Tim sepak bola perempuan Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Tim sepak bola perempuan Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Selama beberapa tahun terakhir, makin banyak perempuan Afghanistan yang mendobrak tabu dengan bermain sepak bola. 

Saat ini ada ratusan pemain bola perempuan tersebar di seluruh negeri dan sangat ingin bergabung dengan tim nasional.

Ghayor Waziri bertemu mereka di ibukota Kabul.

Di dalam stadion Federasi sepak bola Kabul, puluhan pemain sepak bola perempuan sedang melatih kemampuan mereka.  Beberapa permain belum lama ini baru kembali dari pusat pelatihan di Jepang. 

“Dari 2006 hingga sekarang tim sepak bola perempuan nasional Afghanistan sudah melakukan beberapa kali perjalanan ke luar negeri, untuk berlatih dan bertanding. Tim kami juga ikut serta dalam SAFF di Bangladesh dan meraih posisi ketiga di Pakistan pada 2014,” papar Zohra Mihree, Ketua Komite Sepak Bola Perempuan Afghanistan.

Saat ini ada lebih dari seratus pemain sepak bola perempuan berlatih di berbagai klub di seluruh Afghanistan 

Ini lompatan besar. Beberapa tahun lalu hanya ada beberapa orang pemain perempuan di seluruh negeri. Rahima yang berusia 18 tahun sudah bermain bola selama dua tahun. Dia selalu bermimpi bisa bergabung dengan tim nasional dan mimpi ini terwujud.

“Saat saya melihat pemain sepak bola lain di TV, saya berharap bisa ikut bermain satu hari nanti. Kemudian saya dengar kalau Afghanistan punya tim sepak bola perempuan dan mereka menerima anggota baru. Saya sangat senang, dua kali seminggu kami berlatih selama dua jam. Saya berharap satu hari nanti bisa menjadi pemain sepak bola perempuan terbaik di Afghanistan,” ungkap Rahima.    

Di negara konservatif seperti Afghanistan, tidak mudah bagi perempuan untuk bermain sepak bola. Banyak kisah pemain perempuan diancam atau dikritik karena berkiprah di bidang olahraga. 

Khatol Dawer, seorang mahasiswi berusia 23 tahun, adalah bekas pemain dan kini menjadi pelatih. Dia mengakui ada banyak tantangan.  

“Ketika saya mulai bermain bola tahun 2007, saya menghadapi banyak tantangan sosial. Bahkan ketika saya ikut training atau bertanding ke luar negeri, saya merahasiakannya dari kerabat saya. Saya pernah menerima telepon ancaman yang mengatakan kalau saya terus bermain, saya akan menjadi target pemboman.”

Tapi Asadullah, seorang pemain pria di liga lokal di Kabul mendukung perempuan seperti Khatol untuk bermain bola.

“Saya sangat senang mendengar ada perempuan yang tertarik dalam bidang olahraga terutama sepak bola. Saya tidak setuju kalau perempuan harus tinggal di rumah. Atlet perempuan tidak hanya ada di Afghanistan tapi juga negara Islam lain. Bagus bila perempuan juga diberi kesempatan.”

Anggota Federasi Sepak Bola Perempuan Afghanistan mengatakan meski menghadapi masalah, mereka mengalami pencapaian yang signifikan selama tiga tahun terakhir.  

Mendapat berbagai pengakuan tahun lalu dan melonjaknya jumlah perempuan yang bergabung sebagai pemain adalah kemenangan besar.

Shayista Sidiqee, Ketua Asosiasi Wasit Sepak Bola perempuan. “Para perempuan sangat antusias bermain sepak bola dan jumlahnya terus bertambah. Sebelumnya kami kesulitan merekrut perempuan untuk bergabung dalam tim. Penyebabnya masalah sosial dan ancaman. Tapi kini mereka bergabung dengan sukarela.”  

Tapi rintangan tetap ada.

Sebagian besar pemain berhenti bermain setelah mereka menikah. Tapi pemain bernama Massoma Muhammadi mengatakan seharusnya tidak harus seperti itu.

Dia berhasil meyakinkan suaminya untuk membolehkannya bermain lagi.

“Saat bertunangan, pasangan saya tahu kalau saya adalah pemain sepak bola. Dia bilang saya masih bisa bermain sampai hari pernikahan kami. Setelah kami menikah, dia lihat saya sangat suka bermain sepak bola dan saya menyakinkannya dan akhirnya dia membolehkan saya kembali bermain,” kisah Massoma Muhammadi.

Kapten tim sepak bola perempuan Afghanistan, Marina Aslamzada, mengatakan dia harus bekerja keras mempromosikan olahraga ini ke seantero negeri. Caranya dengan membuka klub sepak bola bagi perempuan di seluruh provinsi.

“Kami membuat klub bagi siapa saja yang mau bergabung. Di sana mereka bisa berlatih dan bisa ikut bermain dalam liga sepak bola perempuan. Dan dari liga itu kami akan memilih angota tim nasional.” 

Dan di seluruh negeri, perempuan terus menendang bola dan menciptakan lebih banyak gol.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!