Peserta kontes kecantikan Miss Puerto Princesa City di Filipina. (Foto: Ariel Carlos)

Peserta kontes kecantikan Miss Puerto Princesa City di Filipina. (Foto: Ariel Carlos)

Di Filipina, kontes kecantikan berlangsung dimana-mana, mulai dari kota besar hingga desa.

Filipina dikenal dengan ratu kecantikannya, sama seperti Brasil yang dikenal dengan pemain bolanya.

Jofelle Tesorio dan Ariel Carlos dari Manila dan Palawan menyusun kisah tentang obsesi warga negara ini akan kontes kecantikan. 

Para perempuan ini tengah berlatih untuk bersaing dalam kontes kecantikan lokal.

Mereka berlenggak lenggok bolak-balik memakai sepatu hak tinggi untuk menyempurnakan cara berjalan mereka tanpa tersandung.

Pelatih mereka, Thom Favila, menjelaskan kerasnya pelatihan yang harus ditempuh para peserta pelatihan.

“Selama pelatihan, setelah bangun pagi para gadis berolah raga lalu sarapan kemudian latihan berjalan. Setelah itu kami mengajarkan mereka cara merias wajah dan latihan tanya jawab.”

Sebagian besar muridnya berasal dari keluarga miskin.

Salah satunya adalah Janicel Lubina yang berusia 20 tahun. Dia mewakili Filipina dalam kontes Miss International di Jepang Desember lalu.

Janicel hampir memenangkan gelar Miss Universe Filipina. Sementara Miss Universe 2015 diraih rekan senegaranya bernama Pia Wurtzbach.

Pada 2013, Janicel menjadi pemenang kedua di Miss World Filipina. 

Dia sering disebut Cinderellanya Filipina.

“Ketika saya kelas 3 SMA, ayah saya kena stroke. Saya ikut bertani dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga sama seperti ibu. Saya bangga dengan asal saya. Saya pikir saya sudah menginspirasi banyak gadis yang berasal dari keluarga miskin,” ungkap Janicel.

Saat berusia 16 tahun Janicel bertemu seorang pencari bakat lokal di sebuah desa pertanian di Palawan.

Menurut Janicel, bergabung dengan kontes kecantikan dunia adalah cara untuk keluar dari kemiskinan dan membantu keluarganya 

“Ini sangat membantu. Saya sudah punya rumah untuk keluarga. Selain rumah, saya ingin keluarga saya mendapat pendidikan dengan menyekolahkan dua saudara lelaki saya.”

Filipina adalah negara yang sangat menyukai kontes kecantikan.

Ini dimulai tahun 1969, ketika Gloria Diaz yang berusia 19 tahun menjadi Miss Universe asal Filipina yang pertama. 

Filipina sudah memenangkan tiga gelar Miss Universe, empat Miss International, satu Miss World, dua Miss Earth, dan puluhan kontes kecantikan internasional yang skalanya lebih kecil.

Kecintaan warga Filipina akan kontes kecantikan makin bertambah setelah Pia Wurtzbach dinobatkan menjadi Miss Universe, setelah 42 tahun setelah penobatan Gloria Diaz.

Ketika Pia kembali ke Manila, lalu lintas benar-benar berhenti dan kehidupan berhenti sejenak.

Psikolog Vincent Quevada menjelaskan mengapa orang Filipina kecanduan kontes kecantikan, ketika di negara lain minat ini makin berkurang.

“Menurut saya alasannya karena orang Filipina mendukung keinginan orang lain untuk menjadi seseorang suatu hari nanti. Kemungkinan besar itu karena kemiskinan. Orang Filipina senang melihat cerita seperti Cinderella,” jelas Vincent.

Tapi jalan Janicel Lubina menjadi ratu kecantikan tidaklah mudah.

Dia harus menghabiskan tiga tahun di pusat pelatihan dan beberapa kali mengikuti kontes kecantikan.

Di pusat pelatihan, dia menjani latihan yang berat, enam hari seminggu 12 jam sehari. Pelatihan yang didapatnya antara lain merias wajah, cara berjalan dan ‘pengembangan kepribadian'.

Dia bercerita beberapa gadis pingsan saat latihan hari pertama dan beberapa lainnya berhenti setelah beberapa hari.

Saat ini sedang berlangsung kontes kecantikan untuk Miss Puerto Princesa City di Palawan dan para calon sedang diperkenalkan.

Salah satunya adalah Sheerah Dalisay yang 24 tahun dan mengidolakan Janicel Lubina.

Tapi tidak seperti Janicel, Sheerah berasal dari kelas menengah, lulusan perguruan tinggi dan guru bahasa Inggris.

“Janicel Lubina adalah orang yang sangat kuat meski diserang berbagai komen negatif. Dia miskin dan tidak malu mengakuinya. Sebagain besar orang meragukan kualitas dan kemampuan Janicel saat kontes. Tapi Janicel menggunakan semua komentar negative itu sebagai tantangan untuk memperbaiki diri,” kata Sheerah.

Kandidat lain, Mia Bianca Dantes yang berusia 24 tahun, berpikir dia punya kesempatan menjadi juara. Dia adalah mahasiswi S2 Ilmu Keperawatan.

“Saya ikut kontes ini untuk mengejar mimpi, meningkatkan rasa percaya diri, memberdayakan, mendidik dan menginspirasi generasi baru saat ini. Untuk membantu mereka menunjukkan bakat dan apa yang bisa mereka lakukan, siapa pun mereka.”

Kembali di pusat pelatihan, pencari bakat Thom Favila mengatakan dia sedang melatih calon lain yang berpontensi meraih gelar Miss Universe berikutnya.

Dia adalah seorang perempuan muda berkulit gelap dengan tinggi lebih dari 180 cm dari sebuah pulau terpencil 

Thom mengatakan warga Filipina itu seperti orang lemah padahal menyimpan kekuatan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!