Zahida Kazmi, supir taksi perempuan pertama di Pakistan. (Foto: Naeem Sahoutara)

Zahida Kazmi, supir taksi perempuan pertama di Pakistan. (Foto: Naeem Sahoutara)

Zahida Kazmi mendobrak tabu dalam masyarakat Pakistan yang didominasi kaum pria, dengan menjadi supir taksi perempuan pertama di negara itu.

Karena pekerjaan itu, janda enam anak ini menghadapi berbagai tantangan termasuk dari Taliban.

Belum lama ini dia terpaksa menjual taksinya untuk membayar biaya pengobatan. Tapi kemudian muncul kampanye di Facebook agar Zahida bisa kembali mengemudikan taksi.

Koresponden Asia Calling KBR Naeem Sahoutara pergi ke ibukota Islamabad untuk menyusun kisahnya untuk Anda.

“Saya harus hidup dengan berani seperti singa. Jika hidup saya harus berakhir seperti rubah saya lebih baik mati sebelum itu terjadi.” Ini adalah Zahida Kazmi, perempuan berusia 55 tahun dan supir taksi perempuan pertama di Pakistan.

Zahida pertama kali belajar mengemudi tahun 1980an tapi dia tidak pernah membayangkan akan bekerja sebagai supir.

Tapi setelah suaminya meninggal dan rumahnya dirampas, Zahida pindah ke Rawalpindi, di pinggran ibukota Islamabad. 

“Waktu itu kami bahkan tidak punya makanan. Situasinya sangat sulit. Saya mulai bekerja sebagai supir di sekolah tapi pemilik sekolah menipu dan tidak membayar saya,” kenang Zahida.

Sebuah keluarga Pakistan yang tinggal di Inggris menawarkan tempat tinggal untuknya dan enam anaknya. Tapi Zahida tetap membutuhkan pekerjaan untuk membiayai hidup sehari-hari.

Pada saat itu, bekas Perdana Menteri Pakistan meluncurkan skema pengentasan kemiskinan yang pertama kalinya didanai pemerintah, yaitu tawaran pinjaman untuk membeli taksi. 

Zahida adalah orang pertama yang menerima pinjaman itu dan pada 1992 dia menjadi supir taksi perempuan pertama di negara itu.

Tapi dalam masyarakat Pakistan yang didominasi kaum laki-laki, profesi ini tidak mudah.

“Pagi pertama saya bekerja, dengan memakai burka, saya pergi ke bandara untuk mencari penumpang. Tapi semua orang marah ada seorang perempuan yang bersaing dengan mereka. Selama dua hari saya ke bandara, saya pulang tanpa penumpang. Para supir pria tidak membolehkan saya mengambil penumpang,” kisah Zahida.


Di hari ketiga, mereka akhirnya mengalah, setelah seorang supir membelanya.

Zahida tumbuh besar di daerah pegunungan subur yang masyarakatnya masih konservatif di Barat Laut Pakistan, Abbotabad. Di daerah ini pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden, tewas tahun 2011.

Dalam budaya lokal Pakhtun, perempuan harus memakai jilbab dan tinggal di rumah.

Zahida mengatakan keluarga menolak keputusannya menjadi supir taksi.

“Saudara ipar saya tidak pernah mengunjungi kami lagi setelah kematian suami saya. Saya tinggal bersama ibu dan saudara lelaki saya dan mereka juga tidak suka dengan pekerjaan saya. Tapi saya bersikukuh melakukannya karena saya ingin menghidupi anak-anak saya.”

Zahida menghadapi berbagai protes sekaligus pujian selama menjalani profesinya.

Di siang hari dia membeli makan siang yang murah dan secangkir teh di Pasar Abpara. Pasar ini terletak di dekat Masjid Merah yang terkenal tempat tentara menyerang mahasiswa yang menuntut pelaksanaan Hukum Syariah.

Selama beberapa tahun ini, Zahida bertemu berbagai lapisan masyarakat termasuk Taliban.

“Saya pernah mengantar penumpang ke daerah kesukuan. Beberapa penduduk lokal yang adalah Taliban, menghentikan saya dan bertanya mengapa saya menjadi supir taksi. Mereka mengatakan saya harus tinggal di rumah. Saya lalu menceritakan apa yang terjadi. Kemudian ada warga yang memberikan saya makanan dan mengatakan kalau saya lewat daerah itu harus mampir,” tutur Zahida.

Melawan semua rintangan, Zahida terus bekerja. Tapi delapan bulan lalu, setelah mengalami pendarahan otak, Zahida terpaksa menjual taksinya untuk membiayai perawatannya.

Sejak itu dia tidak bisa lagi bekerja.

Untuk bisa bangkit kembali, Zahida meminta bantuan warga Pakistan agar bisa membeli taksi baru.

“Saya bukan pengemis. Saya hanya memohon ada seseorang yang membelikan saya sebuah mobil van. Saya bisa menggunakannya untuk mengantar dan menjemput anak-anak sekolah. Tolong jangan kasih saya uang, tapi berikan saja saya taksi,” pinta Zahida.

Laman Facebook berjudul 'Supir Taksi Perempuan Pertama Pakistan - Zahida butuh bantuan Anda' dibuat untuk mengumpulkan donasi.

Para pengasuh laman itu memperkirakan mereka butuh uang sekitar 100 juta rupiah untuk membeli taksi baru bagi Zahida.

Dan postingan baru-baru ini menyebut kalau target itu hampir tercapai dengan masuknya sumbangan dari Amerika.

Zahida berharap tidak lama lagi dia bisa kembali mengemudikan taksi. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!