Respon dan relawan pertama memindahkan korban terluka dan meninggal dari lokasi kejadian dimana bom

Respon dan relawan pertama memindahkan korban terluka dan meninggal dari lokasi kejadian dimana bom meledak diluar sebuah rumah sakit di Quetta, Pakistan, Senin (8/8). (Foto: Antara)

Puluhan orang tewas dalam sebuah serangan mematikan terhadap komunitas pengacara Pakistan awal bulan ini.

Pelaku bom bunuh diri menarget sekelompok pengacara yang sedang berduka di rumah sakit pemerintah di kota Quetta. Di kota ini, kejahatan, aksi kekerasan etnis dan sektarian mudah pecah.

Tapi di balik serangan itu ada dinamika geopolitik yang rumit - melibatkan Pakistan, India, dan Afghanistan serta mega proyek energi dan infrastruktur dengan Tiongkok bernilai lebih dari 600 triliun rupiah. 

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, menyusun laporannya untuk Anda.

Pengacara HAM, Attaullah Langho, sedang duduk di koridor Rumah Sakit Universitas Agha Khan Karachi. Di rumah sakit ini banyak temannya yang dirawat.

Teman-temannya menjadi korban ledakan bom yang menargetkan komunitas pengacara di kota Quetta pada 8 Agustus lalu.

Langho mengatakan banyak temannya tewas di sana.

“Semua orang panik, situasi kacau dan orang-orang berlarian. Kami kemudian mengumpulkan jenazah teman-teman kami. Ini adalah aksi yang tidak manusiawi. Ini bentuk ketidakadilan terhadap komunitas kami,” kata Langho.

Awalnya pria bersenjata tak dikenal menembak mati Presiden Asosiasi Pengacara Pengadilan Tinggi Balochistan, Bilal Anwar Kasi. Ini adalah serangan yang ditargetkan.

Ketika rekan sejawatnya berkumpul di rumah sakit untuk melayat, seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya. Akibatnya 75 orang tewas.

Enam puluh diantaranya adalah pengacara dan juru kamera dua saluran tivi. Sementara 100 orang lainnya luka-luka.

Potongan gambar ini menunjukkan potongan-potongan tubuh yang berserakan di tempat kejadian. Terdengar korban luka-luka yang berlumuran darah berteriak minta tolong.

Ini adalah serangan terburuk terhadap komunitas hukum di Pakistan.

Ini sekaligus menghilangkan puluhan pengacara senior yang terlibat aktif dalam memperjuangkan hak asasi manusia, kata Langho.

“Ledakan bom itu telah membunuh persaudaraan kami. Saat ini Anda tidak akan melihat pengacara di pengadilan di Balochistan karena mereka telah tewas atau menjadi korban luka-luka.”

Jamaat-ur-Ahrar - kelompok sempalan Taliban Pakistan dan juga ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Serangan itu menimbulkan pertanyaan soal efektifitas Rencana Aksi Nasional Pakistan atau NAP. Ini adalah program penanggulangan terorisme yang diluncurkan pada 2015. 

Mehmood Khan Achakzai adalah ketua Partai Pakhtunkhwa Milli Awami yang nasionalis dan sekutu Perdana Menteri Nawaz Sharif. 

Dia mengatakan serangan ini seratus persen disebabkan kegagalan lembaga intelijen.

Pemerintah Balochistan mengumumkan masa berkabung selama tiga hari untuk menandai serangan itu. Dan para pengacara di seluruh Pakistan memboikot persidangan selama satu minggu.

Baik pemerintah provinsi dan federal Pakistan secara terbuka menuduh India dan badan intelijennya, Sayap Penelitian dan Analisis atau RAW, yang merencanakan pembantaian itu.

Mereka mengklaim India sedang berupaya mengusik Balochistan, sebuah provinsi yang kaya dengan minyak dan gas. Tujuannya untuk menggagalkan mega proyek yang sedang berlangsung dengan Tiongkok.

Berikut penjelasan Gubernur Balochistan, Nawab Sanaullah Zehri.“RAW mendanai terorisme di Balochistan. Menurut saya RAW terlibat dalam insiden ini.”

India telah lama menyangkal tuduhan ingin mencoba mengusik Pakistan.

Tapi serangan teroris terhadap etnis Hazara dan pasukan keamanan meningkat sejak Pakistan dan Tiongkok meluncurkan koridor ekonomi senilai lebih dari 600 triliun rupiah di Balochistan April tahun lalu.

Kedua negara menggambarkan proyek bersejarah ini akan mengubah situasi kawasan. Dimana Pakistan akan mengungguli ekonomi India.

Bekas presiden Asosiasi Pengacara Mahkamah Agung, Kamran Murtaza dari Quetta, mengatakan dinamika geopolitik yang rumit berdampak pada kampung halamannya.

“Isu dasarnya adalah masalah Afghanistan dan isu Kashmir dengan orang India. Itu dua masalah utamanya. Sampai kedua isu ini bisa diselesaikan, situasi tidak akan pernah benar-benar membaik,” kata Kamran.

Murtaza mengacu pada konflik berkepanjangan di Afghanistan dan terus berlanjutnya kerusuhan di Negara Bagian Kashmir, yang juga berbatasan dengan Pakistan.

Tak lama setelah insiden Quetta, tentara meluncurkan operasi menumpas terorisme secara nasional.

Tapi jurnalis Pakistan, Saeed Sarbazi, mengatakan pemerintah juga harus mencari solusi politik untuk mencegah pembunuhan massal lain di masa depan.

“Masalah Balochistan adalah masalah politik. Dan itu tidak seharusnya diatasi dengan operasi militer. Ini harus diselesaikan lewat cara-cara politik dan dialog,” kata Saeed.

Meski para pengacara akan kembali ke pengadilan setelah protes selama seminggu, komunitas ini masih merasakan kemarahan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!