Foto: www.jihadselfie.com

Foto: www.jihadselfie.com

Banyak orang dari seluruh dunia ingin bergabung degan kelompok ISIS, yang berperang di Suriah.

Salah satunya Teuku Akbar Maulana, pemuda 17 tahun asal Nangroe Aceh Darrusalam. 

Tapi niat itu dia urungkan setelah bertemu dengan Noor Huda Ismail – seorang pengamat terorisme pada 2014 silam. 

Dia membeberkan alasannya kepada Jurnalis KBR, Ade Irmansyah. 

Teuku Akbar Maulana, 17 tahun, berasal dari Nangroe Aceh Darrusalam.

Di sekolah, Akbar termasuk siswa yang cemerlang dan mendapat beberapa tawaran beasiswa, termasuk bersekolah di Turki. 

Dia pun memilih melanjutkan sekolah di International Anatolian Mustafa Germirli Imam Khatip High School di Kayseri, Turki pada akhir 2013.

Namun baru beberapa bulan belajar di sana, dia merasa jenuh. 

“Sebenarnya ini umum untuk pelajar dan remaja ya kan, kan kalo misalnya galau itu banyak konteksnya, bukan hanya karena cinta, misalnya karena pelajaran contohnya kita itu misalnya melihat pelajaran kok gini-gini aja, kok udah pernah kita belajar, terlalu mudah, kok tidak ada perubahan, hingga masuk ke stres yang berat, yang saya inginkan kok tidak saya dapatkan,” jelas Akbar.

Akbar yang saat itu baru berusia 15 tahun mulai menghabiskan lebih banyak waktunya berselancar di media sosial, termasuk Facebook. 

Akunya dibajiri video penganiayaan dan pembunuhan di Suriah. 

Tak hanya itu. Salah seorang teman asramanya dari Indonesia bernama Yazid ikut bergabung dengan ISIS di sana. Dia bahkan memajang foto saat menenteng AK-47 di akun Facebooknya. 

Akbar ingin mengikuti jejak temannya itu. 

“Di sana mereka punya slogan sendiri, hadhih hi'ard alrrijal, ini adalah tanah lelaki selogannya itu di video-video yang beredarnya itu. Jadi secara tidak langsung mereka mau bilang, kalian bukan lelaki kalau tidak ke sini. Jadi kita merasa tertantang. Apalagi remaja kan mereka butuh tantangan,” ungkapnya.

Video-video itulah yang memotivasi Akbar untuk pergi ke Suriah untuk berperang. Meski dia tidak tahu banyak soal apa yang terjadi di Timur Tengah atau ISIS. 

Hingga suatu hari di tahun 2014, dia bertemu Noor Huda, pengamat terorisme, di sebuah kedai kebab di Kayseri, Turki. Saat itu Akbar sedang menunggu seseorang yang akan mengantarnya ke perbatasan Suriah. 

Saat berbincang-bincang itulah, dia teringat pada orangtuanya di Indonesia. Terutama  ibunya yang sedari awal melarangnya hijrah ke Suriah. 

“Yang paling penting itu karena Akbar teringat orangtua, terutama ibu. Bagaimana kalau kita jadi pergi ke sana lalu kemudian mati, ya meski diterima atau tidaknya itu urusan Allah, kalau kita meninggalkan pasti orang tua kita berlinang air mata ya kan,” kisah Akbar.

“Dari situ saya berfikir apakah ini yang benar menurut Allah atau tidak, tapi bagaimana Allah akan ridho ketika orang tua tidak ridho.”

Akbar membatalkan niatnya ke Suriah dan pulang ke tanah air. Dia pun bersama Noor Huda menggarap sebuah film dokumenter berjudul ‘Jihad Selfie’. 

Noor Huda menyebut gerakan kelompok teroris memiliki pola baru dalam merekrut anggotanya; yaitu merekrut dari akun jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, hingga Youtube.

Katanya kelompok itu menyasar kaum remaja.

"Ini ada sebuah cluster. Anak-anak itu pintar, berprestasi, hapal Al Quran, menang olimpiade, tapi tergiur juga dengan ISIS,” jelas Huda.

Menurutnya ada sekitar 500 orang dari Indonesia telah bergabung dengan ISIS di Suriah.

Agar tidak terus bertambah, Noor Huda menyarankan para orangtua agar lebih mempererat hubungannya dengan anak mereka.

“Kebetulan yang berangkat ke situ itu karena memang hubungannya dengan orangtuanya, mereka mencari figur "bapak", tidak dekat karena bapak-nya aparat, ada yang bapaknya sudah meninggal, dan ada pula yang korban poligami,” jelas Huda.

Kembali ke Akbar.

Saat ini, jihad bagi Akbar adalah berguna bagi sesama. 

Itu ia buktikan dengan meraih sederet prestasi, mulai dari prestasi di bidang akademis hingga olahraga.

Dia pun menulis karya fiksi pertamanya berjudul ‘Boys Beyond the Light’. Buku ini bercerita tentang pergolakan pemikiran dan perasaan Akbar saat tergoda untuk bergabung ke ISIS.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!