Lukisan Sudjojono berjudul Kawan-Kawan Revolusi yang dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta. (Foto: N

Lukisan Sudjojono berjudul Kawan-Kawan Revolusi yang dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta. (Foto: Nurika Manan KBR)

Galeri Nasional Jakarta selama bulan Agustus ini menggelar lukisan-lukisan koleksi Presiden Sukarno.

Lima dari 28 lukisan yang ditampilkan adalah karya, Sindudarsono Sudjojono.

Dia adalah pelukis sekaligus pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebuah organisasi seni yang dikenal dekat dengan PKI. 

Pasca peristiwa G30S, para seniman Lekra dan karya mereka diharamkan Orde Baru. 

Jurnalis KBR, Ria Apriyani menyusun ceritanya untuk Anda. 

Selama tiga dekade pemerintahan Orde Baru, lukisan salah satu pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra, Sudjojono, seperti barang haram.  

Kurator pameran, Mikke Susanto, tak memungkiri peristiwa G30S telah menghancurkan kehidupan para seniman Lekra.

Karena Lekra dekat dengan PKI, yang dituding berada dibalik kudeta itu.

“Dinamika di balik setiap pelukis luar biasa. Kita semua harus menghargai lewat pameran ini. Bahwa kita pun yang dulu di penjara, namanya harus tetap harum. Karena itu hanya perbedaan ideologi,” jelas Mikee.

Tapi lewat gelaran ini, ia berharap, stigma yang melekat pada seniman Lekra, bisa terhapuskan.

“Saya melihat pameran ini untuk memperbaiki banyak borok yang ada disini. Sejarah itu penuh luka, seni menyembuhkannya,” harap Mikee.


Tedjabayu, anak sulung Sudjojono mengenal sang ayah sebagai seorang komunis dan juga perintis seni rupa Indonesia modern.

Selama hidupnya kata Tedja, ayahnya berusaha melepaskan seni dari sudut pandang kolonial. Bagi Sudjojono, lukisan harus bicara kebenaran.

“Itu tidak menceritakan tentang sebenarnya. Apa sih? Rakyat Indonesia ngapain di balik keindahan itu? Ada penderitaan, ada perbudakan, ada apa itu yang katakanlah pelacuran, eksploitasi terhadap perempuan, Sudjojono tidak melihat itu. Makanya dia bilang realisme yang ada itu ya realisme sosialis. Realisme yang kepentingannya pada kepentingan rakyat,” tutur Tedja.

Idealisme itu muncul sejak ia masih ikut berperang. 

Kala Indonesia mempertahankan kemerdekaan melawan tentara Belanda, Sudjojono ikut maju bersama kawan-kawan di Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). 

Tedja ingat ayahnya bercerita di sela-sela perang, para seniman ketoprak kerap menghibur mereka untuk menguatkan mental. 

“Bapak ikut dalam revolusi. Sampai-sampai ibu itu ngungsi, bapak ngungsi dan langsung bertempur bersama yang lain-lain di sekitar Prambanan. Mereka lawan Belanda. Banyak sekali seniman diajak kesana. Teman-teman ketoprak, wayang, dan mereka itu selau bergerak. Mereka itu menghibur pejuang di daerah front.”

Pengalaman ikut pertempuran itu melahirkan lukisan Kawan-Kawan Revolusi. Dimana delapan belas wajah pejuang muda dan Tedja kecil diabadikan Sudjojono dalam sebuah kanvas.

Menurut Tedja, kecintaan Sudjojono pada Indonesia begitu besar. 

“Ibu Bapak itu mendidik kami untuk apa ya, sangat menghormati bendera. Mereka cerita. Ini merah putih. Dibayar dengan darah dan air mata. Kalau kamu sampai memegang bendera terkena tanah, itu kamu tidak menghormati,” kisah Tedja.

Pun ketika ia akhirnya mengundurkan diri dari PKI karena menikahi Rose Pandanwangi, seorang penyanyi seriosa, ideologi dan kecintaannya tidak luntur. 

Saat itu PKI menghapus jejaknya dari sejarah pendirian Lekra. Di media massa, PKI mengumumkan Sudjojono dipecat PKI karena masalah moral.

Tapi Tedja punya cerita berbeda.

“Di situ tidak jujurnya PKI. PKI membuat pernyataan bahwa PKI memecat Sudjojono karena moralnya. That’s fine for me. Tapi sebenarnya Bapak cerita sendiri bersama ibu, bahwa sebelum surat itu keluar dia sudah mengundurkan diri. Sangat-sangat salah kalau itu menyelamatkan diri. Sampai mati, Sudjojono tetap Marxist.”

Lukisan tak sekadar goresan cat dan warna, bagi Sudjojono. 

Di kanvasnya, dia menitipkan dirinya, ideologinya, harapannya untuk Indonesia.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!