Minh Doung pulih dari trauma akibat serangan rasial dengan bermain piano. (Foto: Jarni Blakkarly)

Minh Doung pulih dari trauma akibat serangan rasial dengan bermain piano. (Foto: Jarni Blakkarly)

Meski secara umum Australia adalah tempat yang aman bagi migran Asia, namun kejadian serangan dan kekerasan rasial tetap ada. 

Minh Doung, mahasiswa Vietnam yang sedang kuliah di Melbourne, menjadi korban serangan rasial brutal tahun 2012.

Serangan itu hampir merenggut nyawanya. Di masa pemulihannya yang panjang, dia dibantu seorang guru piano yang bersimpati atas apa yang terjadi padanya.  

Kita simak kisah yang disusun koresponden Asia Calling KBR, Jarni Blakkarly, dari Melbourne berikut ini. 

Minh Doung berusia 25 tahun dan berasal dari Vietnam.

Dia pindah ke Australia sebagai pelajar internasional di sebuah sekolah menengah lalu melanjut kuliah di jurusan akuntasi. 

Namun di tahun 2012, dia diserang secara brutal dalam perjalanan pulang dari tempat kerja oleh sebuah kelompok neo-nazi. Dia ditendang, ditusuk dan kepalanya dipukul dengan batu bata.

Dua penyerangnya kemudian dijatuhi hukuman penjara yang cukup lama. 

“Butuh waktu enam bulan untuk menyembuhkan luka-luka di tubuh saya. Akibat serangan itu, saya kehilangan gigi depan,” kisah Minh,

Butuh waktu tiga tahun bagi Minh untuk mendapatkan kompensasi yang kemudian digunakan untuk memperbaiki giginya.

Tak lama setelah serangan itu, seorang guru piano bernama Adrian de Luca, menawarkan bantuan kepada Minh.

“Saya ingin dia tahu kalau Australia tidak bisa diwakilkan oleh orang-orang seperti itu,” kata Adrian.

Keduanya pun bersahabat dan Adrian mulai mengajari Minh bermain piano. 

Adrian berharap Minh bisa mengekspresikan dirinya lewat musik dan bisa sembuh dari trauma akibat serangan itu.

“Minh tidak pernah menyentuh piano atau alat musik lain sebelumnya. Mungkin karena dia seorang akuntan, dia melihat musik seperti persamaan matematika. Awal belajar permainannya statis tapi pelan-pelan Minh mulai menunjukkan emosinya,” jelas Adrian.

Ini alasan Minh menerima tawaran Adrian.

“Saya menyukainya karena saya suka tantangan. Saya suka mencoba sesuatu yang baru. Karena hidup kita terbatas, Anda harus mencoba sesuatu yang baru selama Anda hidup. Saya ingin merasakan semua hal yang tidak pernah saya coba sebelumnya. Itu sebabnya saya mau ketika Adrian menawari saya belajar musik.”

Empat tahun berlalu pasca serangan itu dan kuliah Minh juga sudah selesai. 

Kini dia tengah mengajukan permohonan mendapatkan izin tinggal permanen di Australia.

Dia juga tampil di panggung bersama Adrian. Meski cita-citanya tetap menjadi seorang akuntan, dia tidak akan berhenti bermain musik. 

“Anda tidak perlu bicara. Saya menggunakan musik untuk bercerita dan ini cara yang istimewa. Saya merasa istimewa. Para penonton bisa mendengarkan dan mengerti kisah saya lewat musik yang saya mainkan,” terang Minh. 

“Ya saya ingin bermain musik sampai saya sudah tidak berdaya....” tekad Minh.  

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!