Reynaldo ”Nandy” Pacheco. (Foto: Jason Strother)

Reynaldo ”Nandy” Pacheco. (Foto: Jason Strother)

Angka kepemilikan senjata di Filipina adalah salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.

Sekitar satu setengah juta orang Filipina punya izin membawa senjata. Tapi tingginya angka kejahatan mengungkapkan banyak senjata berada di tangan yang salah. Menurut PBB terjadi delapan ribu lebih kasus bunuh diri setiap tahun.

Banyak orang Filipina yang melihat kepemilikan senjata api sebagai hak budaya dan sejarah mereka.

Beberapa aktivis mencoba menentang industri senjata dan pemerintah yang mendukung kepemilikan senjata.

Koresponden Asia Calling KBR, Jason Strother, menyusun kisah salah seorang penjuang anti-senjata dari Manila untuk Anda.

Di dalam arena menembak yang terletak di lantai dasar sebuah pusat perbelanjaan di Manila, pistol-pistol diisi, pelatuk ditarik dan peluru ditembakkan ke kertas target yang berjarak 10 meter. 

Budaya memiliki senjata di Filipina sudah berjalan beberapa generasi dan ada kaitannya dengan olahraga berburu dan menembak. 

Tapi beberapa orang melihat hubungan langsung antara tradisi ini dan angka kekerasan terkait penggunaan senjata saat ini. 

“Ini terjadi secara nasional. Setiap orang akan bilang begitu pada Anda. Anda bisa dapat senjata dengan mudah.” 

Ini adalah Reynaldo Pacheco, yang biasa dipangil Nandy. Dia mungkin adalah orang di Filipina yang paling vokal mengkritik budaya senjata di negara itu. 

Dia mengundang saya ke rumahnya yang ada di luar ibukota. Setelah melewati kawanan ayam di pintu depan, saya memasuki ruang makan yang sangat luas. Ada patung Bunda Maria di sudut ruangan dan di atas piano ada foto Nandy, istrinya dan keempat anaknya yang sudah dewasa.

Setelah karir panjang sebagai pengacara dan bekerja di PBB, Pacheco, mendirikan kelompok advokasi Gunless Society atau Masyarakat Tanpa Senjata, 25 tahun silam. 

Tahun 1998, dia ikut bertarung sebagai calon wakil presiden, yang mengusung program reformasi dalam kepemilikan senjata, tapi dia kalah. Saat ini usianya sudah 82 tahun tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda melemah...

Dia bercerita salah satu kenangannya awalnya soal kekerasan bersenjata. Saat itu tahun 1942 dan militer Jepang baru saja menyerbu Filipina. Dia, keluarganya, para tetangga, orang Amerika dan tentara lokal dibawah todongan senjata dipaksa meninggalkan rumah. Peristiwa itu dikenal dengan perjalanan mematikan Bataan. 

“Disebelah kiri jalan adalah tentara, baik Amerika maupun Filipina. Di sisi kanan adalah warga sipil. Para tentara Filipina akan memberi kami tanda yang menyiapkan baju biasa dan mereka akan pindah ke sisi kami. Beberapa berhasil tapi kalau ada yang terlihat tentara Jepang akan ditembak,” kisah Pacheco.

Pacheco mengaku mungkin ini yang membuatnya benci senjata. Dan jika Anda ingin tahu alasan begitu banyak orang Filipina menyukai senjata, katanya yang harus Anda lakukan adalah melihat salah satu bekas penjajah negara ini.

“Kami mendapatkannya dari orang Amerika. Kami belajar banyak hal baik dari orang Amerika tapi kami juga belajar dari mereka terutama, ketagihan akan kekerasan, ketagihan terhadap senjata.”

Di kantor kecilnya di rumah, Pacheco, menceritakan kasus pembunuhan pertamanya yang diambil Masyarakat Tanpa Senjata sebagai kasus mereka.

Lewat partai politiknya, dia berhasil mengenalkan beberapa reformasi termasuk melarang membawa senjata saat hari pemilihan umum.

Dia mengatakan tidak mudah untuk menyakinkan anggota legislatif melihat masalah ini seperti dirinya. 

“Batu sandungan terbesar di sini adalah para politisi. Ketika pejabat publik membawa pengawal bersenjata, mereka memberikan kesan yang salah. Ini menjadi simbol status. Saya tidak bisa memahami masyarakat, bagaimana mereka bisa terus memilih orang-orang seperti ini,” lanjut Pacheco.

Ini adalah iklan salah satu pembuat senjata terbesar di Filipina.

Pacheco mengatakan perusahaan-perusahaan ini dan para pendukung politik mereka membuat negara ini lebih berbahaya.

Ernesto Tabujara sepakat kalau Filipina bisa berbahaya dan itu sebabnya masyarakat butuh senjata untuk melindungi diri.

Dia adalah ketua kelompok lobi Peaceful Responsible Owners of Guns atau PRO Gun. Kelompoknya telah mengajak Pacheco berdebat soal budaya punya senjata di negeri ini. 

“Saya menentang klaim kalau ada hubungan langsung antara angka kejahatan dengan kepemilikan senjata. Di Filipina, angka kejahatan tinggi bukan karena kepemilikan senjata. Sebenarnya itu akibat ketidakmampuan penegak hukum menangkap pelaku kejahatan dan teroris yang beroperasi di negara ini,” kata Ernesto.

Tahun lalu UU baru berlaku yang tujuannya untuk mengurangi kekerasan akibat senjata. Tapi UU itu sebenarnya memperpanjang daftar orang-orang yang bisa memiliki beberapa senjata api. 

Tapi ketika Paus Fransiskus berkunjung ke Filipina bulan Januari lalu, kekerasan mereda.

Tapi Paus tidak menyebut soal tingkat kejahatan di negeri itu saat berpidato dalam misa padahal setiap katanya disimak 76 juta orang Filipina penganut Katolik Roma.

Tapi Nandy Pacheco, yang juga seorang Katolik yang taat, mengatakan masyarakat Filipina tidak benar-benar mendengarkan pesan perdamaian Paus.

“Nagara ini menjadi negara yang munafik. Tidak ada cinta, kebenaran, keadilan, rekonsiliasi...negara ini penuh kekerasan.”

Meski tampaknya akan kalah dalam pertarungan, Pacheco masih punya beberapa amunisi. Dia berada di balik RUU yang akan melarang membawa senjata api di tempat umum.

Bahkan jika itu tidak berhasil disahkan jadi UU saat dirinya masih hidup, dia mengaku bangga tidak pernah menyerah.

"Jika itu tidak jadi UU, kesuksesan tidak hanya diukur oleh keberhasilan, tapi kesetiaan. Kesetiaan saya pada perjuangan. Itu yang penting.”

Itu sebabnya Anda tidak penah menyerah?

“Bahkan jika saya mati, saya menganggap sudah melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Saya sudah senang. Itu saja yang bisa saya lakukan.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!