Tiga pelajar SMA asal Thailand Selatan menjadi juara kompetisi teknologi air tingkat pelajar. (Foto:

Tiga pelajar SMA asal Thailand Selatan menjadi juara kompetisi teknologi air tingkat pelajar. (Foto: Ric Wasserman)

Delapan puluh persen sumber air di Asia dipergunakan untuk pertanian. Dan 1,7 miliar orang di kawasan ini tidak punya akses ke sanitasi. 

Pekan Air Dunia, yang diadakan di ibukota Swedia, Stockholm, belum lama ini mencoba mencari jalan keluar atas masalah air yang dihadapi dunia khusunya masyarakat Asia. 

Forum ini dihadiri tiga ribu peserta dari 124 negara.

Ric Wasserman menyusun laporannya tentang cara generasi muda Asia mengatasi masalah ini.

Air yang mengalir adalah hal biasa bagi banyak orang namun menjadi mimpi bagi yang lain.

Belum lama ini Konferensi Pekan Air Sedunia tahunan mencoba mencari jalan atas masalah seputar air diadakan di Swedia. 

Di Asia, masalah yang dihadapi antara lain turunnya level air tanah, meningkatnya jumlah industri dan agro-polusi dan terus bertambahnya populasi.

Air juga dieksploitasi sebagai komoditas bukan hak dasar, kata wakil presiden Bank Pembangunan Asia, Bambang Susantono.

“Kita melihat sejak beberapa tahun lalu, air tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan dasar, tapi sekarang lebih dari sisi ekonomi,” kata Susantono.

Dengan kata lain, bagaimana uang bisa menyediakan air. Dan ini tanda yang meresahkan, terutama bagi masyarakat miskin yang tidak mampu membelinya.

Sementara produktivitas ekonomi dan pangan diperkirakan meningkat tajam dalam dua dekade mendatang.

Meski solusi teknis berlimpah tapi kemauan politik untuk membuat perubahan yang berarti, sering kali lemah.

Dalam diskusi panel The Eye on Asia dipetakan berbagai dimensi air, seperti kelangkaan dan pasar air di Asia.

Diskusi ini dihadiri banyak peserta yang setengahnya adalah perempuan dan hampir semua pakar air berusia di bawah 30 tahun.

Seperti Laura Basco, mahasiswa PHD dari Jaringan Kaum Muda Peduli Air yang bekerja di Bangladesh bersama Dewan Air Nasional negara itu.

“Ini menjadi tantangan bagi orang muda untuk mencoba menciptakan solusi inovatif. Di sisi lain, kami tidak ingin membuat hal-hal yang sudah ada,” tutur Basco.

Tapi model kerja sama yang merupakan pendekatan baru di Bangladesh, telah membawa perubahan positif.

“Pendekatan model koperatif ini sudah menunjukkannya. Jika Anda mengambil sebuah langkah dan melakukannya dengan baik, inilah yang akan terjadi. Saya ingin ini bisa mengubah kebiasaan kompleks yang ada di Bangladesh.”

Dan ini sudah terjadi.

“Jika Anda membandingkan kondisi dari 2013 hingga 2016, situasinya sudah membaik. Terutama dalam hal keamanan air untuk kebutuhan ekonomi dan rumah tangga,” kata Basco.

Laura memang sedang membuat perubahan di Bangladesh. Tapi secara global, insinyur air yang terlatih masih sangat sedikit.

Pengetahuan mereka merupakan kunci penting untuk menemukan solusi jangka panjang kata Katie Cresswell-Maynard, dari Engineers without Borders atau Insinyur Tanpa Batas.

Dan insinyur air yang paham mengenai persoalan sosial adalah nilai tambah.

“Kami ingin menciptakan insinyur yang bertanggung jawab di seluruh dunia. Kami ingin para insinyur lebih memahami isu-isu sosial dan dampak dari penerapan ilmu mereka terhadap kehidupan di masa depan,” tutur Maynard.

Ada pengakuan kalau Asia menjadi ujung tombak perjuangan untuk meringankan masalah air, setidaknya sebagian. 

Dan di konferensi ini juga diumumkan juara kompetisi teknologi air tingkat pelajar.

Dan tahun ini penghargaan diberikan kepada tiga pelajar SMA dari Thailand Selatan.

Mereka mengalahkan 200an kontestan dari seluruh dunia dengan teknologi air mereka yang unik. Mereka membuat tiruan dari tanaman yang bisa mengumpulkan air.

Ini penjelasnya anggota tim Sureeporn Triphetprapa yang berusia 16 tahun. “Kami menggunakan aluminium sebagai bahannya. Kami membuat model tiruan tanaman Bromelia.”

Teknologi ciptaan mereka mencoba meniru tanaman Bromelia, yang bisa mengumpulkan dan menyimpan air, menggunakan aluminium.

Provinsi Surat Thani di Thailand punya musim kering yang panjang dan teknologi ini diharapkan bisa mengatasi persoalan air di sana. Teknologi ini sudah berhasil diuji oleh ratusan petani Thailand dan bisa menjadi semacam ‘mesin hujan’ bagi tanaman.

Para siswa ini bekerja setiap hari sepulang sekolah selama delapan bulan. Mereka ingin membantu masyarakat di sana yang sebagain besar adalah petani. Teknologi ini akan segera dikomersilkan.

“Kami ingin membuatnya dalam jumlah besar dan terus memodifikasinya agar makin produktif,” jelas Triphetprapa.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!