Ho Chi Minh City. (Foto: Lien Hoang)

Ho Chi Minh City. (Foto: Lien Hoang)

Vietnam telah melalui jalan panjang sejak ledakan bisnis perumahan beberapa tahun silam.

Kini masyarakat sudah bisa lagi membeli kondominium, terutama sejak ada aturan baru yang membuka pasar perumahan bagi warga asing. 

Koresponden Asia Calling KBR, Lien Hoang menyusun kisahnya dari Ho Chi Minh City.

Vietnam berharap makin banyak orang seperti Haig Conolly. 

Warga Australia ini bersama istrinya adalah warga asing pertama yang membeli rumah di Vietnam berdasarkan UU perumahan baru yang berlaku beberapa bulan lalu.

Anggota Parlemen mendorong UU itu sebagai cara untuk menarik masuknya orang asing dan mendongkrak pasar perumahan.

“Kemana pun kami pergi, kami selalu dibantu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kualitas produk sudah meningkat sesuai standar internasional,” ungkpa Conolly. 

Tapi ini bukan berarti transaksi selesai. 

Meski aturan yang menguntungkan warga asing ini dibuat beberapa bulan lalu, tapi seperti yang digambarkan Conolly, para pembeli masih bingung dengan detail kontrak. Terutama terkait hak milik dan kemauan bank untuk menyetujui pinjaman.  

“Menurut saya tantangan dan rasa frustasi adalah bagian dari pasar di negara berkembang. Maka yang Anda harus lakukan adalah mengikuti arus. Jika tantangan ini menganggu Anda, maka Anda berada di tempat yang salah. Itu kenyataannya,” katanya.

Banyak orang asing yang mengikuti pendekatan Conolly ini. Mereka mau melewati semua kesulitan investasi di Vietnam karena pada akhirnya mereka akan mendapat keuntungan. 

Salah satu kesulitan terbesar yang dikeluhkan warga asing adalah Vietnam belum punya panduan soal cara menggunakan UU properti baru ini.

Chau Ta, adalah konsultan hukum di SC Capital, yang berinvestasi di bidang perumahan. Menurutnya ini menciptakan kebingungan saat pembeli menyerahkan dokumen ke pemerintah daerah.

“Misalnya ada UU yang membolehkan orang asing punya properti. Tapi aturan pelaksananya belum keluar. Hal ini baik sekaligus buruk. Baik, karena ini memberi kewenangan pada pemerintah daerah untuk mengartikan aturan itu dan pelaksanaannya di daerahnya. Tapi sisi buruknya, mereka bisa mempersulit para investor terkait dokumen dan lainnya,” kata Chau Ta. 

David Lim, seorang pengacara properti di ZICOlaw yakin kesulitan ini akan teratasi karena warga asing sudah lama tertarik dengan pasar perumahan di Vietnam. 

“Menurut saya ada banyak permintaan yang belum terungkap. Orang asing baru diizinkan membeli properti sejak 1 Juli 2015 lalu. Dan pada saat yang sama, kita baru saja keluar dari krisis keuangan. Jadi pembeli belum mau buru-buru untuk membeli properti, meski ada banyak yang berminat. Jadi menurut saya dengan melonggarkan aturan dan membuka pasar, Anda akan mulai melihat lebih banyak transaksi. “

Orang asing membeli properti untuk digunakan sendiri atau sebagai investasi skala besar.

Vietnam dianggap negara yang lebih stabil untuk berinvestasi, dibandingkan dengan Thailand dan Myanmar yang situasi politiknya kerap berubah  dan ketidakpastian mata uang di Malaysia dan Indonesia. 

“Beberapa masalah terkait politik dan ekonomi terjadi di kawasan yang menimbulkan  ketidakstabilan di beberapa negara tetangga ASEAN. Tapi di Vietnam, kita lihat ada perubahan aturan yang membuat Vietnam lebih menarik bagi investasi asing. Vietnam juga ikut menandatangani perjanjian dagang luar negeri. Ini semuanya menunjukkan kalau Vietnam punya peluang yang bagus,” kata David Lim.

Untuk bisa memaksimalkan keuntungan dari kepentingan asing ini, Vietnam harus menyederhanakan proses transaksi, kata Tran Nguyen, Direktur Jen Capital investor.

“Saran saya harus dibuat pengurusan satu atap bagi orang asing yang ingin membeli properti di Vietnam. Dilengkapi penjelasan yang lengkap soal apa yang harus mereka lakukan dan dokumen apa yang harus disiapkan. Sehingga sebelum membeli, mereka sudah tahu apa saja yang harus disiapkan.”

Nguyen menambahkan jika Vietnam bisa membuat proses pembelian lebih mudah maka negara itu akan menjadi tempat yang sangat "menarik" untuk berinvestasi.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!