Klinik penyewaan rahim tumbuh subur di India dalam sepuluh tahun terakhir. (Foto: Bismillah Geelani)

Klinik penyewaan rahim tumbuh subur di India dalam sepuluh tahun terakhir. (Foto: Bismillah Geelani)

Pemerintah India melarang orang asing menyewa perempuan di sana sebagai ibu pengganti. Ini dianggap kritikus sebagai kemunduran besar bagi industri penyewaan rahim yang berkembang pesat di negara itu. 

Sebagai tujuan tempat penyewaan rahim yang populer, ribuan orang tanpa anak dari seluruh dunia berbondong-bondong mendatangani klinik-klinik penyewaan rahim di India selama bertahun-tahun.

Tapi para aktivis mengatakan ini adalah bentuk eksploitasi hak-hak perempuan yang kurang beruntung.

Dari New Delhi, Bismillah Geelani merangkum perdebatan kelompok pro dan kontra atas larangan ini.

India merupakan satu sedikit negara yang membolehkan ibu pengganti. Selama beberapa tahun ini negara itu menjadi tujuan populer apa yang beberapa orang sebut sebagai ‘tempat memesan bayi’ atau ‘menyewa rahim’.

Untuk orang asing seperti David Alice, seorang pria gay yang tinggal di Inggris, India menjadi tempat yang bisa memenuhi keinginan mereka untuk punya anak.

David memilih untuk menyewa rahim setelah upayanya untuk mengadopsi anak berulang kali gagal.

“Pasangan sejenis sulit untuk mengadopsi anak. Saya pikir karena saya adalah warga negara Amerika Serikat, akan lebih mudah ternyata tidak. Akhirnya saya tahu bila ingin punya keluarga sendiri saya harus menyewa rahim,” kisah David.

India dikenal sebagai ibukota penyewaan rahim dunia, dimana terdapat hampir tiga ribu klinik penyewaan rahim di seluruh negeri.

Tapi kini tidak lagi…

Pemerintah belum lama ini mengeluarkan larangan bagi orang asing untuk menyewa ibu pengganti. Dan sebuah RUU tengah disiapkan untuk memperpanjang larangan itu bagi seluruh industri penyewaan rahim komersial, yang diperkirakan bernilai lebih dari 27 triliyun rupiah per tahun.

Perkembangan itu mengecewakan para pelaku bisnis penyewaan rahim di negara itu.

Bagi Shabnam yang berusia 28 tahun dan sedang hamil anak kedua dari bisnis penyewaan rahim, ini akan membuatnya kehilangan mata pencaharian.

“Saya menyewakan rahim saya karena suami saya cacat dan tidak bisa bekerja. Bagi saya bisnis ini tidak hanya membantu orang lain tapi juga mengatasi masalah saya. Larangan ini benar-benar tidak bisa dibenarkan; karena kami tidak melakukan hal yang salah. Mereka seharusnya tidak melarang,” kata Shabnam.

Bajrang Singh membuka rumah penyewaan rahim di pinggiran kota Delhi beberapa tahun yang lalu.

“Tugas kami adalah mencari ibu pengganti dan mendampingi mereka. Kami melakukan semua penyelidikan untuk memastikan kalau mereka cocok untuk menjadi ibu pengganti. Kami akan merawat ibu pengganti selama kehamilannya.”

Singh mengatakan sebagai pendatang baru dalam industri ini dia tidak akan terpengaruh. Yang mengalami dampaknya adalah para ibu pengganti.

“Saya lebih khawatir dengan para ibu pengganti karena sebagian besar dari mereka miskin dan berasal dari daerah kumuh. Tapi hanya dengan satu kali menyewakan rahim, mereka mendapatkan lebih banyak, dari apa yang bisa mereka peroleh dalam satu dekade,” kata Singh. 

Karena menggantungkan hidup  pada penyewaan rahim, Shabnam dan Singh menentang larangan ini.

Tapi larangan penyewaan rahim secara komersial sudah lama menjadi tuntutan banyak kelompok perempuan, termasuk Komnas Perempuan India.

Ketuanya Lalita Kumara Mangalam mengatakan penyewaan rahim mengeksploitasi kemiskinan dan melanggar martabat perempuan.

“Tidak ada penjelasan dan persetujuan. Satu-satunya alasan mereka menyewakan rahimnya agar bisa keluar dari kemiskinan. Jadi ini satu-satunya pilihan yang mereka punya. jika Anda melihatnya sebagai pilihan. Dan begitu kata komersial masuk ke dalamnya, maka eksploitasi perempuan miskin dimulai. "

Klinik dan rumah penyewaan rahim kerap dituduh membayar para ibu pengganti dengan harga lebih rendah  dari yang seharusnya dan memperlakukan mereka seperti sandera selama sembilan bulan kehamilan mereka.

Dalam beberapa kasus, orangtua penyewa rahim meninggalkan bayi yang lahir cacat.

Para ahli mengatakan ada masalah etika, sosial dan hukum yang terlibat dalam penyewaan rahim. Tapi larangan langsung hanya akan memperburuk situasi.

Ranjana Kumari, Direktur Pusat Kajian Sosial di New Delhi mengatakan aturan yang ketat dan pelaksanaan yang efektif akan menjadi solusi yang lebih baik.

“Kami terus menunjukkan berbagai masalah dan menyarankan langkah-langkah untuk mengatur bisnis ini. UU yang mengatur seluruh proses, telah tertunda selama bertahun-tahun, karena pemerintah tidak bergerak. Dan sekarang mereka memberlakukan larangan , seperti reaksi spontan. Melarang adalah langkah terburuk yang bisa kita lakukan dan itu tidak pernah memecahkan masalah apapun.”

Dan seiring berlakunya larangan ini, banyak warga India yang khawatir larangan ini hanya akan mendorong pasangan penyewa rahim mencarinya di pasar gelap. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!