Rohit Vemula menjadi simbol protes terhadap penganiayaan kepada komunitas Dalit. (Foto: Bismillah Ge

Rohit Vemula menjadi simbol protes terhadap penganiayaan kepada komunitas Dalit. (Foto: Bismillah Geelani)

Kasus bunuh diri mahasiswa dari kasta Dalit di India selatan menimbulkan protes nasional. 

Ini juga memunculkan kembali perdebatan tentang penderitaan masyarakat Dalit yang lama tertindas.

Seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, diskriminasi dan kekejaman terhadap kaum Dalit kerap terjadi di India tapi sering tidak diakui. 

Kini seruan untuk segera mengakhiri penganiayaan terhadap komunitas ini makin keras disuarakan.

‘Bagi beberapa orang hidup itu adalah kutukan. Kelahiran saya adalah petaka yang paling kejam.’

Kedua kalimat ini tertulis dalam surat bunuh diri Rohit Vemula yang dibuatnya sebelum gantung diri.

Mahasiswa yang sedang mengambil gelar doktor di Universitas Pusat di Hyderabad ini, pekan ini akan berusia 27 tahun.

Dia bercita-cita menjadi penulis sains, seperti Carl Sagan. Tapi tiba-tiba dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Teman-teman sesama mahasiswa sangat terkejut, termasuk Radhika. Dia yakin Rohit terpaksa melakukan langkah ekstrim ini.

“Dia tidak mungkin bunuh diri begitu saja. Ada sesuatu yang memojokkannya dan itu harus segera kita cari tahu. Kami ingin pelakunya dihukum karena mereka layak untuk itu. Dan karena itulah kami berada di sini untuk memprotes sistem yang jelas-jelas sudah tidak melindungi kami lagi,” kata Radhika.

Rohit berasal dari keluarga Dalit. Dia bersama lima mahasiswa Dalit lain dikeluarkan dari kampus setelah diduga terlibat perkelahian dengan kelompok mahasiswa lain, Akhil Bharatiya Vidyarthi Parishad, atau ABVP.

ABVP adalah organisasi mahasiswa yang menginduk pada partai berkuasa, Bharatiya Janata Party, atau BJP.

Para pemimpin BJP, termasuk beberapa menteri di pemerintah pusat, dituduh menekan pihak universitas untuk mengambil tindakan terhadap kelompok Dalit.

“Mereka adalah mahasiswa Dalit generasi pertama yang masuk kampus ini dengan susah payah. Tapi serangan ini terutama datang dari BJP karena Rohit adalah orang Dalit, yang akhirnya mengakhiri hidupnya. Ini bukan bunuh diri; kami menyebutnya pembunuhan yang dilembagakan,” kata Krishna Kumar, aktivis Dalit.

Para mahasiswa dan anggota komunitas Dalit dari seluruh negeri turun ke jalan menuntut pertanggungjawaban.

Setelah protes meluas, pemerintah kemudian memerintahkan penyelidikan atas masalah ini. Tapi BJP menegaskan kalau kasus ini seharusnya tidak dilihat sebagai konflik kasta.

Tapi ini bukanlah satu-satunya kasus.

Setidaknya 20 mahasiswa Dalit bunuh diri di beberapa universitas di India dalam beberapa tahun terakhir.

Sukhdev Thorat, bekas ketua Komisi Pendanaan Universitas mengatakan ada prasangka yang tertanam dalam terhadap Dalit di lembaga pendidikan.

“Faktanya adalah mahasiswa Dalit mengalami berbagai bentuk diskriminasi di perguruan tinggi. Bisa dari sesama mahasiswa, dosen, di dalam kelas, atau dalam hal budaya. Dan semua ini mengarah kepada perpecahan yang mendalam. Dan ketika politik masuk kedalamnya, maka dampaknya sangat buruk.”

Komunitas Dalit, yang sebelumnya dikenal dengan Paria, telah menjadi korban penindasan dalam masyarakat India selama ribuan tahun.

Meski sudah ada aturan yang melindungi orang Dalit dari diskriminasi, situasi di lapangan tidak banyak berubah dalam tujuh dekade setelah India merdeka. 

Apoorvanand adalah profesor sosiologi di Universitas Delhi. Dia memimpin sebuah kajian soal perilaku sosial terhadap Dalit dan menemukan hasil yang agak menyedihkan.

“Anda lihat bias dan prasangka sudah muncul pada tingkat yang sangat dasar, sejak anak-anak. Di sekolah-sekolah, anak-anak menolak makan siang yang dimasak koki Dalit dan seluruh desa bahkan memboikot sekolah-sekolah itu.”

Apoorvanand mengatakan mentalitas ini makin kuat saat anak tumbuh besar. 

“Para Dalit dianggap sebagai ancaman dan menjadi subjek cemoohan dan kecemburuan. Karena kini mereka menempati posisi-posisi yang sudah lama di monopoli kasta yang lebih tinggi,” tambah Apoorvanand.

Setelah perjuangan panjang dan melibatkan kekerasan, Dalit akhirnya mendapat kuota dalam bidang pendidikan dan pekerjaan pada 1990-an.

Meski itu meningkatkan  keterwakilan mereka, tapi tidak serta merta mengangkat status sosial mereka.

Sukhdev Thorat dari Komisi Pendanaan Universitas mengatakan dibutuhkan pendekatan yang lebih serius dan praktis.

Sesuatu seperti yang dilakukan Amerika untuk menghapus rasisme, melalui pelaksanaan pendidikan hak-hak sipil.

“Mereka merancang program studi yang membahas masalah rasisme, seksisme dan warna kulit. Dan ini pelajaran wajib bagi semua pelajar untuk menyadarkan mereka. Dengan cara itu kita bisa membuat siswa menghargai nilai pluralisme dan keragaman di dalam negeri dan menghormatinya,” kata Thorat.

Sampai itu terwujud, tampak jelas kalau 200 juta orang Dalit di India masih harus melalui jalan sulit untuk mencapai martabat dan kehormatan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!