Ilustrasi pelajar India. (Foto: Biswarup Ganguly common.wikipedia.org)

Ilustrasi pelajar India. (Foto: Biswarup Ganguly common.wikipedia.org)

Tekanan teman sebaya dan ketakutan tidak lulus ujian menjadi pemicu kasus bunuh diri di kalangan pelajar di India.

Di Negara Bagian Madhya Pradesh lebih dari 40 pelajar bunuh diri tahun ini akibat hal ini.

Kita simak laporan yang disusun Shuriah Niazi berikut ini.

Maret lalu Abhishek Sahu, 17 tahun, gantung diri beberapa hari sebelum ujian dimulai. Ini adalah tahun terakhirnya di sekolah. 

Abhishek menulis surat permintaan maaf kepada orangtuanya, menceritakan ketakutannya gagal dalam ujian fisika.

Dia menulis ‘Maaf mama dan papa. Saya tidak bisa mengerjakan pelajaran fisika. Saya tidak mau gagal ujian.’

SN Singh adalah kepala sekolah tempat Abhishek belajar.

“Dia seperti pelajar lainnya dan anak yang cukup disiplin. Dia juga aktif dalam berbagai kegiatan. Dari surat perpisahannya, kami bisa melihat kalau dia khawatir tidak bisa lulus ujian fisika. Ketakutan gagal dalam ujian mendorongnya bunuh diri.”

Adityaman Singh, 16 tahun, adalah pelajar kelas 11 di Bhopal, juga di Madya Pradesh.

Dia adalah penyanyi yang cukup populer dan tampil di saluran musik.

Februari lalu, Adityaman, gantung diri di sebuah taman di depan rumahnya.

Sebelum meninggal, dia gagal dalam ujian matematika.

“Penyelidikan kami mengungkapkan sampai kelas 10, Aditya adalah siswa yang cerdas. Saat di kelas 11 dia makin aktif bermusik dan kegiatan lainnya. Akibatnya dia tidak bisa fokus dengan pelajaran sehingga nilainya jadi rendah. Teman-temannya bilang Aditya jadi depresi. Guru kimia dan matematika mengatakan padanya dia harus keluar dari sekolah jika gagal memperbaiki nilainya dalam mata pelajaran ini,” ungkap Rajesh Bhodoria, polisi negara bagian yang menyelidiki kematian Adityaman.

Ibu Adityaman bernama Aparna mengklaim sekolah bertanggung jawab atas kematian putranya.

Menurutnya para siswa menghadapi terlalu banyak tekanan di sekolah sampai pada titik yang merusak.

“Sepulang sekolah, dia tidak langsung pulang. Dia pergi latihan kor selama tiga jam baru pulang ke rumah. Setelah itu dia akan pergi lagi untuk ikut les. Dia terpaksa makan siang di mobil dalam perjalanan. Hari-harinya sangat sibuk dan dia jarang bersantai. Berapa banyak tekanan lagi yang bisa ditanggung seorang pelajar?” kisah Aparna.

Menurut statistik Biro Catatan Kejahatan Nasional atau NCRB dari 2005 hingga 2014, angka bunuh diri pelajar di Madhya Pradesh meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Kasus bunuh diri pelajar meningkat dari 199 kasus pada 2005 menjadi tiga kali lipatnya pada 2014. 

Ini menjadi salah satu alasan pemerintah negara bagian menindak sekolah-sekolah yang menempatkan tekanan yang tidak perlu pada para siswanya.

Menteri Pendidikan Madya Pradesh, Deepak Joshi.

“Kami berencana menyediakan konselor dan psikolog di sekolah. Tujuannya untuk memandu para siswa dan membantu mereka mengatasi stres terkait pelajaran dan ujian. Kami ingin membangun suasana yang kondusif sehingga pelajar tidak merasa seperti melakukan sesuatu yang ekstrim. Kita harus membantu dan mendukung anak-anak yang depresi karena pelajaran.”

Psikolog seperti Dr. Rahul Sharma, mengatakan para guru harus mendorong dan mendukung murid-murid mereka.

“Para guru perlu berhati-hati saat mengomentari prestasi siswa. Guru seharusnya tidak menekan siswa untuk mendapatkan nilai tinggi. Kami melihat anak mengalami diskriminasi bahkan saat di dalam kelas. Siswa yang nilainya bagus lebih diperhatikan sehingga siswa dengan nilai pas-pasan merasa diabaikan. Ini bisa menyebabkan siswa mengalami depresi,” jelas Dr. Rahul Sharma.

Banyak pelajar yakin selain guru dan sekolah, orangtua juga berharap mereka berprestasi.

Saat mereka merasa tidak mampu melakukannya, mereka bunuh diri.

Aafia saat ini duduk di kelas 11.

“Saat ini semua siswa berada di bawah tekanan agar berprestasi. Kompetisi makin berat. Bagaimana Anda bisa berharap kami menjadi normal, saat kami tidak bisa memenuhi harapan. Kami tidak hanya mendapat tekanan dari teman sebaya tapi juga masyarakat,” keluh Aafia.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!