Hari Rohingya Dunia 2016 di Stockholm, Swedia. (Foto: Ric Wasserman)

Hari Rohingya Dunia 2016 di Stockholm, Swedia. (Foto: Ric Wasserman)

Ada 135 kelompok etnis yang diakui di Myanmar.

Etnis Rohingya tidak masuk dalam daftar resmi tersebut. Jumlah mereka sekitar 1,5 juta jiwa. 

Hak mereka dilucuti, desa-desa mereka dibakar, banyak yang melarikan diri sebagai pengungsi, dan sekarang bahkan Aung Sang Suu Kyi lebih suka menyebut mereka orang ‘Bengali’.

Di Swedia, bulan ini pengungsi Rohingya menyuarakan penderitaan mereka saat mendeklarasikan 'World Rohingya Day' atau ‘Hari Rohingya Dunia’ yang pertama.

Koresponden Asia Calling KBR, Ric Wasserman, menyusun laporannya dari Stockholm.

Kelompok kecil pengunjuk rasa Rohingya berdiri di bawah bayangan bangunan Parlemen Swedia di Stockholm.

Mereka membentangkan spanduk yang menggambarkan kekejaman yang mereka alami di Myanmar sambil memainkan musik tradisional Rohingya.

Hari Rohingya Dunia yang pertama pada tanggal 19 Agustus lalu dirayakan di Eropa dengan aksi unjuk rasa di Jerman, Swedia, Inggris dan Amerika Serikat.

Sebelum demonstrasi, saya berbincang dengan Abu Kalam, pendiri Asosiasi Rohingya Swedia. Dia menggambarkan apa yang dialami kelompok yang banyak disebut sebagai 'minoritas paling teraniaya di dunia' ini.

Kondisi 140 ribu pengungsi Rohingya di Myanmar memburuk sejak Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto negara itu, berkuasa.

“Program Pangan Dunia dulu memasok makanan kepada mereka. Tapi sekarang pemerintahan Aung Sang Su Kyi melarang organisasi itu. Jika Anda bandingkan dua tahun yang lalu dengan kondisi sekarang, dulu lebih baik,” ungkap Abu Kalam.

Etnis Rohingya tidak hanya dianiaya dan ditolak kewarganegaraannya di Myanmar.

Aung San Suu Kyi dan pemerintah barunya juga mendukung pencopotan identitas etnis mereka kata Shiavalini Parmar dari organisasi Pembela Hak Sipil.

Suu Kyi mengatakan mereka seharusnya disebut orang ‘Bengali’. Ini sebagai upaya mereposisi asal geografis mereka yang berada di luar Myanmar.

“Sangat mengkhawatirkan bahwa pemerintah baru membuat kebijakan untuk menghindari istilah Rohingya, untuk menggambarkan 1,1 juta penduduk di Myanmar,” kata Shiavalin.

“Menurut saya, Suu Kyi menghindari istilah Rohingya karena kesalahan orang-orang di gerakan nasionalis ultra yang mendapat banyak pengaruh politik dalam beberapa tahun terakhir.”

Dan langkah ini tidak sesuai dilakukan oleh seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, kata Shiavalini Parmar.


Lebih buruk lagi, sebagian masyarakat internasional setuju dengan permintaan Suu Kyi ini.

“Ini pada akhirnya masalah tentang hak untuk menentukan nasib sendiri, yang seharusnya tidak begitu kontroversial. Juga mengecewakan jika seorang pemenang Nobel Perdamaian mengikuti permintaan pemerintah untuk mengganti istilah ini dengan alasan diplomasi atau pragmatis,” kata Shiavalini.

Dengan semua penampilan semantik dan kekuatan yang digunakan untuk mencabut hak jutaan orang Rohingya, isu ini bisa menjadi titik balik bagi kredibilitas Suu Kyi sebagai pembela hak asasi manusia.

Bila Uni Eropa tunduk pada tuntutan Suu Kyi, PBB malah menyerukan kewarganegaraan penuh untuk orang Rohingya. 

Johan Hallonborg adalah kepala kantor di Kedutaan Swedia di Myanmar. Dia mengatakan hukum internasional harus dihormati.

“Dari dulu posisi kami sudah jelas. Ada prinsip mendasar dalam hukum internasional bahwa sebuah kelompok punya hak untuk mengidentifikasi diri mereka sesuai keinginan mereka. Jadi jika sebuah kelompok memilih sebuah nama, kita harus menghormatinya.”

Aung Sang Suu Kyi masih menghadapi berbagai persoalan di dalam negeri. Beberapa konflik bersenjata yang terus berlangsung harus diselesaikan, sementara militer masih mempertahankan pengaruh politiknya.

Dia mendapat tekanan besar dari masyarakat Buddha Arakan untuk tidak mengakui lebih dari satu juta penduduk. Di sinilah proses nyata demokratisasi dan inklusi itu seharusnya terjadi.

Pemerintah Aung San Suu Kyi baru saja menandatangani permintaan Kofi Annan untuk menjadi kepala komisi untuk menemukan solusi jangka panjang atas konflik di Negara Bagian Rakhine.

Yang dimaksud adalah orang Rohingya, meski kata ini tidak disebut-sebut.

Sementara itu para pengungsi Rohingya di Stockholm atau dimana pun mereka berada akan terus berjuang untuk saudara-saudara di kampung halaman mereka di Myanmar.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!