Penulis Perempuan dari Daerah Konflik Bicara di Festival Sastra Jaipur

Mereka berasal dari Bangladesh, India dan Kosovo.

Senin, 30 Jan 2017 12:50 WIB

Sesi perempuan dari daerah konflik di Festival Sastra Jaipur. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Sesi perempuan dari daerah konflik di Festival Sastra Jaipur. (Foto: Jasvinder Sehgal)



Konflik dan perang membawa dampak pada perempuan dan anak peremuan dalam bentuk yang lebih spesifik; mengalami trauma, kekerasan dan keberanian yang kadang tidak terdengar.

Dari Festival Sastra Jaipur India, Jasvinder Sehgal, mendengar penulis perempuan dari Bangladesh, India dan Kosovo bicara soal bagaimana rasanya menjadi perempuan dari wilayah konflik.

Sejak 1994, penulis asal Bangladesh, Tasleema Nasreen, harus tinggal di pengasingan karena ancaman fundamentalis Islam.

Hari ini dia hadir dalam Festival Sastra Jaipur, di mana ratusan orang berkumpul untuk mendengarkan Tasleema membacakan memoarnya yang berjudul ‘Exile’.

“Seperti yang Anda tahu, karena saya tidak merasa aman saya harus meninggalkan negara saya. Saya melihat berapa banyak penulis dan penulis sekuler dibunuh di Bangladesh. Menurut saya ini harus segera dihentikan,” kata Tasleema.

Tasleema dikenal karena tulisan feminisnya yang kuat dan kritik agamanya yang tak kenal takut.

Dia pertama kali mulai menulis pada usia 13 tahun dan sampai hari ini dia telah menerbitkan lebih dari 40 buku. 


Tapi di dalam negeri karya Tasleema dilarang dan masuk daftar hitam dan bahkan ada beberapa fatwa yang menyerukan kematiannya. Namun ini tidak menghentikan Tasleema untuk menyuarakan pandangannya.

“Saya percaya pada satu dunia karena saya tidak percaya pada nasionalisme. Saya percaya pada humanisme. Saya percaya pada rasionalisme. Saya percaya pada hak dan kebebasan,” ujar Tasleema.

Shazia Omar adalah penulis lain dari Bangladesh yang juga sangat menyadari keterbatasan di negara itu.

Dalam beberapa tahun ini puluhan penulis, blogger dan penerbit di Bangladesh diserang  ekstrimis Islam atau yang disebut Shazia sebagai mushaidis.

“Kenyataannya di negara itu sangat sulit untuk menulis. Dalam dua tahun terakhir ada 30 penulis dibacok sampai mati oleh Mushaidis. Semuanya laki-laki. Itu mungkin karena penulis perempuan tidak banyak,” kata Shazia. 

“Saya yakin gerakan Islamisasi yang radikal ini harus dihentikan dengan membuat dialog tentang keberagaman keyakinan dan cara-cara yang berbeda untuk mengekspresikan Islam.”

Shazia, salah satu dari sedikit penulis fiksi berbahasa Inggris asal Bangladesh, telah menulis soal penyalahgunaan obat-obatan dan Islam. Tapi menulis di Bangladesh makin sulit kata dia.

“Saya merasa takut. Saya berkali-kali bertanya pada diri sendiri haruskah menulis buku yang mengeksplorasi dimensi yang berbeda dari Islam ketika masalah ini adalah topik sensitif di negara ini? Dan kadang saya berpikir mungkin sebaiknya tidak,” tutur Shazia. 

“Mengapa saya harus membahayakan diri saya? Tapi pada akhirnya, sebagai penulis saya menemukan kalau saya tidak bisa menulis buku yang tidak membahas topik yang ingin saya lakukan.”


Untuk kali pertama, tahun ini Festival Sastra Jaipur menghadirkan perempuan dari daerah konflik.

Mereka bicara soal tantangan unik dan perspektif perempuan yang menghadapi konflik dan perang.

Seperti yang dialami aktivis Ruchira Gupta yang berbagi pengalamannya bekerja di Kosovo untuk PBB.

“Kekerasan yang saya lihat akibat konflik sangat memilukan. Terjadi perdagangan perempuan. Para prajurit yang ditempatkan di satu tempat bukannya menjaga warga malah menggunakan perempuan lokal untuk melayani kebutuhan seks mereka,” papar Gupta.  

“Rumah-rumah bordil dibuka di lingkungan perumahan untuk memenuhi kebutuhan tentara yang jumlahnya terus meningkat dari berbagai negara.”

Ruchira berperan penting dalam pengesahan resolusi 1325 di Dewan Keamanan PBB, yang membahas dampak dari perang dan konflik terhadap perempuan dan anak perempuan.

Penyair Kashmir, Naseem Shafaei, penyair pertama asal Kashmir yang meraih penghargaan bergengsi Sahitya Akadmee, juga bergabung dalam diskusi ini.

Naseem menulis tentang suasana bergolak Kashmir yang merupakan salah satu zona militer di dunia dari perspektif perempuan. Terutama dampaknya pada kehidupan keluarganya.

“Saat itu sangat sulit karena suami saya yang seorang jurnalis diculik dan ditembak lima kali di bagian perut dan bahu. Pengobatan suami saya butuh waktu bertahun-tahun dan saya harus pindah dari Kashmir ke Delhi untuk pengobatannya. Kami berhasil keluar dari periode trauma itu; Tuhan sangat baik pada saya,” kisah Naseem.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Penggantian Ketua DPR Dinilai Tak Perlu Tergesa-gesa

  • PKB: Keputusan Golkar Terkait Posisi Setnov Menyandera DPR
  • Mendagri: Usulan Tim Gubernur Anies Melebihi Kapasitas yang Diatur Undang-undang
  • Golkar Resmi Dukung Khofifah-Emil di Pilkada Jatim