Penenun Afghanistan Mulai Awal yang Baru di Swedia

Orang Swedia menggambar pola khas tradisionalnya di atas kertas, sementara anak-anak Afghanistan membuat pola sesuai tradisi mereka. Lalu dipotong dan digabungkan.

Rabu, 03 Jan 2018 11:08 WIB

Abedin Mohammedi dan Anna Forsberg. (Foto: Ric Wasserman)

Abedin Mohammedi dan Anna Forsberg. (Foto: Ric Wasserman)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Eropa saat ini menghadapi krisis pengungsi karena tengah berjuang mengatasi arus masuk orang-orang yang melarikan diri dari konflik.

Pada 2015 saja, lebih dari 160 ribu pengungsi tiba di Swedia. Empat puluh ribu di antaranya masih belum tahu apakah akan diizinkan tinggal di negara ini atau tidak.

Budaya Afghanistan dan Swedia sangat berbeda. Bagi pencari suaka Afghanistan yang tiba di Swedia yang dingin, transisi tidak selalu mudah.

Tapi seperti yang dilaporkan Ric Wasserman dari Stockholm, sebuah proyek baru sedang digarap untuk membantu para pengungsi.

Sebuah ruang pamer sekaligus ruang kerja yang sesak di Stockholm penuh dengan desain tekstil. Pola Afghanistan dan Swedia bergabung menciptakan kreasi baru dan unik.

Ini adalah tahap pertama dari proyek Kerajinan dan Integrasi. Ini sebuah inisiatif yang menyatukan pengrajin permadani dan tekstil Afghanistan muda yang baru datang dengan desainer dan pakar permadani Swedia.

“Kita seharusnya bekerja sama dengan orang-orang muda yang datang ke Swedia. Mereka membawa banyak pengetahuan dari negara asal dan bisa mengajarkan tentang pola, tradisi, dan teknik,” jelas Anna Forsberg, direktur proyek ini. 

Dia melihat banyak potensi yang belum dimanfaatkan. Para pengungsi muda telah membawa serta keterampilan luar biasa dalam tradisi menenun Afghanistan yang sudah berusia beberapa abad.

Anna mengatakan ini adalah kesempatan besar untuk pengembangan seni. Dia ingin membangun pertukaran budaya dua arah dan bisnis yang berkembang.

“Ketika begitu banyak pengungsi datang ke Swedia pada tahun 2015, saya pikir mungkin saya juga harus melakukan sesuatu. Dan ini sesuatu yang ada kaitannya dengan tekstil dan desain,” katanya.

Ada 35 ribu anak dan remaja yang tidak didampingi mencari suaka di Swedia tahun 2015. Setengah dari mereka adalah anak laki-laki dari Afghanistan.

Banyak yang berpendidikan rendah. Tapi beberapa di antaranya adalah pengrajin tekstil dan permadani yang berbakat.

Kembali ke tokonya, Anna menunjukkan bagaimana cara menggunakan alat tenun Swedia kepada Abedin Mohammedi.

Abedin yang tiba di Swedia dua tahun lalu kini berusia 18 tahun. Dia sudah terlibat dalam Proyek Kerajinan dan Integrasi ini selama enam bulan.

Saat masih tinggal di Afghanistan, Abedin duduk di samping ibunya di lantai dapur dan belajar membuat permadani sejak usia sebelas tahun.

Dengan susah payah dia bisa menguasai alat tenun Swedia dan yakin bisa menenun dalam lima menit.

Tapi dia tidak yakin ingin menggunakannya. Membuat permadani dengan tangan sangat memakan waktu. 

“Saya tahu cara membuat karpet Afghanistan dan itu sangat membosankan. Saat masih kecil, saya bisa membuat satu permadani selama tiga sampai lima bulan,” jelas Abedin.

Tapi Anna baru saja memesan alat tenun dari Afghanistan. Dan ketika Abedin mendengarnya, dia tercerahkan. Itu adalah sesuatu yang dia kenal.

“Saya bisa melakukannya. Jika mereka mendapatkan alat tenun Afghanistan, saya bisa mengajarkan orang lain.”

Stina Lanneskog adalah perancang dan pengembang konsep tekstil dan mitra Anna dalam proyek ini.

Dia mengatakan orang-orang seperti Abedin mungkin akan mengejutkan diri mereka sendiri. 

“Saya bisa mengajari mereka melalui proses desain dan menjadi kreatif sehingga Anda bisa melakukan lebih dari yang Anda tahu.”

Stina menjelaskan mereka memulai proses kreatif dengan sebuah eksperimen; Orang Swedia menggambar pola khas tradisional Swedia di atas kertas, sementara anak-anak Afghanistan membuat pola sesuai tradisi mereka. Kemudian mereka memotongnya dan menggabungkannya.

“Setiap orang punya bentuk sendiri dan kemudian bersama-sama, kami meletakkannya di atas kertas hitam ini. Ini cara yang cepat dan cukup visual untuk melihat bagaimana hasilnya,” jelas Stina. 

Pada peluncuran proyek itu, saya melihat orang-orang memperhatikan kain-kain hasil perpaduan Afghanistan Swedia. Mereka tampak sangat bingung. 

“Perpaduan ini bukan sesuatu yang Anda pahami. Anda tahu tapi tidak yakin di mana melihatnya. Jadi seperti tahu tapi tidak tahu,” kata Stina.

Itulah idenya, menciptakan desain yang sama sekali baru, yang mencakup dua budaya yang sangat berbeda.

Abedin terlihat cukup bangga melihat hasil karyanya dinikmati masyakarat umum.

“Saya sangat senang bisa menunjukkan kepada masyarakat bagaimana kami bekerja sama untuk membuat desain ini. Ini terasa hebat.”

Jauh dari keluarga dan dikelilingi oleh bahasa serta budaya baru, Abedin menghadapi banyak tantangan sejak tiba di negara ini. Meski begitu dia berharap akan diizinkan tinggal di sini. 

“Swedia adalah negara yang baik. Ada kebebasan bergerak sehingga saya bisa bersekolah. Saya bisa bekerja. Sangat bagus bila saya tinggal di sini,” harap Abedin.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Pemilihan umum 2019 memang masih satu tahun lagi. Namun hingar bingar mengenai pesta akbar demokrasi m ilik rakyat Indonesia ini sudah mulai terasa saat ini.