Pembangunan bendungan Myitsone di Burma yang kontroversial terancam akan dilanjutkan kembali. (Foto:

Pembangunan bendungan Myitsone di Burma yang kontroversial terancam akan dilanjutkan kembali. (Foto: Banyol Mon)

Proyek raksasa Bendungan Myitsone yang disokong Tiongkok sudah lama jadi topik kontroversial di politik Burma. 

Proyek ini dihentikan oleh bekas Presiden Thein Sein. 

Begitu pemerintahan baru berkuasa, Tiongkok melobi keras supaya proyek ini dimulai kembali. 

Banyol Mon pergi ke Kachin untuk menulis laporan ini. 

Murid-murid TK di Kachin ini berlatih menyanyikan lagu bersama guru mereka. 

“Mata untuk melihat... telinga untuk mendengar... otak untuk berpikir... saya ingin pintar supaya bisa merawat orangtua saya” – begitu lirik lagunya. 

Dengan bantuan kelompok masyarakat sipil, sekolah ini dibuka kembali tiga tahun lalu, setelah proyek Bendungan Myitsone dihentikan. 

Di Desa Tang Hpre, Sein War Htu yang berusia 72 tahun baru tiba di rumah dengan anak-anaknya. 

Keluarga ini dipaksa keluar dari rumah mereka pada 2010 lalu demi pembangunan bendungan. 

Selama beberapa tahun belakangan, mereka tinggal di desa pengungsian. Dia mengaku senang bisa kembali ke rumah. 

“Setiap orang bisa bekerja di sini. Ada yang memotong bambu, memotong kayu, ada yang berburu, mencari ikan atau jadi petani,” kata Sein War Htu.

Nenek Sein War Htu mengaku mereka tak bisa bertani di desa pengungsian. 

Kata dia, tanahnya keras dan tidak ada yang bisa tumbuh di sana. 

Ja Hkawng, 50 tahun, adalah ibu dari 8 anak. Dia adalah satu dari lebih 10 ribu penduduk yang direlokasi karena proyek bendungan ini. 

Mereka yang menolak pindah, ditangkap dan dipenjarakan. 

“Kami tidak mau pindah, tapi tak punya pilihan. Kami sedih meninggalkan tempat lama kami. Begitu orang-orang pindah, sekolah juga dipindahkan ke desa pengungsian. Jadi kami semua harus pergi. Kami hanya bisa berdoa, semoga suatu hari proyek ini akan berhenti dan kami bisa kembali ke rumah,” tutur Ja Hkawng.

Mereka yang pindah mendapatkan sejumlah kompensasi. Tapi itu tak cukup, kata Ja Hkawng. 

“Kami kehilangan begitu banyak. Kebun dan tanah pertanian kami rusak karena tambang emas setelah kami pindah. Sekarang kami khawatir, proyek Bendungan Myitsone akan dimulai kembali. Dan kami khawatir, nanti harus pindah lagi.”

Proyek Bendungan Myitsone adalah kerja sama antara China Power Investmen CPI, Pemerintah Burma dan perusahaan Burma, Asia World. 

Proyek ini dikritik habis begitu dimulai – disertai unjuk rasa besar-besaran. Ujungnya, presiden saat itu, Thein Sein, menghentikan pembangunan bendungan tersebut. 

Sekarang, dengan pemerintahan baru yang dipimpin Aung San Suu Kyi, Duta Besar dan sejumlah perusahaan Tiongkok melobi penduduk Myitsone untuk mendukung proyek ini lagi. 

“Burma membutuhkan listrik yang sangat besar. Kita bisa mendapatkan listrik dengan murah lewat tenaga hidro. Prioritas kita adalah menyediakan energi untuk Burma. Kami juga berencana membangun jalan sepanjang 600 kilometer di Kachin. Ini adalah hal yang bagus,” kata Li Guang Hua, juru bicara China Power Investment. 

Meski ada upaya merebut hati penduduk lokal, warga Kachin tetap menolak keras pembangunan bendungan.

Di aksi protes ini, warga Kachin menuntut supaya Sungai Irrawaddy dipertahankan seperti sekarang. 

Dan mereka yang dipaksa pindah harus dibolehkan kembali ke rumah masing-masing. Banyak yang masih tinggal di desa pengungsian meski mereka sangat ingin pulang ke rumah. 

Tu Ja adalah Ketua Partai Pembangunan di negara bagian Kachin.

“Orang-orang sudah lama protes menentang pembangunan bendungan karena merasa hidup mereka ada dalam bahaya. Jika kamu bertanya apakah kami butuh listrik, jawabannya iya. Kami butuh listrik. Tapi yang jadi masalah, lokasi pembangunan bendungan masih tak tersentuh. Jika bendungan dibangun, maka mereka yang tinggal di sepanjang sungai akan menghadapi situasi yang tidak pasti. Inilah kenapa kami tak bisa mendukung ini.”

Sejauh ini belum jelas bagaimana pemerintahan yang dipimpin NLD akan menyelesaikan isu ini. 

Tapi juru bicara NLD, Win Htein mengatakan, mereka mendahulukan kepentingan warga Burma.

Kata dia, ini tergantung pada warga Kachin dan apakah mereka menginginkan proyek bendungan ini atau tidak.

Tapi tak semua percaya begitu saja. Salah satunya adalah Tsa Ji, pendiri Kelompok Jaringan Pembangunan Kachin. 

“Kami sudah beberapa kali bertanya kepada NLD, termasuk Aung San Suu Kyi ketika dia di sini, tapi kami tidak mendapatkan jawaban yang jelas. Kami khawatir, proyek bendungan akan dimulai lagi karena Pemerintah tidak menjawab kekhawatiran warga,” kata Tsa Ji.

Ada begitu banyak uang yang sudah dihabiskan untuk proyek ini, tapi belum jelas bagaimana ujungnya. 

Bagi warga Kachin, masa depan mereka tidak pasti.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!