Parade di Perbatasan India Pakistan Halangi Jalan Perdamaian

Namanya ‘beating the retreat ceremony’.

Minggu, 24 Des 2017 17:00 WIB

Setiap hari sejak 1959, parade ‘beating the retreat ceremony’ dilakukan sebelum upacara penurunan be

Setiap hari sejak 1959, parade ‘beating the retreat ceremony’ dilakukan sebelum upacara penurunan bendera. (Foto: Bismillah Geelani)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Hubungan India dan Pakistan cukup kompleks.

Pemisahan disertai kekerasan tahun 1947 dan konflik berkelanjutan di Kashmir membuat hubungan keduanya terganggu.

Tapi apa pun status hubungan bilateral mereka, ada satu tempat di mana kedua belah pihak bertemu setiap hari tanpa ada masalah. Di perbatasan India Pakistan, sebuah parade dramatis yang sudah berlangsung puluhan tahun menarik perhatian pengunjung setiap hari.

Tapi seperti dilaporkan koresponden Asia Calling KBR, Bismillah Geelani, ada kekhawatiran kalau kegiatan itu makin menjauhkan kedua negara dari jalan perdamaian.

Di perbatasan India Pakistan, ribuan pria, perempuan dan anak-anak berkumpul untuk menyaksikan ritual yang menakjubkan: Di kedua sisi perbatasan, para prajurit berparade diiringi musik dan sorakan penonton.

Kegiatan ini dinamai ‘beating the retreat ceremony’. Setiap hari sejak 1959, parade ini dilakukan sebelum upacara penurunan bendera.

“Musim panas, musim dingin atau badai sekalipun. Apapun kondisi cuaca atau politik, parade ini tidak berhenti. Tetap berlangsung setiap hari,” tutur Singh.

Menurut Sumer Singh, bekas Wakil Inspektur Jenderal Pasukan Keamanan Perbatasan India (BSF), parade itu tetap dilakukan meski hubungan kedua negara makin meruncing.

Parade itu dimeriahkan musik dan teriakan slogan-slogan patriotik yang memenuhi udara.

Di sisi perbatasan India, warga melukis bendera India di wajah mereka. Mereka melambaikan bendera kertas dan ikut berjoget saat lagu patriotik dan Bollywood terdengar keras lewat pengeras suara. Warga lain ikut menyemangati.


Komandan di pihak India meneriakkan perintah dan sekitar seribu tentara bersenjata mengikutinya ke gerbang besi yang memisahkan India dan Pakistan.

Mengenakan seragam warga coklat muda dan turban berbentuk kipas merah, para tentara itu terlihat kuat dan agresif. Mereka mengayunkan lengan, menghentakkan kaki dengan keras dan melakukan tendangan yang hampir menyentuh dahi mereka.

Sumer Sing mengatakan para tentara itu secara khusus dipilih dan dipersiapkan untuk tugas ini.

“Mereka menjalani latihan berat. Butuh waktu hingga dua tahun bagi seorang prajurit agar bisa mendapatkan ritme yang dibutuhkan agar bisa sesuai dengan langkah-langkah itu. Mereka juga diminta untuk menumbuhkan kumis agar menimbulkan efek yang menakjubkan. Mereka yang terbaiklah yang mendapat kesempatan mewakili negara baik di pihak kita ataupun pihak Pakistan,” jelas Singh.

Saat gerbang perbatasan di kedua belah pihak dibuka, pasukan Pakistan dengan seragam hitam dan turban berbentuk kipas yang serasi tampak melakukan gerakan serupa.

Kerumuman bersorak “Salam kepada ibu India” di satu sisi dan “Semoga Pakistan panjang umur” di sisi lain, dan makin lama makin keras.

Setelah menunjukkan kekuatan dan wajah yang mengancam, tentara dari kedua belah pihak menurunkan bendera masing-masing.

Awalnya, parade ini ditujukan sebagai isyarat niat baik antara pemerintah.

Tapi setelah bertahun-tahun berubah jadi sengit dan agresif. Ini gambaran nyata dari menurunnya hubungan antara kedua tetangga.

Persaingan yang sengit dan rasa tidak saling percaya di antara prajurit terlihat selama parade dan setelahnya.

“Ini adalah soal kehormatan nasional. Jika kami menunjukkan tanda-tanda kelemahan maka akan terlihat sebagai kelemahan India. Kami tidak boleh terlihat seperti ini bila di pihak satunya adalah Pakistan. Kami harus tetap selangkah di depan mereka dalam segala hal,” jelas Ravi Dubey, salah satu tentara India.

Ironisnya kata Sumer Singh, apa yang terjadi selama parade merupakan hasil kesepakatn kedua belah pihak.

“Ada unsur agresi dalam latihan yang menarik penonton itu. Ketika berada di garis nol, seorang tentara terhuyung-huyung dan menunjukkan keberaniannya. Ini memberi penonton sensasi. Dan orang India atau Pakistan tidak melakukan ini semaunya. Kami mempraktikkannya setiap hari bersama-sama dan jika ada perubahan yang harus dilakukan, baik tambahan atau ada yang dihapus, keputusan diambil dengan persetujuan bersama. Ini dilakukan dengan maksud agar lebih menarik dan lebih sinkron,” kata Singh.

Dulu, parade itu digunakan untuk membangkitkan gairah kebangsaan dan mempromosikan cinta tanah air yang berlebihan. Tapi ini menimbulkan kekhawatiran bagi mereka yang tengah memperjuangkan perdamaian keduanya.

Devika Mittal adalah koordinator kelompok Aghaz-e-Dosti yang artinya awal persahabatan.

“Tempat itu merupakan pengingat akan apa yang tidak kita akui saat kemerdekaan dan muncul sebagai negara yang terpisah. Pemisahan ini menimbulkan pengorbanan besar. Jutaan orang mengungsi di kedua sisinya. Orang-orang terbunuh, diperkosa dan terpisah dari keluarga mereka. Saat itu mungkin tidak ada gerbang perbatasan tapi tempat itu adalah jalan bagi para migran dan menjadi penanda akan kenangan itu,” ujar Mittal.


Kembali ke parade perbatasan, setelah langkah terakhir, memutar kumis dan melirik secara  berlebihan, para tentara berjabat tangan dan gerbang perbatasan kembali ditutup.

Pertunjukan yang memperlihatkan agresi telah berakhir, seperti pertandingan kriket India Pakistan yang sangat ketat.

Dengan kemauan politik keduanya yang kuat, Devika berpendapat upacara ini bisa digunakan untuk menabur benih perdamaian dan pertemanan abadi.

“Mengapa kita tidak bisa menerima kenyataan kalau kita adalah orang yang sama. Mengapa upacara ini tidak bisa digunakan untuk membangun perdamaian? Bahkan gerbang ini terbuka saat festival ketika tentara saling bertukar bunga dan manisan. Mengapa itu tidak terjadi setiap hari. Kita tidak bisa membatalkan masa lalu tapi kita harus keluar dari lingkaran kebencian ini,” kata Mittal.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang melaksanakan Program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (PRKC). Program ini sudah dimulai sejak Desember 2016 hingga saat ini.