Sekelompok anak muda berkeliling Myanmar untuk menyerukan dihentikannya perang sipil dengan lagu-lag

Sekelompok anak muda berkeliling Myanmar untuk menyerukan dihentikannya perang sipil dengan lagu-lagu mereka. (Foto: Phyu Zin Poe)

Pemberontak dari kelompok etnis sudah berperang dengan militer Burma selama enam dekade.

Upaya untuk mengukuhkan perjanjian damai antara kelompok-kelompok yang berperang diwarnai ketidakpercayaan yang mendalam.  

Sejak kemenangan Partai Aung San Suu Kyi, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi atau NLD November lalu, kelompok-kelompok etnis berharap pemerintahan baru punya kesempatan yang lebih baik untuk mengamankan perjanjian damai.

Koresponden Asia Calling KBR, Phyu Zin Poe menyusun laporannya dari Negara Bagian Kayah.

Khuu Phaw, ibu dari empat anak, sedang mengasuh anak-anaknya di tempat pengungsian di perbatasaan Thailand-Burma. Dia sudah tinggal di pengungsian ini selama lebih dari 20 tahun.  Tapi dia masih ingat ketika pasukan pemerintah menyerbu desanya, Loikaw.

“Kami mengumpulkan barang-barang dan lari dari desa. Saya sangat takut dan menangis. Para tentara membakar rumah-rumah dan keluarga kami terpaksa lari ke atas bukit,” kisah Khuu Phaw.

Orangtua Khuu Phaw punya kaitan dengan pejuang revolusioner Karen dan Partai Progresif Nasional Karen. 

Berdiri tahun 1957, kelompok itu berjuang melawan militer pasukan Burma agar bisa mengatur sendiri negara bagian itu.

Seperti warga Karen, banyak kelompok etnis lainnya di negara itu yang mengklaim kalau mereka diperlakukan tidak adil dan tidak mendapatkan pembagian yang adil atas sumber daya alam. Kelompok-kelompok ini ingin otonomi untuk mengurus negara bagiannya.

Ketika tentara menyerang desanya, Khuu Phaw dan keluarganya terpaksa melarikan diri. 

“Kami terpaksa lari dari desa ke desa. Kami sampai ke perbatasan Thailand untuk bersembunyi dari tentara Burma.”

Setelah tiba di Thailand, keluarganya menghadapi masalah lain - bagaimana mendapatkan makanan untuk bertahan hidup.

Khuu mengatakan mereka mengunjungi rumah keluarga mereka di Thailand dan menebang pohon untuk mendapatkan uang.

Kini Khuu Phaw berusia 40 tahun dan sebagian besar hidupnya dihabiskannya di kamp pengungsian. 

Desanya dibakar habis dan kini ditutupi ladang ranjau. Dia mengaku tidak lagi mengenali desanya dan tidak aman untuk kembali ke sana. 

Konflik antara kelompok etnis dan pasukan pemerintah berlangsung selama lebih dari enam dekade.

Ada lebih dari 51 pasukan etnis bersenjata di Burma termasuk delapan etnis utama dan 135 sub etnis.

Setelah Jenderal Nay Win berkuasa tahun 1962 banyak kelompok etnis mengangkat senjata.

Pemerintah Thein Sein menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan beberapa kelompok bersenjata awal tahun ini tapi kelompok bersenjata terbesar menolak ikut tanda tangan.

“Pemerintah harus membuktikan pada kami kalau niat mereka murni. Tapi sayangnya itu tidak seperti yang kami harapkan. Di satu sisi, pemerintah meminta semua kelompok etnis menandatangani kesepakatan damai nasional. Di sisi lain, pasukan pemerintah terus menyerang. Maka sangat sulit untuk mempercayai janji mereka,” papar Shwe Myo Thant, dari Partai Progresif Nasional Karen.

Penerima Hadiah Nobel Aung San Suu Kyi memimpin Partai NLD meraih kemenangan bersejarah pada pemilu Burma November lalu.

Selama kampanye Suu Kyi mengatakan penyelesaian konflik etnis adalah salah satu prioritasnya.

Shwe Myo Thant menyambut baik rencana NLD tapi dia tetap skeptis.

“Pembicaraan soal konflik ini sudah berlangsung lama. Kami sudah membangun kepercayaan dengan juru runding pemerintah. Tapi saat itu NLD tidak terlibat dalam proses perundingan dan mereka tetap menjadi partai oposisi. Akankah NLD mengerti kami? Itu yang kami khawatirkan.” 

Beberapa pemerhati politik mengatakan NLD akan menghadapi tantangan besar saat berhubungan dengan militer Burma.

Tapi Kyaw Htin Aung, seorang aktivis dari Persatuan Asosiasi Kaum Muda Negara Bagian Karen mengatakan NLD sangat dihargai kelompok etnis.

“Sejak 1988 NLD menyatakan rekonsiliasi dan mereka memimpin pembicaraan dengan militer dan kelompok etnis. Kami yakin mereka paham kebutuhan kedua belah pihak dan bisa mencapai perjanjian perdamaian permanen lewat dialog politik,” kata Kyaw Htin Aung. 

Tapi bisakah NLD mencapai target itu? Untuk mencari tahu, Asia Calling sudah menghubungi kantor NLD tapi mereka meminta untuk menelpon kembali.

Asia Caling bahkan mendatangi kantor NLD untuk bertemu salah satu pemimpin NLD, yang bisa menceritakan rencana mereka soal perjanjian genjatan senjata nasional. Tapi kembali, NLD menolak memberikan jawaban konkrit.

Pertempuran antara kelompok etnis dan pasukan pemerintah meningkat pasca pemilu November. Meski begitu, Khuu Phaw berharap solusi akan segera tercapai.

“Saya berharap pemerintah baru bisa mengatasi kelompok bersenjata dan menghentikan perang sipil. Jika pemerintah bisa melakukannya kami bisa pulang. Kami bisa mendapatkan kembali hak-hak kami, Saya tidak mau jadi pengungsi lagi,” harap Khuu Phaw.  

Tidak ada yang benar-benar yakin apakah NLD akan sukses. Tapi bila dilihat situasinya saat ini, tentunya tidak akan mudah. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!