Tugu peringatan kuburan massal korban Topan Haiyan di Provinsi Leyte Filipina. (Foto: Madonna Virola

Tugu peringatan kuburan massal korban Topan Haiyan di Provinsi Leyte Filipina. (Foto: Madonna Virola)

Dua tahun berlalu sejak topan Haiyan meluluhlantakkan Fipina dan menewaskan ribuan orang.

Sebagai upaya bangkit dari keterpurukan, Asosiasi Teater Edukasi Filipina atau PETA membantu menyembuhkan trauma masyarakat lewat teater.

Program PETA ‘Lingap Sining’ atau Menjaga Hati Lewat Seni melibatkan komunitas, pelajar, guru dan orangtua di daerah yang paling parah terdampak di bagian timur Filipina. 

Madonna Virola berbincang dengan orang-orang yang terlibat dalam teater itu di Palo Provinsi Leyte.

Saya melewati pemakaman massal tempat para korban topan Haiyan dimakamkan.

Norlyn Boco yang berusia 16 tahun adalah korban selamat di daerah Visayas.

8 November 2013 pagi adalah hari naas itu. Masyarakat berpikir itu adalah topan biasa dan tidak paham apa itu gelombang badai. 

Norlyn mengingat kembali detik-detik saat topan terjadi.

“Rumah kami yang terletak di pinggir jalan tersapu ombak besar. Akibatnya keluarga kami tercerai berai. Saya diselamatkan kayu-kayu dari pohon dan rumah, tempat saya berpegangan dan menelan banyak air laut. Saya menangis keras sekali. Saya kehilangan harapan. Saya berdoa sambil berjuang hidup di tengah-tengah air. Satu saudara saya meninggal.”

Dengan dana LSM asal Jerman, Terres de Homes, Asosiasi Teater Edukasi Filipina atau PETA masuk ke daerah terdampak untuk mendampingi korban selamat. Mereka mengadakan pelatihan teater beberapa pekan setelah topan melanda. 

Michelle Calinawan, adalah anggota Organisasi Seni dan Budaya Palo, kelompok teater lokal menjelaskan cara kerja mereka.

“Rumah kami tersapu bersih sehingga kami terpaksa tinggal di tempat penampungan. Pikiran saya kosong. Yang saya tahu hanya mencari makanan dan kerabat yang hilang. PETA dari Manila meminta kami menggambar dan melakukan berbagai aktivitas untuk mengekspresikan perasaan kami. Kami juga harus berpikir soal masa depan. Setelah itu saya membantu di tempat penampungan. Saya dan korban lain perlahan mulai pulih.”

Yeyin dela Cruz adalah koordinator proyek PETA yang melakukan kampanye kreatif untuk mewujudkan sekolah yang aman dan masyarakat yang tangguh.

“Kami percaya kekuatan teater tidak hanya untuk menghibur tapi juga mengubah masyarakat. Jadi PETA menggunakan teater untuk mendukung korban secara psikososial dan mengurangi resiko bencana.”

Editha Maceda adalah guru senior di sekolah San Joaquin di daerah itu. Dia mengatakan 67 dari 400 siswanya meninggal akibat topan. Termasuk siswa yang menyampaikan pidato perpisahan di kelas 6.

Untuk mengungkapkan pengalamannya, para pelajar menggunakan drama, musik, gerakan dan tulisan kreatif.

“Ini tidak seperti seminar biasa di mana kita hanya duduk. Anak-anak suka bergerak seperti saat mereka mengidentifikasi bahaya dan bencana. Ada foto-foto yang harus mereka pilih. Anak-anak sekarang lebih tangguh. Mereka menyadari apa yang terjadi di sekitar mereka. Seperti ketika terjadi topan maka sinyalnya adalah nomor 2, mereka akan mengingatkan saya dan kami akan pulang ke rumah,” kata Editha.

Yeyin dela Cruz mengatakan memberdayakan masyarakat menghadapi bencana adalah bagian dari upaya penyembuhan. 

Jadi mereka berlatih untuk memahami masalah dan mencari solusinya.

“Sebelum topan, mereka akan menggambarkan ayah mereka yang sibuk minum-minum dan anak-anak sibuk dengan HP dan permainan di komputer. Tapi setelah topan, mereka menggambarkan diri mereka mendengarkan berita, bertanya pada orang tua apa yang bisa mereka bantu dan mengelola sampah agar tidak menyumbat saluran pembuangan,” ungkap Yeyin.

Petugas kesehatan kota Leo Calonia mengatakan drama panggung seperti Padayon, istilah lokal Waray untuk kata ‘melanjutkan’, menawarkan pengalaman belajar yang baik.

Drama itu menggambarkan kisah komunitas imajiner yang hancur akibat topan hebat dan bagaimana komunitas itu bangkit pasca bencana.

Pertunjukkan itu telah ditonton delapan ribu orang sejak tur pertama pada bulan November 2014, katanya. “Ini penyembuhan yang holistik dan partisipatif yang terjadi dalam masyarakat.”

Leo juga bergabung dengan PETA dengan tujuan agar makin banyak korban selamat menjalani pelatihan teater agar bisa pulih.

Sejauh ini ada delapan desa dan 13 sekolah di Provinsi Leyte yang mengambil bagian dalam lokakarya teater.

Sementara itu, pelajar bernama Norlyn sekarang sudah bisa bernyanyi bersama orang lain.

“Sekarang saya punya keberanian untuk berbagi dan menginspirasi orang lain. Dulu saya kerap bersembunyi di bawah selimut agar tidak mendengar suara tetes hujan. Teater membantu saya mengatasi trauma ini.”

Lewat lagu ini, Norlyn ingin memberitahu dunia jika ada kehidupan, maka ada harapan untuk mewujudkan mimpinya.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!