Warga Filipina Dijanjikan Perawatan Kesehatan Mental Lengkap

Ini adalah sebuah langkah penting bagi negara di mana penyakit jiwa masih kerap distigma.  

Minggu, 10 Des 2017 18:00 WIB

Senator Rissa Hontiveros. (Foto: Public Relation and Information Bureau Senate of The Philippines)

Senator Rissa Hontiveros. (Foto: Public Relation and Information Bureau Senate of The Philippines)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Dalam sebuah langkah penting, Parlemen Filipina bulan lalu dengan suara bulat mengesahkan sebuah Rancangan Undang-undang yang akan menjadi UU tentang Kesehatan Mental pertama di negara itu.

Ini adalah sebuah langkah penting bagi negara di mana penyakit jiwa masih kerap distigma.

Undang-undang ini akan menciptakan kebijakan kesehatan mental nasional. Sekaligus janji untuk melindungi hak orang-orang yang hidup dengan penyakit jiwa.

Dari Kota Quezon, kita simak laporan selengkapnya yang disusun Madonna Virola berikut ini.

Ketika saya tiba di restoran Van Gogh di Kota Quezon, relawan Cherry delos Santos, memberi saya teh herbal sebagai ucapan selamat datang.

Restoran ini diberi nama seperti pelukis Belanda, Van Gough, yang mencari bantuan atas penyakit jiwanya dengan melukis.

Koki Joven membawa saya ke sebuah taman yang asri di belakang restoran. Dia mengatakan tempat ini adalah surga bagi orang-orang yang mengalami penyakit jiwa.

Joven mengatakan kepada saya sampai tiga tahun yang lalu, hidupnya adalah sebuah perjuangan. Dia hidup dengan bipolar 1, sehingga belajar untuk menerima dirinya sendiri tidaklah mudah.

“Saya tidak memiliki tujuan hidup, jadi saya terjerumus dalam berbagai macam kejahatan, seperti perjudian, narkoba, segalanya. Saya pikir saya tidak bisa berubah, dan tidak akan bisa hidup lebih baik. Saya menjadi kasar, bahkan siap untuk bunuh diri dan membunuh keluarga saya,” kisah Joven.

Selain dia, kakak laki-laki Joven, Jethro, juga punya bipolar.

Karena sedikitnya dukungan yang tersedia dan tempat untuk berbicara secara terbuka tentang penyakit jiwa, Jethro terinspirasi untuk membuka restoran Van Gogh.

Restoran itu dikelola kakak beradik itu. Tempat itu juga berfungsi sebagai tempat yang aman bagi orang-orang yang belajar mengatasi penyakit ini.

Senator Rissa Hontiveros adalah pendukung utama proyek ini. Dia juga bekerja tanpa kenal lelah untuk mendorong RUU Kesehatan Mental melalui parlemen.

Bulan November lalu, dia merayakannya. RUU itu disetujui dengan suara bulat oleh Parlemen. Ketika Presiden Duterte menandatanganinya, itu akan menjadi Undang-undang Kesehatan Mental pertama di negara itu.

Senator Rissa menjelaskan RUU itu akan mengalihkan tanggung jawab atas masalah kesehatan mental kepada pemerintah. Ini mewajibkan Kementerian Kesehatan untuk menyediakan paket perawatan mental yang lengkap bagi semua masyarakat Filipina.

“RUU itu mengamanatkan Kementerian Kesehatan untuk menyediakan layanan ini, terutama di rumah sakit tingkat tiga, regional, danprovinsi. Selain itu Kementerian harus meningkatkan jumlah dan kapasitas penyedia layanan kesehatan hingga ke masyarakat,” jelas Senator Rissa. 

“Bukan hanya psikiater, tapi juga dokter spesialis lainnya, perawat, bidan dan pekerja kesehatan di desa. Mereka diharapkan bisa mendiagnosis tanda-tanda masalah kesehatan mental dan dapat merujuk pasien ke pusat layanan kesehatan.”

Saat ini, ada sekitar 60 pusat kesehatan jiwa di Filipina; dua milik pemerintah dan 58 lainnya milik swasta. Lebih dari setengahnya ada di ibu kota. UU Kesehatan Mental yang baru akan memperluas layanan ini.

Penyakit mental terus meningkat di Filipina. Menurut Kementerian Kesehatan, lebih dari tiga juta orang di Filipina hidup dengan depresi dan jumlah yang sama mengalami kegelisahan.

Di restoran Van Gough, relawan Cherry delos Santos mengatakan penyakit jiwa banyak disalahpahami. Banyak orang menyamakannya dengan kegilaan.

Undang-undang baru ini bertujuan untuk mendobrak stigma dan diskriminasi ini. Sekolah dan universitas diwajibkan untuk menjalankan program yang mempromosikan kesadaran akan masalah kesehatan mental.

Rumah sakit juga diharuskan meningkatkan fasilitas mereka dan merekrut staf untuk menyediakan perawatan kesehatan mental.

Langkah baru ini ingin menjadikan masalah kesehatan mental menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, memberi orang-orang seperti Koki Joven sebuah harapan baru.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.