Pemerintah Singapura juga bergabung dengan tren kendaraan tanpa supir. (Foto: Lien Hoang)

Pemerintah Singapura juga bergabung dengan tren kendaraan tanpa supir. (Foto: Lien Hoang)

Saat ini sudah ada beberapa kendaraan yang bisa berjalan tanpa dikemudikan manusia, contohnya mobil listrik yang dibuat Tesla dan truk-truk di pertambangan Rio Tinto.

Namun teknologi ini masih baru dan perlu penelitian lebih lanjut.

Meski begitu perusahaan bukanlah satu-satunya pihak yang tertarik dengan teknologi ini.

Saat ini pemerintah Singapura juga bergabung dengan tren kendaraan tanpa supir.

Lien Hoang ikut uji coba mobil tanpa supir ini di Singapura.

Setelah memasang sabuk pengaman di dalam minivan Toyota, langkah berikutnya yang dilakukan bukanlah memutar kunci mobil.

Sebaliknya, seorang insinyur di depan saya, dengan menggunakan layar sentuh, mengetik tujuan kami.

Ketika komputer selesai memetakan rute, mobil mulai bergerak - dengan sendirinya, tanpa supir.

Ini adalah mobil otomatis tanpa supir. Tapi tidak seperti kebanyakan mobil pintar lainnya, mobil ini bukan milik BMW, Google, atau Uber. Mobil ini didanai dari uang pajak warga Singapura.

“Dua tahun lalu saya pikir industri ini baru matang pada 2030. Tapi menurut saya tahun 2025 kita sudah bisa melihat teknologi ini sudah bisa digunakan. Ini perkiraan saya.”

Pang Kin Keong dari Kementerian Transportasi Singapura mengatakan kemajuan penelitian saat ini lebih maju dari yang diperkirakan.

Itu alasan mengapa pemerintah Singapura mulai berinvestasi dalam kendaraan tanpa supir otomatis. Mereka ingin menggunakannya untuk angkutan umum.

Han Boon Siew adalah salah satu insinyur yang bekerja menuju target tahun 2025. Dia berasal dari departemen kendaraan otomatis di Lembaga Ilmu Pengetahuan, Riset dan Teknologi Negara atau A*STAR.

Han mengajak saya ikut mencoba minivan yang punya komputer besar yang memenuhi bagian belakang mobil.

Ada tiga layar berbeda, ditambah sebuah robot kecil di dashboard yang memberitahu kita saat mendekati bundaran, atau bila ada pejalan kaki mendekat.

Di bagian luar mobil tampak seperti ada laser dan kamera di setiap sudut mobil untuk membantu navigasi. Kami berkeliling daerah konstruksi untuk melihat bagaimana mobil ini bereaksi terhadap situasi baru.

“Kendaraan ini harus cukup cerdas saat bergerak dan membuat keputusan yang tepat untuk bergerak dengan aman. Mobil ini juga harus punya persepsi yang sangat baik untuk beradaptasi dengan kondisi cuaca lokal, terutama di Singapura, yang curah hujannya cukup tinggi sepanjang tahun,” jelas Han.

Beberapa warga Singapura sudah membayangkan tentang semua kemungkinan, jika mobil tanpa supir ini menjadi kenyataan.

“Pasti bisa menghemat banyak waktu karena saya bisa melakukan banyak hal daripada menghabiskan waktu mengemudi. Saya mungkin bisa makan atau minum atau tidur siang saat naik mobil. Dalam layanan publik, Anda bisa menghemat banyak uang dalam menggaji pegawai. Ini membuat transportasi umum seperti bus dan taksi lebih nyaman,” kata Ronak Shah, seorang mahasiswa.

Namun, Shah masih punya kekhawatiran. Seperti banyak supir lain dia takut bila harus menyerahkan kontrol kepada komputer.

Han mengerti kekhawatiran itu. Karena itu timnya bekerja untuk menciptakan sebuah kendaraan yang bisa dipercaya masyarakat.

Selama uji coba dia menunjukkan pada saya bagaimana manusia bisa mengambil alih kemudi, mengubah rute, dan mempertahankan kontrol. Tapi dalam beberapa hal, Han mengatakan mobil tanpa supir bisa lebih aman daripada dikemudikan manusia.

“Salah satu aturan lalu lintas Singapura adalah meski tidak ada mobil, Anda harus berhenti untuk memastikan tidak ada mobil, baru berbelok ke kiri. Dan manusia suka mengabaikan aturan ini. Tapi kendaraan tanpa supir punya perilaku mengemudi yang sempurna karena akan mematuhi semua aturan”

Perusahaan swasta juga ikut ambil bagian dalam investasi ini. James Fu adalah direktur operasional untuk Singapura nuTonomy, yang membuat perangkat lunak untuk mobil tanpa supir.

Perusahaan itu berharap bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk menguji teknologinya, sebelum dijual kepada produsen mobil.

Fu mengatakan Singapura butuh teknologi itu karena negara kepulauan itu punya jalan yang terbatas dan tidak punya cukup pekerja di bidang transportasi.

“Singapura sangat kekurangan tenaga kerja. Saya pikir ini mungkin terjadi di banyak kota makmur yang kebayakan warganya pegawai kantoran. Akan sulit untuk menemukan orang yang tepat untuk mengisi kesenjangan itu. Dan populasi Singapura tumbuh sangat cepat. Jadi makin banyak penduduk, butuh sistem transportasi yang lebih baik dan kuat.”

Pang dari Kementerian Transportasi, sepakat Singapura butuh sistem yang kuat untuk menyelesaikan masalah ini.

Dia mengatakan teknologi tanpa supir harus lebih dari sekedar membuat orang beralih dari mobil normal ke mobil tanpa supir.

Mobil pribadi tidak punya masa depan berkelanjutan, katanya, sehingga orang harus memikirkan gambaran yang lebih besar, yaitu untuk angkutan umum.

“Ketika pemerintah Singapura membuat sebuah program misalnya di bidang infrastruktur, kami akan berhasil. Kami bisa memimpin setiap instansi di sektor publik untuk bekerja, fokus pada apa yang ingin dicapai. Menurut saya melihat banyak program di masa lalu, saya yakin kami bisa melakukannya,” kata Pang.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!