Pelatihan bagi para bidan yang diadakan Komite Swedia untuk Afghanistan.

Pelatihan bagi para bidan yang diadakan Komite Swedia untuk Afghanistan.

Perempuan Afghanistan rata-rata melahirkan enam anak dan angka kematian ibu masih tinggi di sana. 

Menurut Organisasi Save the Children, Afghanistan adalah negara terburuk kedua di dunia bagi para ibu. 

Tapi para bidan di sana berkerja keras untuk mengubah kehidupan perempuan menjadi lebih baik. 

Koresponden Asia Calling KBR, Mudassar Shah mengunjungi fasilitas kesehatan di daerah terpencil di Provinsi Nangarhar untuk melihat lebih jauh.

Setiap hari di kota Jalabad, Shah Zaman, yang berusia 11 tahun mengangkut barang para pelanggannya untuk mencari uang. Ibunya meninggal saat melahirkan dia dan tak lama setelah itu, ayahnya menikah lagi.

“Saya berharap ibu saya dibawa ke rumah sakit saat itu. Saya sangat tidak beruntung karena ibu meninggal saat melahirkan saya. Ini tidak akan terjadi bila ibu diperiksa tenaga medis terlatih,” sesal Shah.

Daerah yang terpencil, perang dan konflik internal telah melemahkan ekonomi dan sistem kesehatan masyarakat di daerah itu. Banyak fasilitas kesehatan yang kekurangan tenaga terlatih. Butuh waktu beberapa jam untuk bisa menjangkau fasilitas kesehatan terdekat sehingga para perempuan sulit menjangkaunya tepat waktu. 

Pemerintah bekerja keras untuk mengatasi masalah ini. Mereka melatih lebih dari empat ribu bidan sejak jatuhnya Taliban pada 2002.

Menurut laporan Save the Children tahun 2012, 1 dari 11 perempuan Afghanistan meninggal saat hamil atau melahirkan.  

Tapi ratusan bidan seperti Saliha mengatakan meski angka kematian ibu sudah menurun tapi tetap masih tinggi.

“Cita-cita saya sebenarnya menjadi dokter. Tapi karena kurang biaya saya memilih sekolah bidan selama dua tahun. Di daerah saya tidak ada layanan kesehatan untuk perempuan dan jalan-jalannya juga rusak berat. Akibatnya banyak perempuan hamil meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit,” ungkap Saliha. 

Saliha adalah bidan di rumah sakit di daerah Kama, Provinsi Nangarhar. 

“Para bidan tinggal di fasilitas kesehatan dan menyediakan bantuan medis 24 jam karena pasien bisa datang kapan saja. Kami sepenuh hati dan secara teratur memberikan pelayanan dan ini telah mengurangi angka kematian ibu,” tambahnya.

Langah yang dimulai pemerintah sejak tahun 2002 ini telah menunjukkan penurunan angka kematian ibu secara signifikan.  

Sebuah survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan Afghanistan bersama lembaga lain menunjukan angka kematian ibu menurun tajam. Dari 1600 kematian per 100 ribu kelahiran hidup pada 2002, turun menjadi 327 kematian per 100 ribu kelahiran hidup pada 2010.

Praktisi kesehatan mengatakan perempuan di pedesaan mulai mempercayai layanan kesehatan dan mau pergi ke rumah sakit untuk melahirkan. Di masa lalu, mereka biasanya melahirkan di rumah.

Aasiya adalah rekan Saliha di rumah sakit. Dia sudah bekerja di sini selama delapan tahun terakhir. 

“Rasio kematian anak di daerah terpencil sangat tinggi karena itu program yang fokus pada kebidanan dirintis untuk mengurangi rasio kematian. Perempuan hamil yang biasanya melahirkan di rumah karena punya persepsi yang salah tentang persalinan di rumah sakit. Kami mengadakan sesi pendidikan dan penyadaran kesehatan yang telah membantu mengurangi angka kematian ibu dan anak di daerah ini,” papar Aasiya.

Dokter Mashal adalah penanggung jawab di rumah sakit daerah Kama. Dia mengatakan bila jumlah bidan makin banyak, akan membuat perbedaan besar.

“Perempuan di daerah punya beberapa masalah dan dihadapkan pada layanan kesehatan yang buruk. Ini akan diminimalkan ketika bidan disebar ke fasilitas-fasilitas kesehatan. Sekarang, perempuan lokal senang bila ada bidan yang mendampingi mereka selama kehamilan.” 

Nazia pergi ke rumah sakit untuk melahirkan  ditemani saudara perempuannya.

“Kami sangat berterima kasih kepada paramedis di fasilitas kesehatan ini. Mereka memberi dukungan dan layanan yang lengkap secara gratis kepada orang-orang miskin seperti kami,” kata Nazia.

Meski ada kemajuan yang dicapai, tapi para bidan di Afghanistan mengatakan perjuangan mereka masih panjang.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!