Unjuk rasa memprotes larangan masuk area paling suci di kuil Hindu dan Masjid bagi perempuan India.

Unjuk rasa memprotes larangan masuk area paling suci di kuil Hindu dan Masjid bagi perempuan India. (Foto: Bismillah Geelani)

Larangan bagi perempuan untuk masuk ke area paling suci di kuil Hindu dan Mesjid kembali diperdebatkan di India. 

Larangan ini sebetulnya sudah berlangsung berabad-abad.

Tapi perdebatan kembali muncul karena sebuah kuil Hindu akan memasang mesin pemindai di pintu masuk, sehingga perempuan tak bisa masuk. 

Koresponden Asia Calling KBR, Bismillah Geelani menyusun laporannya untuk Anda.

Di tempat suci Hazrat Nizamuddin New Delhi, sekelompok musisi sedang melantunkan sebuah Qawwali atau lagu Sufi.

Ratusan laki-laki dan perempuan duduk mengelilingi para musisi itu. Terlihat juga sejumlah orang asing. Mereka menyimak dengan takzim lagu dalam bahasa Urdu dan Persia itu. 

Lagu ini untuk memuji Nizamuddin Aulia, seorang tokoh Sufi abad 14 yang dimakamkan di tempat ini.

Hazrat Nizamuddin adalah salah satu tempat suci Sufi yang paling terkenal di dunia dan populer di kalangan Muslim dan non-Muslim.

Pengurus tempat itu, Afzal Nizami, mengatakan tempat itu terbuka untuk semua orang.

“Para sufi datang membawa pesan perdamaian, cinta dan persaudaraan dan konsep ini dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Para Sufi menyebarkan pesan mereka dari tempat seperti ini untuk semua orang. Siapa pun, orang beriman atau ateis selalu diterima di sini,” jelas Nizami.

Siapa pun bisa mengunjungi tempat itu. Tapi area makam sang tokoh Sufi dan dianggap tempat paling suci, hanya boleh dimasuki laki-laki.

Nizami menjelaskan mengapa perempuan tidak boleh ke area itu. “Setiap sistem punya cara dan fungsi sendiri dan di sini begitu aturan yang berlaku dan sudah diterapkan ratusan tahun. Alasan utamanya adalah Islam tidak mengizinkan laki-laki dan perempuan berbaur.”

Praktik membatasi akses perempuan ke tempat-tempat ibadah kemudiaan diikuti Masjid dan kuil-kuil Hindu lainnya. Tapi suara-suara yang memprotes gagasan kuno ini mulai bermunculan.

Perdebatan ini menguat pasca munculnya sebuah pengumuman di Kuil Sabarimala di negara bagian selatan, Kerala.

Kuil itu ingin menyedikan mesin pindai di gerbang kuil untuk memindai umat perempuan yang datang.

Sebagai tradisi selama berabad-abad, hanya perempuan menopause atau yang belum akil balik yang diperbolehkan masuk ke dalam kuil. 

Bharti Pasricha adalah seorang pengacara. Dia mengajukan gugatan terhadap pengurus kuil itu karena membelakukan aturan diskriminatif terhadap perempuan.

“Pengurus kuil  lalu mencuci seluruh kuil untuk memurnikannya dan meributkan soal ini. Itu sangat memalukan. Kami pikir di satu sisi kita diajarkan soal hak atas kesetaraan. Tapi ketika umatnya dari agama yang sama ingin mempraktekan ajarannya, perlakuan ini yang diterima perempuan.”

Pengumuman pengurus kuil itu tahun lalu memicu kampanye perempuan secara online, yang disebut ‘Happy to Bleed’ - menyiratkan kebanggan sebagai perempuan. 

Aktivis seperti Nikita Arora menggunakan pembalut sebagai plakat yang diisi slogan-slogan menentang ketidaksetaraan gender.

“Fungsi tubuh seharusnya tidak boleh menyinggung seseorang. Laki-laki tidak seharus menilai perempuan untuk suatu hal yang terjadi secara alami. Dan kami tidak melihat prasangka semacam ini di tempat lain. Ini saatnya kita menghentikan para pria membuat keputusan bagi perempuan, berdasarkan pada tubuh mereka. Itu tidak adil.”

Kampanye itu tersebar di seluruh negeri dan mereka juga turun ke jalan. Para perempuan mendatangi kuil dan tempat suci menuntut hak untuk beribadah dengan bebas.

Asha Devi yang berusia 55 tahun ikut serta dalam kampanye sejenis awal bulan ini di negara Barat, Maharashtra.

“Ini bentuk ketidakadilan. Mengapa kaum pria boleh masuk tapi perempuan tidak.  Mengapa dibedakan? Kita diciptakan Tuhan yang sama dan menciptakan kita setara. Tapi mengapa para pria mendiskriminasi kami dan menghalangi kami mendapatkan hak-hak kami? Ini tidak boleh terus terjadi.”

Kampanye para perempuan ini membuat masyarakat India terpecah. Dan perdebatan memanas antara kelompok tradisional dan modern di seluruh negeri.

Pemimpin agama Hindu Acharya Ajay Sharma menegaskan ini adalah tradisi tertinggi dan harus ditaati.

“Kami hanya mengikuti tradisi. Laki-laki dan perempuan tidak sama. Mereka berbeda dan masing-masing punya hak yang sudah ditetapkan. Perempuan menikmati hak istimewa dan perlindungan khusus. Tapi mereka tidak bisa mendapatkan semua hak,” tegas Sharma.

Beberapa kelompok perempuan sudah mendekati pengadilan dan mendesak upaya hukum untuk mengakhiri praktik-praktik diskriminatif ini.

Tapi beberapa pihak mengingatkan kalau konfrontasi bisa menciptakan perpecahan lebih besar.

Madhu Kishwar, editor majalah bulanan perempuan Manushi, yakin kalau konsultasi dan kerjasama akan membawa perubahan yang lebih nyata. 

“Tradisi ini akan terus berjalan tapi perubahan tidak bisa dipaksakan dari luar. Itu harus datang dari dalam. Harus ada dialog diantara umat. Jika kita memaksa lewat jalur hukum, lewat kepolisian atau cara lain, kita hanya akan mempersulit perubahan terwujud.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!