Wesa Chau dan Jeih-Yung Lo (Kanan). (Foto: Jarni Blakkarly)

Wesa Chau dan Jeih-Yung Lo (Kanan). (Foto: Jarni Blakkarly)

Australia melaksanakan pemilu nasional pekan lalu.

Dalam kampanye, ada sesuatu yang tidak pernah ditawarkan partai politik yaitu para kandidat yang mencerminkan keberagaman budaya yang terus tumbuh di Australia.

Koresponden Asia Calling KBR, Jarni Blakkarly, mencari tahu penyebabnya.

Di Australia, Anda kerap mendengar para pemimpin politik yang menyatakan kalau negara itu adalah masyarakat multikultural yang paling berhasil di dunia. 

Dan itu benar adanya. Di negara ini, kekerasan rasial sangat jarang terjadi dan kebijakan Australia putih, sudah lama dihapus.

Tapi masyarakat Australia jauh dari setara. Masyarakat Aborijin dan Selat Torres, contohnya, mengalami kemiskinan dalam tingkatan yang sangat signifikan dan pemenjaraan.

Selain itu keberagaman budaya dalam politik masih kurang.

“Kami ingin ada keberagaman di parlemen karena keberagaman adalah petunjuk sehatnya sebuah sistem. Bila sistem politik sehat, maka demokrasi akan berjalan,” kata Jen Kwok, peneliti di Universitas Queensland dan anggota pendiri Kaukus Demokrasi Australia Asia. 

Ini adalah kelompok lobi yang fokus pada meningkatkan keberagaman budaya di parlemen.

Jumlah orang Asia Australia di sana hampir 10 persen dari keseluruhan penduduk. Tapi hanya dua persen yang duduk di parlemen. Sedangkan penduduk asli Australia yang jadi politisi di Canberra hanya satu persen.

Kata Jen, kurangnya keberagaman ini mencerminkan dinamika politik yang lebih luas.

“Partai politik adalah penjaga bentuk hubungan politik di Australia. Partai politik itu lebih mirip klub ketimbang lembaga sipil. Mereka punya budaya dan prioritas tertentu. Dan ini berkontribusi pada perpecahan, tidak hanya dari penduduk Asia Australia atau imigran tapi juga warga Australia yang tidak puas.”

Jen bukan satu-satu yang berharap ada perubahan. Wesa Chau dan Jieh-Yung Lo adalah anggota Partai Buruh Australia, satu dari dua partai utama di negara itu.

Tahun lalu, mereka mendirikan kelompok Poliversity untuk mendorong lebih banyak keberagaman budaya dalam partai mereka.

Wesa yang maju dalam pemilu sebelumnya mengatakan partai politik Australia perlu mengubah cara berpikir mereka soal keberagaman politik.

“Bila kita berpikir soal multikulturalisme, kita berpikir soal kesejahteraan dan kebutuhan untuk berubah. Akan lebih baik jika kita bisa merangkul keduanya,” kata Wesa.

Jieh-Yung mengatakan banyak imigran ketika pertama kali tiba di sebuah negara baru, tidak berpikir soal politik. Tapi ini tidak berlaku pada anak-anak mereka.

“Generasi kedua atau ketiga masyarakat dengan latar belakang multikultural seperti kami, menawarkan lebih dari sekedar hubungan multikultural,” jelas Jieh Yung. 

“Dan menurut saya, Partai Buruh harus mengembangkan pemahaman yang lebih kuat soal keberagaman dalam budaya keberagaman. Dan untuk itu mereka perlu bergerak secara aktif. Kami sudah memulainya.” 

Tapi bagaimana meningkatkan keberagaman itu pertanyaan lain.

Di masa lalu, langkah afirmatif atau kuota digunakan untuk mendorong keterwakilan perempuan di Partai Buruh.

Tapi hanya sedikit minat untuk meniru cara ini agar tercapai keberagaman budaya yang lebih luas. Dan akademisi seperti Jen mempertanyakan keefektifan langkah ini.

Alex Bhathal dari Partai Hijau, partai sayap kiri yang kini merupakan partai ketiga terbesar di sana.

Dia mengatakan aturan yang mempersulit keluarga untuk bermigrasi bersama-sama, merusak tujuan itu.

“Kami telah meninggalkan program migrasi reuni keluarga di negeri ini. Jadi sekarang ketika orang-orang tiba dari Korea Selatan atau negara lain, mereka tidak bisa mendapat dukungan keluarga. Akibatnya membangun rekam jejak yang kuat soal kontribusi kepada partai, menjadi sulit,” kata Alex. 

Dia tidak yakin dengan penggunaan sistem kuota untuk keterwakilan komunitas migran.

Tapi Alex mengatakan langkah ini mungkin bisa membantu calon dari penduduk asli dan sudah berhasil diterapkan di negara tetangga, Selandia Baru.

“Partai Hijau dan partai lain di Australia sudah menempuh jalan panjang untuk menciptakan posisi bagi penduduk asli, orang Aborijin dan Selat Torres, di dalam struktur dan partai mereka. Australia kekurangan kontribusi besar dari kelompok ini.”

Dan saat ini pun kondisinya belum membaik. 

Setelah pemilu federal yang akan datang, tampaknya masih sangat sedikit keterwakilan dari latar belakang yang berbeda. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!