin biometrik. 

Pelajar bernama Jennifer Patrick yang berusia 16 tahun menjelaskan alasannya.

“Sebelum masuk kelas, kami harus memindai sidik jari di mesin itu. Lalu sebuah pesan pendek akan dikirim sekolah ke rumah, memberitahu kalau anak-anak sudah sampai di sekolah. Ini juga terjadi ketika kami pulang sekolah,” kata Jennifer.

Di luar sekolah beberapa penjaga berpakaian paramiliter dan bersenjata mengawasi. Pemeriksaan rutin ini kata Jennifer kini sangat ketat.

“Para penjaga berjaga sepanjang waktu. Situasi keamanan di sekolah kami cukup baik. Tidak sembaranganan orang bisa masuk ke sekolah. Ada waktu khusus bagi tamu dan mereka harus melewati pemeriksaan ketat.”

Pemerintah daerah menerima ancaman dari militan yang punya kaitan dengan Taliban, yang marah karena perempuan muda di sana bersekekolah.

Peringatan terbaru datang bulan lalu, beberapa hari setelah militan menyerang kampus di barat laut kota Charcada.

Dua puluh satu mahasiswa tewas ditembak dan 30 lainnya luka-luka. Pasukan keamanan menembak lima pelaku bom bunuh diri sebelum mereka meledakkan diri.

“Saya mendapat pesan singkat dari sekolah kalau putri saya sudah sampai. Sekolah mengrim pesan dua kali sekali, saat dia tiba di sekolah dan saat pulang,” kata Naureen.

Di rumah, ibu Jennifer, Naureen Patrick, menerima sebuah pesan pendek dari sekolah yang memberitahu kalau putrinya telah tiba di sekolah dengan aman.

Orangtua seperti Naureen sangat khawatir dengan keselamatan anak-anaknya akibat ancaman keamanan.  Tapi dia merasa putrinya akan aman berada di sekolah.

“Ya saya kira tidak semua orang bisa lolos pemeriksaan dan masuk ke lingkungan, seperti di Universitas Charsada yang baru saja diserang. Karena serangan teroris terjadi di banyak kota, kami ingin anak-anak kami aman,” tambah Naureen. 

Taliban menganggap pendidikan modern tidak Islami dan mereka telah membom ratusan sekolah terutama di daerah kesukuan.

Tapi kelompok itu kini juga menargetkan lembaga-lembaga pendidikan di kota-kota besar, terutama sekolah swasta yang mengikuti kurikulum barat.

Guru sekolah menengah Julia Abel mengatakan sekolah dan kampus saat ini terpaksa meningkatkan keamanan. 

Para orangtua kata Abel mendorong sekolah untuk meningkatkan keamanan untuk memastikan anak-anak mereka aman.

Latihan keamanan secara rutin dilakukan di sekolah dan  kampus untuk melatih para pelajar apa yang harus dilakukan jika ada serangan.

Pelajar berusia delapan tahun bernama Imama Butt adalah pelajar kelas tiga di sekolah swasta terkenal di Karachi. Dia ikut serta dalam latihan setiap minggu.

“Pertama kami menutup pintu dan jendela lalu bersembunyi di bawah meja. Sepuluh menit kemudian penjaga datang dan mengatakan ini hari yang cerah. Setelah itu kami keluar dari kelas dan mulai belajar,” kisah Imama.

Selama latihan, puluhan pasukan keamanan mengelilingi bangunan, beberapa berpura-pura menjadi Taliban. Mereka membawa senjata yang membuat takut para pelajar kata Imama.

“Ada 10 penjaga di sekitar tempat bermain, kelas dan di pintu. Mereka membawa senjata. Mereka yang berdiri di dalam kelas membawa senjata besar. Sedangkan yang bertugas di luar, membawa senjata yang kecil. Saya tidak suka senjata karena bisa meletus dan ini membuat kami takut,” aku Imama.

Beberapa orangtua mengatakan latihan ini sangat berguna. Sedangkan orangtua lain khawatir anak-anak mereka belajar dalam lingkungan yang makin militeristik.

Syed Kumail Abbas adalah Manajer olahraga di Sekolah Negeri Habib. Menurutnya tindakan ini mengekang kebebasan pelajar.

“Sekarang setiap anak harus berada dalam pengawasan guru. Guru mengawal mereka ke pintu gerbang, labor, ruang senam dan kantin. Dan ini mereka lakukan dengan berbaris. Ini mirip seperti robot atau zombie.”

Yang lain berpendapat mengekspos senjata kepada para siswa bisa merugikan secara psikologis.

Tapi untuk saat ini, belajar di bawah bayang-bayang senjata tampaknya menjadi cara untuk memastikan mereka tetap aman.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!