Tambang emas skala kecil di Lombok. (Foto: Nicole Curby)

Tambang emas skala kecil di Lombok. (Foto: Nicole Curby)

Pertambangan emas ilegal masih marak di Indonesia, termasuk pertambangan berskala kecil. 

Masih ada yang memakai merkuri atau atau air raksa dalam proses ekstraksi mendapatkan emas. Padahal merkuri termasuk logam berat beracun.

Dari Lombok, Nicole Curby mencoba mencari tahu berapa sering pemakaian merkuri dan apa dampaknya terhadap masyarakat sekitar. 

Lombok punya pemandangan yang indah dengan perbukitan hijau, pantai yang indah, pohon kelapa dan persawahan yang menghijau.


Tapi keindahan ini banyak yang rusak akibat banyaknya lubang galian.

Di tengah kepulan debu, para penambang berjudi dengan hidup mereka demi mendapat emas.

Bekerja dengan sumber daya yang terbatas, mereka tergabung dalam kelompok-kelompok kecil dan kerap memilih metode yang paling murah dan cepat.

Beberapa penambang bahkan menggali lubang di halaman rumah mereka.

Meski metode yang lebih ramah lingkungan secara perlahan mulai diadopsi, masih banyak penambang yang memakai merkuri yang beresiko bagi kesehatan.

Dokter Ardiana Ekawanti adalah peneliti medis di Universitas Mataram. Selama lima tahun, dia mempelajari soal pertambangan rakyat di Sekotong, di barat daya pulau itu.

“Di lapangan kami melihat hampir setiap rumah ada penambangan. Mereka bahkan mengekstrak emas di rumah. Dan kami khawatir mereka melibatkan anak-anak dalam proses ini. Karena itu industri rumah rangga, anak-anak kerap dilibatkan untuk memecahkan bijih, menuang merkuri, atau bahkan membakar campuran,” kata dokter Ardiana.

Dokter Ardiana mengatakan para penambang bahkan mengekstrak emas dengan membakar merkuri di dapur mereka.

Ini mengakibatkan logam berat beracun itu bisa merembes langsung ke dalam pasokan air dan rantai makanan dan berdampak pada seluruh masyarakat.

“Tidak hanya penambang yang akan merasakan dampaknya tapi juga orang-orang di sekitarnya. Seperti anak-anak, perempuan hamil, dan orang tua,” tambahnya.

Ketika saya berkunjung ke desa Sekotong, saya disambut sekelompok anak yang tampak antusias.

Tapi ketika saya bertanya berapa usia mereka, saya terkejut karena mereka tampak sangat muda.


Survei pemerintah di desa itu mengungkapkan ada 47 persen anak usia sekolah  menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan terhambat. Sementara di dearah lain di NTB angkanya sekitar 17 persen.

Tidak jelas apakah ada kaitan secara langsung antara pertumbuhan yang terhambat  dengan penggunaan merkuri.

Tapi kajian yang dilakukan dua LSM, BaliFokus dan Medicuss Foundation, menunjukkan jumlah pertumbuhan yang terlambat dan cacat lahir lebih tinggi di daerah-daerah tempat penambangan liar marak di Indonesia.

Tapi meski penambang sadar akan risiko ini, masih ada yang terpikat dengan upah yang lebih tinggi dan kemungkinan mendapatkan keuntungan.

“Tapi kalau kita tidak kerja begini, tidak bisa cari uang lain. Sulit. Paling kalau  kita kerja di bangunan Rp50 ribu satu hari, gaji. Kalau di sini ada lebihnya. Kadang-kadang kalau kita hitung, kadang kadang 150 ribu masuk setiap hari. Sama kan, minum, kadang kadang. Bisa makan, minum. Belum kaya. Tapi banyak yang kaya,” tutur seorang penambang bernama Rian.

Kampanye meningkatkan kesadaran soal bahaya merkuri mulai menunjukkan hasil  dan sudah ada beberapa perubahan.


Rian mengatakan kepada saya kalau dia dan istrinya sekarang memakai potas dan karbon. Prosesnya memang lebih lama tapi lebih aman daripada menggunakan merkuri.

“Dan menurut orang orang bilang terlalu berbahaya kalau kita pakai merkuri. Itu sebabnya kita berhenti. Takutnya. Tapi kita kan selalu waspada, supaya orang tidak sakit. Makanya kita berhenti pakai merkuri, tapi kita pakai yang ini [karbon]. Tidak terlalu berbahaya kalau pakai ini,” katanya. 

Tapi pertambangan emas skala kecil adalah industri yang bergerak cepat. Ketika emas di suatu daerah makin sulit ditemukan, para penambang dengan cepat pindah ke daerah yang lebih menguntungkan.

Sementara kesadaran akan risiko yang ditimbulkan tidak selalu bergerak dengan cepat. Itu merupakan tantangan yang terus menerus dihadapi kata Budi Susilorini, direktur LSM Pure Earth.

“Kami memastikan tidak hanya bicara dengan para penambang karena banyak dari mereka bukan penduduk lokal. Karena sangat penting untuk bicara dengan penduduk setempat, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah. Karena setiap kali ada orang baru yang datang dan mereka harus dibuat sadar akan bahaya yang bisa muncul,” jelas Budi.

Pada 2013 Indonesia menandatangani Konvensi Minamata untuk menghapus secara bertahap pemakaian merkuri.

Meski perdagangan dan penggunaan merkuri termasuk ilegal di Indonesia, larangan ini jarang ditegakkan. Bahkan, harga merkuri saat ini lebih murah dan mudah didapat.

Dampak kesehatan yang diakibatkan pemakaian merkuri baru dirakasakan setelah 5 hingga 20 tahun. Dan saat ini, desa-desa yang menjadi tempat pertambangan emas skala kecil belum mengalami dampaknya secara luas.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!