Penampilan seniman Myanmar di Swedia. (Foto: Ric Wasserman)

Penampilan seniman Myanmar di Swedia. (Foto: Ric Wasserman)

Seni ekspresionis abstrak bukanlah sesuatu yang Anda mungkin langsung kaitkan dengan Myanmar.

Setelah lima puluh tahun, kediktatoran militer dan isolasi di negara itu telah berlalu. 

Dan seniman di negeri itu kini mengekspresikan diri dengan cara yang sama sekali baru.

Sekelompok seniman muda dari Myanmar belum lama ini berada di Stockholm untuk memamerkan karya-karya mereka. Mereka mewakili budaya protes yang kini kian berkembang.

Ric Wasserman bertemu dengan para seniman itu dan menyusun kisah mereka dari Swedia.

Video Ma Ei berjudul Sepotong Stroberi menunjukkan adegan seorang suami sedang merias istrinya, sementara si istri menyuapi suaminya dengan stroberi.

Dia berteriak, “buat saya cantik,” tapi dia tidak puas dengan pekerjaan sang suami.

Ketika niat baik gagal, hubungan menjadi rusak, kata Ma Ei. Karya ini berasal dari pengalaman yang tak terlupakan sebagai seorang anak.

“Si istri yang mencari uang dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Suatu hari, saya melihat seorang pria memukulinya di depan semua orang. Saya melihat banyak hal seperti itu. Dan itu mempengaruhi perasaan saya ketika berkarya,” ungkap Ma Ei.

Ma Ei membuat si suami di videonya menderita.

“Perempuan itu terus menyuapkan stroberi ke suaminya dan sang suami terus mengatakan, ‘Saya tidak suka stroberi, jangan beri saya stroberi lagi,' tapi dia tidak meludahkannya. Sang suami tetap menelannya. Dalam kehidupan nyata itu terjadi,” katanya.


Subjek video Ma Ei adalah hubungan perkawinan, dominasi dan kekerasan terhadap perempuan yang sudah dilarang tahun lalu di Myanmar.

Para seniman sekarang bisa bebas mengekspresikan perasaan batin mereka dalam berbagai cara, tapi menarik penonton baru butuh proses yang lama kata Mai Ei.

“Bahkan ketika kami membuat sebuah pameran dan tiket masuknya gratis, tidak banyak orang yang datang dan melihat. Itu masalahnya di negara saya.”

Ekspresi abstrak adalah hal baru di Myanmar dan beberapa pengunjung kebingungan memahami karya-karya itu.

“Mungkin saya akan bicara dengan Anda nanti, karena saya belum punya ide soal ini sekarang,” kata salah satu pengunjung.

Maw Naing dan saya melihat-lihat karyanya yang berjudul In and Out of Thin Layer - rangkaian kelambu sepanjang enam meter berwarna merah, hitam, dan putih, yang bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi.

Pencahayaan miring menciptakan bayangan kabur, yang  tampak seperti riak di lantai.

“Sebagian besar ide-ide saya datang dari puisi saya, setelah itu saya memilih media yang berbeda,” kata Maw Niang.

Bila melangkah ke dalam kelambu, seseorang mungkin akan merasa tenang. Bayangkan ego Anda di dalam kelambu, katanya. Kita bisa keluar masuk kelambu, tapi akan sulit untuk memisahkan pikiran kita dari emosi.


Natalie Johnston mengelola sebuah pusat seni dan arsip di Yangon. Dia juga kurator pameran ini.

“Ini adalah pameran besar pertama dari seni kontemporer Myanmar di Eropa Utara. Kami ingin pengunjung tidak hanya memahami  sejarah, konteks dan tantangan di Burma sekarang, tapi juga hal-hal indah dan damai dalam segala hal,” ungkap Natalie.

Pameran ini bertajuk Balance and Provocation, Keseimbangan dan Provokasi.

Seniman Yadanar Win dan Kolatt mengatakan ini saatnya mendobrak tabu-tabu terkait agama Buddha dan bahkan penggunaan warna.

Sebelumnya para seniman tidak boleh menggunakan warna merah karena merah biasanya diidentikkan dengan revolusi dan darah. Bahkan warna hitam dilarang karena warna itu memberi kesan kalau Myanmar terlalu menyedihkan.

Tapi di sini dalam satu ruangan, tergantung pakaian traditional raja dan ratu yang dihiasi noda darah.


Karya lain yang dipamerkan adalah sebuah video yang menunjukkan pasangan yang mengenakan kostum kerajaan saling menggergaji kaki kursi mereka. 

Saya bertanya pada Kowlatt yang membuat video ini bersama Yanadar Win, apakah karya yang sangat kritis ini bisa ditampilkan di dalam negeri mereka.

Dia mengatakan sensor tetap ada tapi tidak seketat dulu.

Ini tidak sulit bagi kami. Mereka yang akan sulit melihat ini,” kata Kowlatt.

Individualisme, kebebasan memilih dan mempertanyakan kekuasaan adalah pesan-pesan yang tersirat dalam karya para seniman ini.

Yanadar Win mengakui kalau karya-karyanya kini lebih mendapat perhatian di negaranya. 

“Ketika kami melakukan pameran, menuangkan ide dan konsep kami, orang-orang menghargainya. Mereka menerimanya. Ini sangat menyenangkan,” tutur Yanadar. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!