Polisi berpatroli di daerah padat penduduk di Manila. (Foto: Kate Lamb)

Polisi berpatroli di daerah padat penduduk di Manila. (Foto: Kate Lamb)

Beberapa orang secara bercanda mengatakan Presiden baru Filipina, Rodrigo Duterte, seperti Donald Trump dari negara tropis.

Dia kasar, vokal dan kadang-kadang sangat menyinggung orang-orang yang tidak sependapat dengannya.

Sejak dilantik dua bulan lalu, dia telah memenuhi janjinya memberantas narkoba dan kejahatan. Tapi ini malah mengkhawatirkan warga Filipina.

Dalam gelombang pembunuhan di luar pengadilan, hampir dua ribu orang sudah  tewas di seluruh negeri dalam dua bulan terakhir.

Kate Lamb berkunjung ke ibukota Manila untuk mengetahui lebih jauh.

Ini adalah Lea Bascguin, pemilik sebuah rumah duka di Manila. Dia sedang menghitung jumlah jenazah yang masuk bulan ini.

Jumlahnya melonjak tiga kali lipat sejak perang terhadap narkoba yang dilakukan Duterte, dimana kebanyakan adalah pembunuhan di tanpa proses pengadilan.

Di seluruh negeri hampir dua ribu orang telah tewas sejauh ini; 712 dalam 'tembak-menembak’ polisi dan lebih dari seribu orang oleh apa yang disebut kelompok main hakim sendiri.

Mereka terlihat seperti korban ‘pembunuhan’, tanpa identitas dan dibuang di jalanan pada malam hari.

“Kami menganggapnya pembunuhan ketika mereka hanya menaruh mayat di suatu tempat di jalan tanpa mengetahui siapa pelakunya,” jelas Lea.

Tidak ada yang tahu pasti siapa kelompok main hakim sendiri itu meski ada yang menduga ada polisi atau militer yang terlibat.

Setiap hari keluarga-keluarga yang bingung datang ke tempat Lea, mencari jejak orang yang mereka cintai di antara jenazah-jenazah yang terbaring di kamar mayatnya.

Dalam beberapa kasus, keluarga korban tahu soal kematian itu dari televisi, setelah gambar korban atau ciri-ciri seperti tato di tubuh mayat muncul di berita.

“Ada beberapa kasus di mana butuh waktu seminggu. Keluarga korban baru tahu dari televisi karena muncul di berita,” kata Lea.

Itu yang terjadi pada keluarga David Miraran, 32 tahun. Beberapa pekan lalu dia mengunjungi pacarnya dan tidak pernah kembali.

Saudara perempuan David, bernama Vivian, baru tahu kematian saudaranya dari berita tiga hari kemudian.

“Di berita polisi mengatakan kalau perampok melawan, jadi itu sebabnya mereka menembaknya. Mereka mengatakan dia menembaki polisi dengan pistol kaliber 38 di jalanan gelap,” tutur Vivian.

“Tapi dia tidak punya senjata. Dia tinggal di rumah kami dan kami tidak pernah melihat ada pistol di kamarnya. Jika saudara saya adalah perampok tentunya kami yang tahu soal itu terlebih dahulu.”

Di Manila, banyak dari korban perang narkoba ini berasal dari daerah kumuh dan miskin.


David nyaris tidak punya cukup uang untuk makan dan ketika lapar, dia kadang meminta nasi dan kecap pada tetangga.

Sesekali David menghirup lem untuk mabuk karena tidak punya uang untuk membeli shabu atau metamfetamin. Jadi tidak mungkin dia punya uang untuk beli senjata kata Vivian.

“Laporan Anda akan menjadi semacam matriks, mereka melawan dan membawa bukti, senjata dan obat-obatan ilegal. Kami menggunakan semua ini untuk melindungi polisi,” kata aktivis Max de Mesa. 

Dia bercerita tentang ‘skenario’ yang dituduhkan polisi selama perang narkoba ini.

Ini cara penegakan hukum keluar dari apa yang dia sebut 'teknis demokrasi'.

Ditambah pengabaian hak asasi manusia yang mengingatkan warga akan masa-masa pemberlakuan darurat militer.

Bahkan Presiden Duterte bercanda soal pemberlakuan kembali darurat militer. Dan kata dia, pengguna dan bandar narkoba tidak punya hak asasi.

Ini pidato Duterte di hadapan rakyat Filipina pada Juli lalu. “Kami tidak akan berhenti sampai gembong narkoba, pemodal dan pengedar terakhir menyerah atau masuk penjara atau dimakamkan jika mereka mau.”

Sebagai bekas Walikota Davao, Duterte dikaitkan dengan kematian pasukan polisi di masa lalu. 

Meski mencolok, metodenya tampaknya sangat populer di kalangan orang Filipina. Banyak yang yakin kematian adalah kerusakan tambahan dalam perang narkoba.

Dan mereka yang ingin bicara pun merasa takut.

Itulah yang saya rasakan saat saya pergi ke tempat kejadian pembunuhan ganda. Dua perempuan ditembak mati di suatu siang saat hujan turun pertengahan Agustus lalu.

Mereka tinggal di daerah kumuh yang padat dekat pelabuhan di sepanjang jalan yang sempit. Daerah ini sangat kecil sehingga hampir tidak mungkin tidak ada yang melihat apa yang terjadi.

Saat penyidik polisi sedang memeriksa TKP, saya mulai berbicara kepada warga yang berkumpul di sekitar situ.

Ini adalah jawaban Trono, warga setempat, saat saya tanya apa yang terjadi.

“Saya tidak lihat, tidak mendengar. Anda harus tutup mulut jika ingin hidup Anda panjang. Kami semua tidak tahu apa yang terjadi, mengapa dia terbaring di sana karena tertembak. Saya tidak mengatakan apa-apa tapi dalam pikiran saya, saya tahu apa yang terjadi,” kata Trono.

Organisasi pembela HAM seperti Amnesty International dan Human Rights Watch berulang kali mengutuk tindakan ini dan menyerukan diakhirinya 'pelanggaran hukum' yang melanda Filipina.

Tapi seiring terus bertambahnya korban tewas, Presiden Duterte tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!