Anak-anak Tiongkok sehabis latihan sepak bola. (Foto: Abhijan Barua)

Anak-anak Tiongkok sehabis latihan sepak bola. (Foto: Abhijan Barua)

Ketika Tiongkok berlaga di Piala Dunia 2002, tim negara itu kalah di tiga pertandingan dan pulang tanpa gol.

Meski orang Tiongkok sangat menyukai sepak bola, tim nasional mereka jarang membawa kemenangan bagi para penggemarnya.

Tapi seperti yang dilaporkan koresponden Asia Calling KBR, Abhijan Barua dari Beijing, ada rencana besar untuk mengubah keberuntungan negara itu.

Presiden Tiongkok yang juga penggemar sepak bola, Xi Jinping, punya target ambisius bagi masa depan sepak bola negara itu.

Ada dua puluh ribu sekolah sepak bola di Tiongkok pada 2020 dan mencapai 50 ribu sekolah pada 2025.

Sejak sang presiden mengumumkan 50 poin rencana sepak bola tahun lalu, sudah ada banyak perbincangan soal keinginan Tiongkok mendominasi sepak bola dunia. Bahkan kemungkinan ikut Piala Dunia pada 2050.

Tapi bagi Rowan Simons, kepala Klub Sepak Bola Tiongkok, rencana ini sangat berlebihan.

“Tidak mudah mencapai 20 ribu sekolah bola, jadi tuan rumah Piala Dunia dan jadi Juara Piala Dunia. Saya berharap masyarakat paham kalau ini adalah perubahan kebijakan bersejarah di Tiongkok. Perubahan yang melepaskan olahraga dari kontrol pemerintah dan meminta masyarakat dan para ahli mengambil alih dan mengembangkannya,” kata Rowan.

Salah satu dari rencana itu adalah pemisahan Asosiasi Sepak Bola Tiongkok dari pemerintah. 

Tapi ini tidak serta merta bisa menjadikan Tiongkok juara Piala Dunia tahun 2050.

Rencana lain adalah mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia dan menjadikan tim sepak bola Tiongkok makin kompetitif secara global. 

Bagi Rowan ini bukan tujuan utama. 

“Tiongkok ingin memenangkan Piala Dunia dan itu harus dalam 4, 6, atau 8 tahun. Padahal rencana itu menyebutkan ada rencana jangka panjang untuk 30 tahun. Dan sebenarnya kita tidak mencari hasil. Definisi keberhasilan adalah ada jutaan orang yang berpartisipasi dalam olahraga ini karena mereka menikmatinya,” tutur Rowan.

Para orangtua di Tiongkok enggan membiarkan anak-anak mereka berolahraga karena khawatir mengganggu sekolah anak-anak mereka.

Tapi 50 poin rencana Xi Jinping menjadikan sepak bola pelajaran wajib di sekolah dasar dan menengah. Jadi, jika siswa tidak punya waktu main sepak bola di luar sekolah, mereka bisa bermain saat pelajaran kesehatan jasmani.

Putra Lv Fang adalah anggota Klub Sepak bola Tiongkok. Kata dia, main sepak bola membuat keseimbangan putranya makin baik.

“Menurut saya olahraga tidak akan menggangu sekolahnya. Malah bisa membantu. Jika anak-anak mau bermain bola, mereka harus menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Efisiensi belajar mereka pun meningkat," kata Lv Fang.

Yang hilang dari rencana besar Tiongkok saat ini, kata Rowan, adalah kurangnya pelatih. 

Saat ini Klub Sepak Bola Tiongkok punya 14 pelatih asing berkualitas dan hanya sedikit pelatih lokal.

Karenanya, mencari pelatih yang tepat untuk 20 ribu sekolah sepak bola tentu jadi tantangan besar.

“Kalau mengikuti model Eropa, maka satu pelatih akan mendampingi maksimal 20 anak. Tapi pelatih Tiongkok mengaku bisa melatih sampai 45 anak sehingga waktunya kerap tidak cukup. Jadi rencana ini tidak cocok,” jelas Rowan.

Dan bahkan bila jumlah pelatih cukup, masalah lain yang harus dihadapi adalah kurangnya liga bagi pemain muda.

Pelatih sepak bola, David Webber, mengatakan peluang untuk bertanding sangat jarang.

“Ini tidak seperti Anda berlatih pada hari Selasa dan Kamis lalu bertanding di hari Sabtu. Mungkin ada kompetisi sekolah yang berlangsung selama beberapa minggu dan kemudian anak-anak berlatih kembali. Jadi apa gunanya berlatih kalau tidak bertanding?” tanya Webber.

Mungkin ketidakpastian terbesar adalah rencana Presiden Tiongkok Xi Jinping sendiri, mengingat masa jabatannya akan berakhir pada 2022.

Bagaimana jika penggantinya tidak melanjutkan rencana ini?

Rowan mengatakan pada akhirnya tanggung jawab terletak pada masyarakat Tiongkok sendiri.

“Jika sepak bola dan masyarakat sendiri tidak bisa membuat sepak bola menjadi bagian dari budaya mereka, saya pikir Tiongkok harus menyerah. Dan saya harus mempertimbangkan untuk menyerah,” ungkap Rowan.

Ini bukan tentang Piala Dunia atau mendominasi sepak bola dunia. Belum sampai ke sana. 

Dalam 50 poin rencana sepak bola, ada poin untuk mengembangkan infrastruktur dan melibatkan warga Tiongkok untuk berpartisipasi.

Itulah yang harus dilakukan terlebih dahulu.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!