Landani Juma Khan sedang membacakan pengumuman di sebuah pasar di Kota Bamyan, Afghanistan. (Foto: G

Landani Juma Khan sedang membacakan pengumuman di sebuah pasar di Kota Bamyan, Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Bila hampir sebagian besar orang di seluruh dunia mendapatkan berita dari televisi, radio, komputer atau tablet, provinsi di Afghanistan punya cara unik berusia ratusan tahun dan hingga kini masih dipraktekkan. 

Di Kota Bamyan, ada seorang pria pewarta yang menyampaikan berita dan iklan langsung ke warga.

Ghayor Waziri mengikuti perjalanan sang pewarta dan menyusun kisahnya untuk Anda.

Selama berabad-abad, para pewarta ini bertanggung jawab menyampaikan berita dan informasi. Tapi di era serba digital, tradisi ini hampir punah.

Saat ini tidak banyak lagi orang yang menjadi pewarta seperti Juma Khan. Khan sudah menyampaikan berita kepada warga kota Bamyan sejak 1986.

“Waktu muda saya adalah petani yang tinggal di Kabul. Kadang saya juga bekerja sebagai buruh. Tapi tahun 1986, saya pindah ke provinsi Bamyan. Kota ini sangat tua dan pewarta yang tinggal di sana baru saja meninggal. Saya sempat mengeyam bangku sekolah dan bisa baca tulis. Akhirnya saya yang mengambil alih tugas sebagai pewarta itu,” kenangg Khan.

Antara tahun 1940an hingga 50an, ‘Jaar-chi’ atau yang di Eropa dikenal sebagai ‘pewarta’ adalah profesi yang terkenal di Afghanistan. Tapi kini jumlah mereka tinggal sedikit.

Juma Khan tidak pernah menduga akan menjadi pewarta terkenal di kota itu, itu karena suaranya jelas dan keras. 

“Ketika saya mulai menjadi pewarta di Bamyan, profesi ini menjadi satu-satunya cara untuk menyebarkan informasi kepada warga. Setelah menyampaikan berita dan pengumuman lain, seperti acara olahraga, eksekusi dan lainnya... saya jadi terkenal. Saat itu karena kertas belum banyak digunakan, saya harus mengingat semua berita dan pengumuman. Tapi sekarang lebih mudah, dengan menulisnya di kertas dan membacakannya untuk warga.”

Bamyan adalah provinsi pegunungan yang terletak di Afghanistan tengah.

Meski media sudah berkembang di negara itu, tapi karena letaknya yang terpencil, masyarakat Bamyan masih sulit mengakses berita. 

Hanya siaran radio dan televisi nasional yang bisa diterima di Bamyan tapi jam siarnya masih terbatas.

Itu artinya kebanyakan warga kota seperti pemilik toko Zahra Laali, mendapatkan berita atau pengumuman dari Juma Khan yang juga disebut ‘Landani’.

“Saya sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Bamyan dan membuka toko sini. Sebagian besar informasi yang saya dapat soal berbagai hal, seperti berita atau iklan komersial, didapat dari Landani. Menurut saya apa yang dilakukannya sangat penting karena siaran tivi dan radio di sini hanya berlangsung beberapa jam dan banyak yang tidak punya akses untuk mendengarkannya,” jelas Zahra.

Karena pekerjaanya menjadi sumber berita lokal, warga menyebut Juma Khan sebagai ‘Landani’ dalam bahasa Persia, yang artinya ‘Orang London’. Nama ini diberikan karena dia dianggap saingan radio BBC.

Ketika Landani berjalan menyusuri kota, warga mulai keluar rumah untuk mendengarkan berita yang dibawanya. 

“Saat saya mengumumkan sesuatu, semua orang mendengarkan apa yang saya katakan. Mereka ingin tahu apa yang terjadi di provinsi ini. Seperti yang Anda lihat saat mengikuti saya, banyak orang sangat ingin mendengarkan berita,” kata Khan. 

Juma Khan mendapatkan enam hingga 10 berita dan iklan setiap hari, yang sebagian besar berasal dari pemerintah daerah juga dari masyarakat.

Kazim dari bagian media kota Bamyan juga menggunakan jasa Khan untuk menyampaikan pengumuman pemerintah. Menurutnya ini cara yang paling efektif.

“Pengumuman kami hari ini adalah soal kampanye membersihkan kota yang dimulai dalam waktu dekat. Kami juga meminta warga untuk menjaga kota agar tetap bersih. Itu sebabnya saya memakai jasa Landani untuk menyebarkan pengumuman itu. Saya membayar dia saat menyerahkan pengumumannya. Dia sangat terkenal karena orang-orang mau mendengarkan dia,” kata Kazim.

Juma Khan menikmati  pekerjaannya dan akan terus bekerja selama dia bisa.

“Untuk setiap berita atau pengumuman saya mendapat uang sekitar 50 ribu rupiah. Saya sangat senang dengan pekerjaan ini. Tapi belum lama ini kaki dan pinggang saya sakit. Tapi saya akan melakukan pekerjaan ini sampai saya mati.” 

Angka pendidikan warga Bamyan terendah di seluruh Afghanistan. Dan tidak ada satu pun keluarga Khan yang cukup berpendidikan untuk melanjutkan pekerjaannya. Tapi untuk saat ini, Landani masih kuat dan menjadi sumber berita tepercaya di Bamyan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!