Salah satu adegan di film Tiga Dara. (Foto: MediAN)

Salah satu adegan di film Tiga Dara. (Foto: MediAN)

Film Tiga Dara yang diproduksi pada 1956 merupakan karya sutradara terkemuka Indonesia, Usmar Ismail.

Setelah proses restorasi yang panjang, film lawas ini akhirnya bisa kembali dinikmati di layar lebar.

Jurnalis KBR, Ria Apriyani menyusun ceritanya untuk Anda. 

Film komedi musikal Tiga Dara, karya Usmar Ismail diproduksi tahun 1956. Dibintangi Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak dengan mengambil latar belakang Jakarta pasca revolusi. 

Setelah lebih dari 60 tahun, Tiga Dara akan kembali diputar di bioskop. 

Tapi untuk mewujudkannya, film ini harus melewati proses restorasi yang panjang di Bologna, Italia, selama setahun. Lamanya proses ini karena kondisi celluloidnya yang rusak parah - tertutup jamur, banyak tambalan selotip di sana-sini dan lembarannya bergelombang. 

Akhir 2015, fisik film Tiga Dara yang telah direstorasi, dipulangkan ke Indonesia. Hanya saja, restorasi fisik tak cukup membantu agar nikmat ditonton. Perlu rekayasa digital untuk membuat si film kembali bersih, kata Taufik, salah satu tim restorasi. 

“Di sana kita bersihkan. Jamur kan kadang numpuk gambar. Tapi kadang jamur ada yang udah ngeresep ke emulsi, jadi rusak permanen. Itu ga bisa secara fisik, tapi harus secara digital,” jelas Taufik.

Restorasi digital itu butuh waktu enam bulan dan film Tiga Dara pun siap diputar di bioskop. 

Kepada penonton, Yoki Soufyan, Direktur Utama SA Films menjanjikan tampilan yang jernih, bahkan lebih bagus dari yang biasa ditampilkan di bioskop. 

“Jadi dari situ kita bisa tahu film ini dibikin pada saat dia diputar. Kapan? Jadi bisa ketahuan. Tadinya kita tidak bisa lihat. Juga kemaren itu saya temukan merk pianonya. Merk pianonya bisa kelihatan padahal saya lihat dari laptop bukan dilayar 4K,” kata Yoki.

Proyek restorasi ini menelan biaya hingga Rp 3 miliar. Karena itu Yoki berharap banyak orang yang mau menontonnya. 

Tapi kritikus film, Leila Chudori, ragu Tiga Dara mampu menarik banyak penonton. Sebab, penonton Indonesia tak terlalu menyukai film klasik. 

“Saya nggak tahu. Karena jangankan Tiga Dara yang film klasik yang kemudian diremaster. Film Indonesia aja, orang Indonesia itu sangat milih yang mana yang mereka akan tonton. Saya sih melihatnya ini sebuah upaya yang mesti kita sambut,” kata Leila.

Tiga Dara, adalah film kedua yang direstorasi, setelah Film Lewat Djam Malam. 

Saat ini ada sekitar 70 ribu film klasik yang nasibnya terbengkalai di Sinematek atau Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Selain tempat penyimpanan yang tidak layak, iklim tropis Indonesia juga jadi penyebab rusaknya film-film itu. 

“Kita kepulauan. Udah tropis, garam pula. Nah itu yang membuat banyak medium termasuk kertas, termasuk celluloid, ga sama umurnya dengan tidak memiliki fasilitas penyimpanan yang proper,” jelas sineas SA Film, Alex Sihar.

Bagi Direktur Utama SA Films, Yoki Soufyan, merestorasi film Tiga Dara bukan sekadar romantisme masa lalu, tapi mengingat sejarah Indonesia. Dan belajar memperlakukan karya seni sebagaimana mestinya. 

“Suksesnya Tiga Dara akan memudahkan karena kita punya bukti, film klasik bisa diterima masyarakat.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!