Mengakui Komunitas Transgender di Indonesia

Di atas panggung, Kanza Vina menceritakan bagaimana dirinya dibuang keluarga, sekolah, dan masyarakat hanya karena “keperempuannnya” tampak dominan.

Senin, 26 Sep 2016 10:34 WIB

Forum LGBTIQ penerima Suardi Tasrif Award dari AJI Indonesia. (Foto: AJI)

Forum LGBTIQ penerima Suardi Tasrif Award dari AJI Indonesia. (Foto: AJI)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Kanza Vina menerima penghargaan Tasrif Award, mewakili kelompok LGBTIQ, pada akhir Agustus lalu. 

Di atas panggung, dia menceritakan bagaimana dirinya dibuang keluarga, sekolah, dan masyarakat hanya karena “keperempuannnya” tampak dominan. 

Berikut penuturannya kepada jurnalis KBR, Ria Apriyani. 

Penampilan Vina yang feminin membuat dia kerap dilecehkan, tidak hanya di sekolah juga di rumah.

“Ada satu teman waria senior, aku digelarin namanya dia. Jadi katanya aku tuh versi kecilnya dia. Masyarakat kalau manggil kemana ini, mau kemana ini. Orang tuaku sampai marah banget karena itu yang pertama kali mereka dengar orang sudah bilang anaknya banci. Kalau aku mulai kelihatan main sama perempuan disalahin, terus pulang dipukulin. Kamu ngapain main sama cewek?!” kisah Vina.

Ketika masih duduk di bangku sekolah, dia dan temannya yang begaya ‘tomboy’ kerap disebut kaum Nabi Luth saat pelajaran agama.

“Ya kita berdua inilah ketika pelajaran agama selalu dibilang kaum Nabi Luth. Setiap pelajaran agama kalau nyinggung Nabi Luth pasti nunjuknya ke kita, ke meja kita. Semua murid ngeliatnya ke kita. Guru tatapan matanya nggak ngenakin banget,” kenang Vina.

Ketika Vina dia dilecehkan teman-teman sekolah, dia bukannya dibela malah disalahkan.

“Gue yang disalahin karena gue feminin. Makanya lu kalau nggak mau dibilangin orang bencong tuh yang tegas kalau ngomongin tuh tonjok. Apalagi bapakku itu otoriter banget kalau ngedidik, fanatik juga.”

Karena tidak tahan dengan perlakuan keluarga dan teman-temannya, dia pun lari ke Bengkulu saat berusia 15 tahun. Tanpa ijazah dan keterampilan, dia pun terpaksa menjadi pekerja seks untuk bertahan hidup.

Di sini dia mulai merasa bebas berekspesi dengan berdandan sesuai yang dia inginkan. Tapi perjumpaannya dengan ibunya setelah dua tahun, membuat Vina sangat terpukul.

“Aku shock lihat keadaan nyokap. Karena dia yang disalahkan sama bapakku. Karena dianggap gagal mendidik. Jadi ibuku pas ketemu itu kan dia kurus banget. Ini satu trauma juga menurutku,” ungkap Vina.

Karena merasa kasihan dengan sang ibu, Vina pun pulang kampung dan berkumpul kembali dengan keluarganya.

Dalam perjalanannya, ternyata kakak lelakinya tidak senang dengan kehadiran Vina. Bapaknya pun mencari jalan keluar. Dia pun diberi uang lima juta rupiah untuk memulai usaha di tempat lain. 

Di usia 19 tahun, dia bersama temannya merantau ke Jakarta. Tapi dengan uang lima juta dan ijazah SD tak banyak yang bisa dia lakukan. 

Dia pun kembali menjadi pekerja seks jalanan selama tiga tahun.  

Hingga akhirnya, dia bertemu Sanggar SWARA pada 2011. Ini adalah sebuah LSM yang fokus membangun hubungan baik antara waria dan masyarakat di kawasan Jakarta . Di sanalah, Vina  memulai hidup barunya. 

“Sebelum ketemu temen SWARA aku tipikal orang yang ngomong gue mau mati muda. Karena menurutku hidup itu nggak adil. Ya bayangin aja!” tutur Vina.

“Dulu ke jakarta usia 17 tahun hidup di jalan jadi pekerja seks resikonya tahu sendiri seperti apa. Preman, satpol PP, tamu resek. Gue sampai depresi juga rambut panjang dikit potong dulu kayak-kayak gitu.”

Dia mengaku sejak itu dia merasa lebih tenang. 

Dia banyak belajar tentang tentang diri sendiri, tentang kawan-kawan waria, lesbian, gay, transgender, tentang warga miskin kota, hingga hak asasi manusia. Ini semua tidak pernah dia dapatkan saat bersekolah.

Dia pun ingin kembali meneruskan pendidikannya yang sempat terputus.

“Gue lagi berusaha ngurusuin paket b karena gue ga dapat ijazah SMP. Abis itu mau paket c terus kuliah. Tapi gue cari modal dulu karena gue nggak mungkin minta dari orang tua kan. Makanya gue pengen mateng dulu secara finansial. Nggak mungkin kan berhenti di tengah jalan kan. Kan nggak lucu. Mau ambil hukum. Itu paling penting ya untuk konteks sekarang,” kata Vina.

Kanza Vina belajar bahwa seksualitas bukan penyakit. Ia bukan sesuatu untuk disembuhkan. 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Polisi Sudah Tunjuk Penyidik untuk Periksa Novel di Singapura

  • Koalisi Peduli KPK Sebut Penyerangan Air Keras Terhadap Novel Libatkan Petinggi Polri
  • Puncak Macet, 31.325 Kendaraan Keluar Tol Bogor
  • Kawanan Bersenjata Tembaki Konvoi PBB

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?