Film Tentang Geng Perempuan Raih Penghargaan Festival Film Mindanao

Panon juga menyoroti penyebab utama kejahatan remaja, proses pengadilan dan juga rehabilitasi yang dijalani pelaku.

Jumat, 20 Jan 2017 17:29 WIB

Foto: Mariel Gardiola

Foto: Mariel Gardiola

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


Sebuah film yang menampilkan kisah gadis jalanan meraih penghargaan untuk aktris terbaik di Festival Film Mindanao di Davao, Filipina selatan.

Film berjudul Panon ini terinspirasi kejadian nyata di tahun 2002 ketika terjadi pertikaian berdarah antargeng perempuan. Panon juga menyoroti penyebab utama kejahatan remaja, proses pengadilan dan juga rehabilitasi yang dijalani pelaku.  

Madonna Virola dan Mariel Gardiola menyusun laporan lengkapnya dari Kota Davao.

Ini adalah Kakay, tokoh utama dalam film berjudul Panon.

Dia berusia 17 tahun saat ditusuk dan diserang oleh Inchik, seorang anggota geng anak jalanan rivalnya, War Shock.

Dalam film ini Kakay meminta maaf pada ibu korban. “Maafkan saya atas perbuatan saya kepada putri Anda. Saya akan membayarnya dengan tinggal di penjara dalam waktu yang lama hingga Anda memaafkan saya. Saya berharap Ibu mau memaafkan saya.”

Ini adalah salah satu adegan utama dari film Panon yang berdurasi 20 menit. Film ini diputar bulan lalu di Festival Film Mindanao ke-12, yang diadakan di kampung halaman Presiden Duterte, kota Davao.

Karakter Kakay dibuat berdasarkan kejadian nyata meski namanya asli tokohnya disamarkan. 

Di awal tahun 1999 hingga 2000, geng jalanan yang kebanyakan anggotanya anak-anak, kerap terlibat bentrok di Davao.

Pekerja sosial bernama Carla Canarias adalah pendamping tokoh utama dalam kehidupan nyata. Menurutnya jika kita menggali lebih dalam soal kejahatan remaja, aksi kekerasan akan menimbulkan kekerasan lainnya. 

“Saya dengar kalau dia sering digantung terbalik dalam sebuah karung dan dipukuli. Saya pertama kali bertemu dia di pemakaman saudara laki-lakinya yang juga korban perang antargeng,” kisah Carla. 

“Kakay kemudian mencari pembunuh itu dan terlibat dalam geng perempuan. Dia berhasil selamat setelah ditusuk dan hampir mati dalam sebuah kerusuhan. Selain itu saat menjadi anggota geng dia jadi korban kekerasan seksual.”  

Pemeran utama perempuan film itu adalah Laura Parapina yang berperan sebagai Kakay. Dia meraih penghargaan sebagai aktris terbaik dalam festival film yang tahun ini mengambil tema ‘Cinema of Change.’

Saat tumbuh besar, Laura punya pengalaman yang sama dengan anggota geng.  Kebanyakan orang katanya sering tidak mau memahami mengapa kaum muda terlibat aksi kejahatan. 

“Mereka tidak paham mengapa kami jadi seperti ini. Saya berharap mereka tidak menghakimi kami karena itu menyakitkan. Kaum muda seperti kami menganggap pandangan negatif ini sebagai tantangan. Tunjukkan kalau orang-orang itu salah dan masa depan cerah menanti kita,” tutur Laura. 

Dan inilah salah satu pesan penting dari film Panon kata Joyce Penales dari Pusat Hak Anak Tambayan. Ini adalah lembaga swadaya masyarakat yang terlibat dalam produksi film ini.

“Pertama kami mengkonsep film lalu menulis naskah dan mencari para pemain. Setelah itu kami bertemu dengan para pemain dan bahkan anggota geng asli termasuk tokoh Kakay. Mereka sangat mendukung film ini,” jelas Penales.

Para pembuat film juga berhati-hati dan melindungi anak-anak yang terlibat dalam film. Termasuk tidak mengungkap identitas asli para tokoh dan tidak melibatkan anak-anak dalam adegan yang sensitif.

Dalam kehidupan nyata, Kakay dibebaskan setelah tiga tahun dipenjara. Ini sesuai UU Peradilan dan Kesejahteraan Anak tahun 2006 yang menjunjung tinggi hak anak.

Tapi itu setelah berbulan-bulan konseling intensif serta pertemuan dengan para pekerja sosial, polisi dan ibu korban. Ini bagian dari proses keadilan restoratif yang merupakan kerangka kerja menangani peradilan remaja dimana anak dan remaja menjadi pelaku kejahatan di Filipina.

Pekerja sosial Carla Canarias melihat perbuatan kaum muda mengindikasikan masalah sosial yang lebih besar.

“Seperti yang sering kami katakan di Tambayan, anak-anak mencerminkan masalah yang lebih besar di masyarakat. Mereka bukan alasan. Mereka hanya korban dari kekurangan kita sebagai pengemban tugas dan pemerintah. Apakah kita punya program, layanan, atau kesempatan untuk mereka? Dan apakah program ini menjangkau mereka?” kata Carla.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Perpanjangan Pansus KPK Boroskan Duit Negara

  • Saksi Ahli Novanto Sebut KPK Terlalu Dini Tetapkan Tersangka
  • Densus Antikorupsi Polri Ditargetkan Balikan Uang Negara 900 Miliar Lebih
  • Pemkot Medan Ambil Alih Pasar Pringgan