Sampul Buku Autobiografi Laxmi. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Sampul Buku Autobiografi Laxmi. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Festival penulis Asia terbesar ke-9 di Jaipur yang berlangsung belum lama ini menarik pengunjung hingga 350 ribu orang

Dan sesi yang menghadirkan penulis transgender India, Laxmi Narayan Tripathi, penuh sesak oleh penonton.

Laxmi adalah artis dan penari bharatnatyam, salah satu tarian klasik India yang populer.

Dia juga adalah transgender pertama yang mewakili Asia Pasifik di PBB.

Koresponden Asia KBR Calling Jasvinder Sehgal berbincang dengannya soal biografinya yang baru saja terbit.

Laxmi sedang bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang transgender.

“Me Hijra–Me Laxmi” adalah judul autobiografinya dalam bahasa Inggris, yang sebelumnya sudah diterbitkan dalam dua bahasa lokal India, Marathi and Gujarati.  

Laxmi mengaku kesulitan menuangkan semua pengalamannya ke dalam buku, terutama bagian terburuk dalam hidupnya seperti saat dia mengalami kekerasan seksual. 

“Saya disiksa oleh sesorang yang dikenal keluarga selama bertahun-tahun. Akhirnya saya punya nyali untuk mengatakan tidak. Anak-anak lelaki yang dekat dengan saya berpikir kalau saya adalah objek seksual. Saya adalah mainan bagi mereka dan itu tidak benar. Inilah diri saya yang sebenarnya. Saya tidak pernah ingin membicarakannya tapi saya sudah melakukannya dengan baik,” ungkap Laxmi.

Laxmi mengatakan autobiografinya berisi kisah tentang cobaan berat yang dialaminya karena memilih menjadi transgender dan perjuangannya menghadapi berbagai rintangan agar komunitasnya diakui.

“Ada transgender, ‘pria trans’, ‘perempuan trans’ dan ini ekspresi gender. Besok bila saya ingin jadi perempuan, maka saya akan jadi perempuan. Itu hak saya dan tidak ada yang bisa menyangkalnya. Tapi untuk itu, saya tidak perlu pergi ke dokter atau siapa pun, karena seseorang bisa memutuskan gender yang diinginkannya. Ya, itu yang dikatakan Mahkamah Agung tapi masih ada masalah di pasal 377.”

Meski India melegalkan transgender sebagai jenis kelamin ketiga, aturan soal sodomi atau pasal 377, masih mengkriminalisasi seks sesama jenis. Aturan ini mengaggap hubungan seks sesama jenis sebagai kejahatan tidak wajar.


Di seluruh negeri, komunitas transgender mendorong hak-hak mereka tapi Laxmi mengkritik sistem kuota untuk menjadi pegawai negeri.

Di India hampir 45 persen dari jatah pegawai negeri diberikan pada orang-orang dari kasta rendah, dan kebijakan ini banyak ditentang generasi muda.

“Saya tidak percaya pada sistem kuota, kasta, atau warna kulit. Bagi saya jika saya punya kemampuan untuk menyentuh langit ketujuh, saya akan melakukannya. Tapi saya ingin kesempatan dan hak yang sama, dengan cara yang bermartabat,” kata Laxmi.

Sesi berakhir dan saatnya untuk bertemu sang penulis.

Ada banyak pengunjung yang membeli bukunya dan sedang menunggu giliran mendapatkan tanda tangan Laxmi.

“Setelah mendengarkan sesinya, saya pikir membeli bukunya adalah keputusan yang bagus dan saya yakin akan menikmatinya. Saya tidak pernah melihat komunitas transgender sebagai komunitas yang berbeda dari masyarakat lain,” kata Maitri Soorma salah satu yang ingin mendapatkan tanda tangannya.

Dan sekarang giliran saya untuk berbicara dengan transgender flamboyan ini.

Dia sangat senang bertemu pembaca yang menghargai dia.

“Biarkan orang membacanya dan memahaminya. Dunia harus bersikap dan saya sudah melakukan peran saya,” kata Laxmi.

Tapi Laxmi juga mengatakan harus ada perubahan besar untuk melawan diskriminasi dan tantangan hukum serta sosial yang dihadapi transgender di seluruh dunia.

“Di mana-mana sama. Di Pakistan kami dikenal sebagai Sarai Khwaja, di Nepal kita dikenal sebagai Metis, atau waria di Indonesia. Dimana-mana ada stigma dan diskriminasi karena hilangnya budaya asli. Penjajahanlah yang membawa perubahan perspektif yang menyeluruh terhadap masyarakat.”

Memperbaiki kehidupan komunitas transgender di India bukalah perkara mudah.

Tapi lewat buku Laxmi kita akan mendengar kisah mereka dan mendorong masyarakat membuat perubahan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!