Para haenyeo atau perempuan laut dari Pulau Jeju. (Foto: commons.wikimedia.org)

Para haenyeo atau perempuan laut dari Pulau Jeju. (Foto: commons.wikimedia.org)

Selama berabad-abad, para perempuan dari Pulau Jeju di Korea Selatan turut mendukung keluarga dan komunitas mereka dengan menjadi penyelam. 

Mereka mampu menyelam ke dasar laut, menahan napas sampai dua menit, untuk menangkap dan mengumpulkan semua jenis makanan laut.

Mereka dikenal sebagai haenyeo atau perempuan laut. Jumlah mereka satu generasi lalu mencapai ribuan orang. Tapi kini tinggal ratusan orang dan kebanyakan berusia di atas 60 tahun.

Kita simak laporan yang disusun koresponden Asia Calling KBR, Jason Strother, dari Pulau Jeju.

Ombak memecah di barisan batuan vulkanik hitam yang melapisi hamparan pantai utara Pulau Jeju. Hari ini berangin dan hujan terus turun sejak saya tiba. Cuaca seperti ini tidak biasa di sini.

Kang Ok-ja menatap ke arah laut dari pinggir jalan. Ini bukan hari yang baik untuk menyelam, katanya. “Gelombang tidak begitu tinggi sekarang tapi angin akan membuat gelombang makin besar. Jadi tidak akan aman untuk menyelam hari ini.”

Perempuan berusia 75 tahun ini mengenal laut lebih baik dari kebanyakan orang. Dia seorang haenyeo, seorang perempuan laut. Dia telah menyelam di perairan ini sejak masih remaja.

Ini adalah semacam tradisi keluarga baginya.

“Ibu saya seorang haenyeo. Saya melihat dia banyak menderita karena pekerjaan ini. Dia mengatakan pada saya, kalau dia tidak ingin saya sepertinya. Dia bilang itu terlalu sulit. Tapi, dia berhenti ketika saya masih berusia 15 tahun, jadi saya mulai menyelam untuk membantu keluarga,” kisah Kang.

Ketika Kang mulai menyelam, ada sekitar 40 haenyeo di lingkungan ini. Sekarang, tinggal tiga orang termasuk dirinya.

Ketiganya kerap menyelam bersama-sama. Mereka berenang sekitar 40 meter ke arah laut dan dengan bantuan beban seberat tiga hingga lima kilo, mereka menyelam sedalam 15 meter atau lebih.

Mereka memakai pakaian selam karet berwarna hitam, kacamata dan kaki katak tapi tanpa tabung udara.

Mereka juga membawa pisau dan alat-alat dapur lainnya. Kang menjelaskan barang-barang itu berguna saat mereka di dasar laut.

“Menangkap gurita sangat sulit jika dia menempel di batu. Anda perlu memotong salah satu kakinya. Jika saya kehabisan napas, saya akan berenang ke permukaan, mengambil napas dan turun kembali untuk menyelesaikan pekerjaan saya. Saya orang yang sangat kompetitif. Saya ingin menang.”

Gurita bukan satu-satunya makhluk laut yang meyulitkan haenyeo. Mereka juga berhati-hati terhadap lumba-lumba karena sirip punggung mereka bisa menyakiti para penyelam.

Tapi Kang mengatakan mereka punya cara yang unik untuk mencegah hal itu terjadi.

”Kami punya mantra kecil saat bertemu lumba-lumba. Kami berbisik berputar, berputar dan mereka pun berputar. Mereka tidak ingin menyakiti kami.”

Menyelam juga menimbulkan dampak kesehatan serius. Kang harus menjalani operasi punggung akibat keseleo dan telinga kanannya tidak bisa mendengar akibat perubahan tekanan.

Tapi dia mengaku tidak pernah menganggap pekerjaan ini berbahaya sampai 15 tahun yang lalu.

“Pengalaman mengerikan saat menyelam adalah ketika salah satu rekan saya meninggal. Saya harus membawa tubuhnya keluar dari air dan meletakkannya di batu. Itu benar-benar membuat saya takut,” kenang Kang.

Bahaya menyelam ke dasar laut adalah salah satu alasan mengapa perempuan muda Jeju tidak ingin mengikuti jejak ibu atau nenek mereka menjadi haenyeo.

Tapi saat tradisi ini memudar, beberapa perempuan Korea melihat penyelam sebagai pahlawan.

Seperti Kwon Min-jin, 32 tahun. Dia pindah dari Seoul ke pulau itu beberapa tahun lalu dan menjadi tetangga haenyeo Kang Ok-ja.

“Saya mulai menonton mereka dari balkon yang menghadap ke laut. Saya menghitung berapa menit mereka bisa menahan nafas. Itu menakjubkan. Ketika saya melihat mereka, mereka ternyata sudah nenek-nenek. Tapi di lautan mereka seperti putri duyung,” kata Kwon.

Kwon sebenarnya terdaftar di sekolah menyelam yang dikelola haenyeo dan belajar menangkap makanan laut seperti mereka. Dia mengaku belajar bernapas seperti mereka lebih sulit.

“Mereka bernafas panjang di antara bibir. Jika Anda benar-benar menahan nafas lebih satu menit maka akan terdengar seperti lumba-lumba,” tambahnya.

Kwon tidak akan meninggalkan pekerjaan utamanya untuk menjadi penyelam. 

Baginya ini hanya hobi dan kebanyakan dia menyelam untuk memungut sampah.

Tapi di pantai timur Jeju, sebuah komunitas 300 haenyeo sibuk mengumpulkan dan memasak makanan laut tangkapan mereka.

Para perempuan dari Rumah Haenyeo Seopji bekerja bergantian, menyelam, memasak dan menunggu meja.

Di salah satu sudut restoran, tangki diisi dengan teripang, siput laut dan beberapa jenis kerang.

Di dapur, saya menonton siput laut dalam panci sedang dimasak.

Karyawan di sini mengatakan beberapa dekade lalu, abalon adalah hidangan yang paling populer dan mahal. 

Tapi, saat ini hampir mustahil menemukannya di dasar laut. Salah satu penyebabnya adalah kerusakan lingkungan. Seorang penyelam, Lee Sun-duk, mengatakan penyelam ikut bertanggung jawab.

“Ada banyak penyelam serakah. Mereka mengambil semua binatang. Dan tidak meninggalkan beberapa agar bisa bereproduksi,” keluh Lee.

Makin hilangnya tangkapan juga jadi salah satu penyebab sekaratnya tradisi haenyeo.

Tapi pemerintah Pulau Jeju berusaha melestarikannya. Ini diterapkan demi status warisan dunia UNESCO dan mempromosikan acara menyelam haenyeo bagi wisatawan.

Beberapa perempuan melompat ke laguna pantai. Mereka muncul beberapa menit kemudian dengan keranjang kerang dan menyanyikan sebuah lagu untuk penonton.

Acara haenyeo ini mungkin tidak nyata, tapi setidaknya itu sesuai dengan semangat tradisi pulau itu.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!