Calon Presiden Rodrigo Duterte (kanan) bersama teman baiknya Butch Chase. (Foto: Butch Chase)

Calon Presiden Rodrigo Duterte (kanan) bersama teman baiknya Butch Chase. (Foto: Butch Chase)

Warga Filipina akan memilih presiden baru pada Mei mendatang. Dari daftar calon presiden yang maju, seorang walikota yang dianggap sombong memimpin puncak jajak pendapat. 

Selain dijuluki ‘Dirty Harry’ karena upayanya memberantas kejahatan di kotanya, Walikota Rodrigo Duterte juga disamakan dengan Donal Trump. 

Dari Manila dan Palawan kita simak laporan yang disusun Jofelle Tesorio dan Ariel Carlos berikut ini.

Ketika Rodrigo Duterte mengadakan aksi bertajuk ‘Mad For Change’, massa meneriakkan namanya.

Walikota Kota Davao yang dianggap sombong ini secara resmi mengumumkan maju dalam pemilihan presiden pada November lalu. 

“Saya tidak menjanjikan surga. Tapi saya menjanjikan hidup yang nyaman. Korupsi dan kriminalitas harus diberantas,” janji Duterte. 

Masuknya Duterte dalam bursa pemilihan presiden membawa perubahan yang nyata.

Tokoh populer seperti Senator Rahmat Poe, Wakil Presiden Jejomar Binay dan bekas Menteri Dalam Negeri Mar Roxas sebelumnya mendominasi jajak pendapat.

Tapi banyak pemilih melihat majunya Duterte merupakan penyegaran, karena dia berbeda dari kandidat lainnya yang berasal dari elit politik. 

Meski  bulan lalu posisinya turun, sebuah survei yang dilakukan Pulse Asia Research November lalu menunjukkan Duterte meraih 34 persen suara, delapan persen lebih tinggi dari saingan terdekatnya.

“Menjadi pengacara yang mengurusi pajak dan caranya menangani penjahat, tidak mengikis karismanya, malah meningkatkannya. Warga Filipina berpikir mungkin kita perlu presiden semacam ini,” jelas pengamat politik Jose Fernandez.

Duterte menjadi Walikota Davao, kota berpenduduk dua juta jiwa, selama 22 tahun. Dia juga pernah menjadi wakil walikota dan anggota Kongres.

Dia dipuji karena berhasil menjadikan kota itu sebagai kota teraman di Filipina. Tapi melalui cara-cara yang kontroversial.

Kelompok Hak Asasi Manusia menuduh dia mendukung sekelompok warga yang main hakim sendiri dengan membunuh penjahat dan pengedar narkoba.

Ada sekitar seribu tersangka pelaku kejahatan yang diduga dieksekusi tanpa pengadilan selama masa jabatannya di kota Davao.

Salah satu teman dekat Duterte, Butch Chase, mengatakan tuduhan itu hanyalah desas-desus.

“Isu HAM ini hanya desas-desus. Sebagai teman, dia tidak pernah bercerita pada saya kalau dia memerintahkan pembunuhan orang atau penjahat. Dia hanya bilang 'jika penjahat tidak mau mendengarkan saya, saya akan memperingatkan dia dan jika dia tidak mau mendengar, dia harus khawatir dengan hidupnya'.”

Banyak yang melihat popularitas Duterte sebagai produk dari gangguan hukum dan ketertiban, dan korupsi endemik.

Sang Walikota dijuluki 'Duterte Harry' karena gaya pengadilan kilatnya. Dalam sebuah aksi, Duterte mengatakan dia benci penjahat.

“Misalnya Anda seorang penjahat, pencuri mobil, penculik, tapi Anda bisa bebas dengan jaminan karena bukti-bukti yang melawan Anda tidak cukup kuat, maka saya akan menculik Anda. Saya akan melakukan persis seperti yang Anda lakukan pada korban,” kecam Duterte.

Dia juga dijuluki Donald Trump dari Filipina karena mengaku mata keranjang dan punya kecenderungan menggunakan kata-kata kasar, bahkan di depan umum.

Meski begitu, citra Duterte tetap bersinar.

Warga Filipina sangat ingin ada seseorang yang bisa mewakili mereka, kata aktivis masyarakat sipil dan lingkungan, Gerthie Anda.

“Saya ingin mengulang apa yang dikatakan sopir taksi pada saya. ‘Saya lebih suka memilih seorang pria yang mulutnya kotor karena dia bicara kotor tapi tidak korupsi. Daripada memilih calon yang rajin ke gereja dan bahasanya halus tapi terkait korupsi.’ Supir taksi itu mewakili suara masyarakat umum.”

Tidak seperti kandidat lainnya, Duterte juga dianggap tidak bisa disuap.

Aktivis Gerthie Anda mengatakan warga Filipina ingin masyarakat yang bebas korupsi dan aman. Dan ini yang ditawarkan Duterte.

“Bagi mereka, kejahatan, main perempuan, bicara kasar, atau pembunuhan adalah hal yang bisa dilupakan selama layanan dasar benar-benar diterapkan. Prioritas saat ini adalah layanan dasar. Selama tidak ada korupsi dan kemiskinan bisa diatasi, bagi mereka itu cukup,” jelas Anda.

Jaren Atrero seorang profesional muda mengaku akan memilih Duterte. Dia percaya walikota itu bisa memenuhi janjinya.

“Dia adalah contoh konkret dari perubahan sejati. Dia selalu menepati janji. Dan warga Filipina rindu perubahan. Dia bukan politisi tradisional dan sangat berbeda. Jika Anda melihat programnnya, sangat sederhana dan mudah dicapai. Saya percaya dialah orangnya,” bela Atrero.

Rakyat Filipina saat ini merasa tidak aman karena tindak kejahatan, terutama di kota-kota.

Duterte menawarkan program yang jelas dalam menangani kriminalitas, satu hal yang tidak dimiliki pesaingnya.

Tapi tidak semua orang, termasuk Ken Chan, terkesan dengan program itu.

“Saya tidak mau dia menjadi presiden karena dia punya banyak karakteristik yang tidak sesuai sebagai pemimpin sejati. Saya tidak suka gaya kepemimpinannya yang menggunakan kekuatan.”

Aktivis Gerthie Anda juga melihat beberapa ancaman. Dia mengatakan warga Filipina seharusnya tidak mudah percaya pada sensasi.

“Kekuatannya ada pada penegakan hukum tapi tetap ada kelemahannya. Menurutnya apa arti pemerintahan bersih? Bagaimana dia akan mengatasi isu-isu keadilan sosial atau reformasi agraria? Masalah lahan masih dominan di negeri ini juga pemanfaatan sumber daya alam. Juga bagaimana cara dia menangani korupsi? "

Tapi bila melihat angkanya saat ini, Rodrigo Duterte mungkin saja bisa terpilih menjadi Presiden Filipina berikutnya ...

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!