Naseem Khan sedang menenun kain.(Foto: Jasvinder Sehgal)

Naseem Khan sedang menenun kain.(Foto: Jasvinder Sehgal)

Jumlah tenaga kerja perempuan India salah satu yang terendah di dunia.

Menurut sensus terakhir, hanya 33 persen perempuan India yang bekerja. Angka ini jauh dari rata-rata global yaitu 50 persen.

Tapi ada banyak perempuan yang mencari cara-cara baru untuk mencari uang.

Jasvinder Sehgal bertemu sekelompok perempuan di pedesaan Rajasthan, yang merancang pakaian untuk mendapatkan uang.

Suasana masih pagi di Desa Gangwana, yang berjarak 135 kilometer dari kota Jaipur. Para pria di desa itu berangkat ke ladang sambil membawa ternak untuk membajak tanah.  Ini juga waktunya bagi Naseem Khan yang berusia 43 tahun untuk mulai memintal benang.

Selama beberapa bulan ini, Naseem dan dua putrinya telah belajar cara membuat pakaian yang mereka rancang menggunakan tangan.

“Sebelumnya kondisi keuangan saya sangat buruk. Tapi setelah saya belajar merancang pakaian, saya secara teratur mendapat pesanan. Sebelumnya saya hanya tinggal di rumah dan keluarga saya mengalami banyak tekanan. Pekerjaan baru ini telah membuat saya dan keluarga sangat bahagia,” ungkap Naseem.

Naseem bersama dengan 50 perempuan lain di desa itu belajar merancang pakaian dan bersama-sama membentuk sebuah kelompok. Tujuannya agar mereka bisa saling membantu dalam berkreasi.

Semua anggota kelompok sedang sibuk bekerja karena mereka akan berpartisipasi dalam acara peragaan busana.

Bharathi Devi adalah pelatih di kelompok itu. Kehadirannya merupakan inisiatif dari sebuah perusahaan sumber daya yang beroperasi di daerah tersebut.

“Untuk acara itu, mereka telah merancang dan menyiapkan banyak pakaian, yang dibuat dengan tangan alias tanpa mesin. Mereka membuat bordiran indah dengan tangan mereka sendiri. Tidak hanya pakaian, mereka juga menyiapkan karpet, tikar, seprai, handuk dan celana jeans. Mereka juga menjahit baju hangat dari wol. Sekarang setiap perempuan bisa mendapat penghasilan sekitar 1,7 juta rupiah setiap bulan.”

Sebelum pelatihan, Bharathi mengatakan banyak perempuan kesulitan mencari uang tapi kini rancangan mereka menarik banyak perhatian.


Hari ini pakaian mereka diperagakan dalam sebuah peragaan busana di Jaipur.

Ratusan pecinta busana termasuk para desainer, model dan mahasiswa datang untuk melihat karya para perancang busana dari pedesaan.

Diantaranya adalah dua putri Naseem Khan bernama Akshara dan Vaseema, yang juga membuat rancangan sendiri. Vaseema bercerita tentang koleksi mereka.

“Kami membawa kaftan, sari, pakaian, celana palazzo, kemeja, rok panjang dan celana pendek. Semua ini buatan tangan dan dihiasi dengan indah,” jelas Vaseema.

Bagi saudaranya Akshara, berada di peragaan busana ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. “Kami tidak pernah berpikir bahkan bermimpi untuk berpartisipasi dalam peragaan busana. Kita bertemu para model untuk kali pertama. Kami tidak tahu apa-apa soal fesyen dan kami sangat senang berpartisipasi dalam acara ini.”

Para penonton yang hadir di sini bersorak setiap kali para model keluar membawakan hasil rancangan. 

“Saya merasa sangat senang memakai rok panjang ini. Pakaian yang dibuat para gadis ini benar-benar indah. Ketika orang-orang mulai bertepuk tangan, itu memotivasi saya. Barang bermerek biasanya melekat pada para perancang. Tapi hari ini kami mengakui hasil karya orang-orang yang bekerja keras. Menurut saya ini harus sering dilakukan,” ungkap Miss India 2014, Koyal Rana.

Taruna Malviya adalah model yang datang dari Mumbai untuk menghadiri acara ini. Dia mengatakan acara hari ini berbeda dari peragaan busana yang pernah dia ikuti.

“Peragaan busana hari ini berbeda karena melibatkan para gadis desa. Kerja keras mereka membuat pakaian-pakaian ini membuat saya bangga memakainya. Menyiapkan pakaian-pakaian ini butuh proses yang panjang. Para perancang yang menjual rancangan mereka biasanya hanya untuk keuntungan pribadi, tapi ini untuk seluruh desa.”

Dan para perancang muda dari desa ini juga sangat senang dengan hasilnya. Mereka pulang ke rumah dengan banyak pesanan baju baru.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!