Dua orang melepas tiang bendera di lokasi permukiman warga Gafatar yang dibakar massa di kawasan Mon

Dua orang melepas tiang bendera di lokasi permukiman warga Gafatar yang dibakar massa di kawasan Monton Panjang, Dusun Pangsuma, Desa Antibar, Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalbar, Selasa (19/1). (Foto: Antara)

Setelah beberapa anggotanya menghilang, Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar terus dirundung kontroversi.

Pemerintah Indonesia menggambarkan kelompok ini sebagai ‘aliran sesat’, sementara kelompok-kelompok Islam mengancam akan menuntut Gafatar.

Tapi Gafatar membantah rumor yang melingkupi mereka. Mereka mengaku hanya ingin bertani dengan tenang di tanah milik mereka di Kalimantan.

Dari Jakarta, koresponden Asia Calling Kate Lancaster mencari tahu lebih dalam dan menyusun laporannya untuk Anda.

Setelah rumah mereka dilempari batu dan dibakar beberapa hari lalu, anggota Gafatar di Kalimantan terpaksa mengungsi.

Kritikus mengatakan kelompok ini mengikuti ajaran yang menggabungkan unsur Islam, Kristianitas dan Yahudi.

Ini sebabnya Gafatar kemudian dicap sebagai ‘aliran sesat’, dan itu sebabnya di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, kelompok itu dipandang dengan kecurigaan yang mendalam.

Tapi anggota Gafatar Yanuar mengatakan, kelompoknya hanya mengikuti Pancasila.

“Gafatar berdiri tanggal 14 Agustus 2009, memang visi misinya itukan bagus. Intinya itu  terwujudnya tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara sejahtera yang azasnya Pancasila. Memudarnya nilai-nilai luhur Pancasila itu yang membuat saya mempunyai tujuan yang sama untuk menghimpun sebuah bangsa, negara yang damai dan sejahtera.”

Menteri Dalam Negeri pertama kali membubarkan Gafatar pada 2012.

Tapi dalam beberapa bulan terakhir, ribuan anggota kelompok ini pindah ke lahan milik Gafatar seluas 13,5 hektar di Mempawah, Kalimantan Barat.

Dokter Monica adalah seorang dokter yang tinggal dekat komunitas Gafatar di sana.

Berbicara melalui telepon dari Kalimantan, dia menceritakan bagaimana penduduk setempat melihat Gafatar ketika mereka pertama kali tiba pada Agustus lalu.

“Beberapa warga lokal menganggap kelompok ini tertutup. Dan mereka tidak menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah di desa. Kelompok ini hanya bergaul dengan kelompoknya. Masyarakat curiga pada kelompok ini tapi mereka masih hidup berdampingan dengan damai ... tidak ada konflik,” ungkap Dokter Monica.

Anggota Gafatar Yanuar mengatakan sebelum ketegangan meletus, aktivitas kelompok ini sehari-hari adalah bertani, menanam padi, kangkung dan bunga.

Tapi mereka bisa merasakan ketegangan dengan masyarakat setempat mulai berkembang. Penduduk setempat menuduh kelompok ini menutup diri dan tidak pergi ke Masjid untuk berdoa.

Ketegangan makin meningkat saat pemerintah mulai mempertanyakan izin tinggal Gafatar di sana.

“Ketika kami izin ke kecamatan, pihak kecamatan bilang tidak perlu tertulis, secara lisan saja. Kemarin ketika panas-panasnya isu seperti itu, kami berusaha untuk memberikan pencatatan kami yang kami lakukan dari awal pembukaan lahan, kegiatan sehari-hari apa, itu kami tulis. Akan tetapi sepertinya sudah tidak menjadi hal yang penting atau sesuatu yang tidak penting buat mereka, sudah terlambat dari awal,” kisah Yanuar.

Gafatar menarik perhatian masyarakat secara nasional pada Desember tahun lalu. Saat itu seorang ibu bersama anaknya yang dilaporkan hilang, muncul di komunitas itu dua minggu kemudian. Dan sejak itu mulai bermuculan laporan orang-orang hilang...

Kemudian pekan lalu, polisi mengevakuasi lebih dari seribu anggota Gafatar dan dibawa ke Pontianak, ibukota Kalimantan Barat.

“Mereka memberi kelompok itu ultimatum, ‘mereka harus meninggalkan desa itu dalam 48 jam'. Jadi komunitas itu harus mengemasi barang-barang mereka dan pergi. Sebenarnya, pemerintah memfasilitasi mereka dan menempatkan mereka di barak. Menurut saya ada sekitar 400 orang di barak,” kata Dokter Monica.

Ketika anggota Gafatar sudah pergi, rumah-rumah mereka digeledah, dilempari batu dan dibakar oleh warga yang marah.

Dokter Monica mengatakan para anggota Gafatar itu ketakutan tapi tidak punya banyak pilihan selain bekerja sama.

“Mereka mengalami depresi tapi mereka tidak melawan pemerintah. Mereka tertekan dan takut karena diancam. Sebenarnya, mereka bertanya apakah ada kemungkinan untuk mendapatkan suaka.”

Untuk mengevakuasi mereka, tiga kapal Angkatan Laut Indonesia dikirim untuk membawa anggota Gafatar kembali ke kampung halaman mereka di seluruh Indonesia.

Tapi Dokter Monica mengatakan beberapa anggota terlalu takut untuk kembali ke rumah. “Karena mereka tahu kalau di daerah asal, mereka juga tidak diterima. Jadi berbahaya bila mereka kembali ke tempat asalnya.“

Berdasarkan hukum di Indonesia, setiap warga negara harus menganut satu dari enam agama yang diakui negara.

Tapi terlepas dari keyakinan mereka, Rafendi Djamin, direktur eksekutif Human Rights Working Group Indonesia, mengatakan hak dasar mereka sudah dilanggar.

Dan rakyat Indonesia harus menghargai kebebasan beragama. 

“Itulah masalah dalam masyarakat kita. Sekali ada yang dianggap menyimpang, maka seolah-olah Anda punya hak untuk menghancurkan mereka. Itu salah satu hal yang harus dipelajari Indonesia. Ini bukan cara hidup yang benar di negara yang merangkul demokrasi dan hak asasi manusia.”

Anggota Gafatar kini menghadapi masa depan yang tidak pasti. 

Sejak direlokasi mereka dipaksa untuk menjalani apa yang disebut pemerintah sebagai ‘pendidikan ulang soal agama '.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!