Poster-poster panglima perang dan tokoh politik lainnya laris manis di ibukota Afghanistan, Kabul. (

Poster-poster panglima perang dan tokoh politik lainnya laris manis di ibukota Afghanistan, Kabul. (Foto: Shadi Khan Saif)

Pemerintah Afghanistan memaafkan salah satu panglima perang yang dikenal sebagai ‘Tukang Jagal dari kabul’.

Kesepakatan damai telah ditandatangani dengan kelompok militan sang panglima perang, Hezb-i-Islami, bulan lalu.

Seperti yang dilaporkan koresponden Asia Calling di Kabul, Shadi Khan Saif, warga menyambut dengan hati-hati langkah ini.

Poster-poster panglima perang dan tokoh politik lainnya laris manis di ibukota Afghanistan, Kabul. Bahkan gambar-gambar semacam ini banyak dipasang di kaca depan kendaraan bermotor.

Dan kini potret pemimpin lama yang kembali muncul ikut meramaikan budaya politik yang ilustratif ini.

Gulbudin Hekmatyar,  69 tahun, adalah bekas Perdana Menteri dan panglima perang yang sangat ditakuti.

Berkat sebuah perjanjian damai, dia kembali ke arena perpolitikan Afghanistan.

Langkah yang belum pernah terjadi ini terwujud karena kedua belah pihak berhasil mengatasi tahun-tahun yang dipenuhi perdebatan politik, ketidakpastian dan keraguan.

Hekmatyar, yang saat ini diyakini ada di Pakistan, telah tinggal di pengasingan selama hampir dua dekade dan tak lama lagi akan pulang.

Berdasarkan perjanjian damai itu, pemerintah Afghanistan setuju untuk melobi PBB dan negara-negara lain untuk membatalkan pembatasan terhadap partai Hekmatyar, Hizb-e-Islami dan anggotanya.

Bahkan disebutkan pemerintah juga berkomitmen untuk merekrut anggota organisasi itu ke dalam pasukan keamanan Afghanistan.

Saat kedua belah pihak membuat kesepakatan, Partai Solidaritas Afghanistan yang berusia cukup muda, menggelar aksi protes di ibukota Kabul.

Para pengunjuk rasa menuduh Hekmatyar membunuh ribuan orang dan menyebut perdamaian tidak akan terwujud bila dia terlibat.

Selay Ghafar adalah juru bicara partai.

“Atas nama kesepakatan damai, mereka membawa seorang tukang jagal untuk bergabung dengan tukang jagal lainnya untuk memimpin Afghanistan menuju kegelapan dan kehancuran,” kata Ghafar. “

Kami ingin rakyat Afghanistan di seluruh negeri menyuarakan perlawanan terhadap kekejaman dan rencana semacam itu. Ini akan membawa Afghanistan masuk ke dalam kekacauan lebih dalam.”

Setelah bebas dari pasukan Soviet, saat perang saudara di Afghanistan pada 1990-an, kelompok mujahidin saling berperang satu sama lain.

Ribuan orang tewas, kota dan desa tinggal reruntuhan. Kenangan tentang hari-hari kelam itu masih menghantui banyak warga Afghanistan.

Seorang warga Kabul bernama Khanum Mursul menyebut orang-orang yang terlibat dalam kematian dan kehancuran saat itu tidak layak untuk diampuni atas kekejaman mereka.

“Pemerintah tidak punya hak untuk mengampuni Gulbudin dan penjahat lainnya. Itu hak orang-orang yang sudah berkorban. Pemerintah termasuk orang-orang seperti Abdullah, Atta Noor dan Rasul Sayaf telah membunuh ribuan orang selama pertempuran mereka,” tegas Mursul.

Nama-nama yang disebutkan Mursul adalah bekas pemimpin mujahidin lainnya, yang sekarang menduduki posisi tinggi dalam pemerintah.

Tapi banyak anak muda Afghanistan, yang tidak punya kenangan langsung dengan masa kelam itu, tampaknya lebih bersedia menerima tokoh-tokoh seperti Hekmatyar. Mereka berharap langkah ini akan mengakhiri lingkaran setan kekerasan.

Inayat Nasir adalah ketua Organisasi Pemberdayaan Pemuda di Afghanistan.

“Ini merupakan langkah positif yang memberikan pesan harapan kepada masyarakat juga ke musuh negara ini, kalau  Afghanistan mampu memimpin sendiri negosiasi perdamaiannya. Ini juga bisa membuat Taliban percaya kalau pemerintah Kabul punya potensi dan otoritas untuk melakukannya dan akhirnya mereka mungkin mau bergabung dengan proses perdamaian,” jelas Nasir.

Komentator politik senior Ashiqullah Yaqub mengatakan mengampuni Hekmatyar tidak akan mengubah apapun dalam semalam. Tapi dia bisa menjadi agen perubahan potensial di masa depan.

“Jangan berharap ada perubahan besar segera. Gulbudin Hekmatyar tidak punya kekuatan seperti di masa lalu dan pesaingnya jauh di depannya. Tapi dia punya ikatan utuh di dunia Islam dan perjanjian damai dengannya pasti akan membuat pejuang Taliban berpikir ulang tentang perjuangan mereka setelah bertahun-tahun.”

Tapi, tidak ada tanda-tanda kalau bekas sekutu Taliban dan Osama bin Laden, akan mencoba dan melibatkan Taliban untuk menghentikan serangan kekerasannya.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!