Keluarga aktivis ADHOC Kamboja yang ditangkap atas tuduhan menyuap saksi. (Foto: Borin Noun)

Keluarga aktivis ADHOC Kamboja yang ditangkap atas tuduhan menyuap saksi. (Foto: Borin Noun)

Mei lalu, empat anggota senior Asosiasi Hak Asasi Manusia dan Pembangunan Kamboja, ADHOC. ditangkap dengan tuduhan menyuap saksi.

Sementara dua orang lainnya, satu bekas pegawai ADHOC dan satu lagi staf di kantor Komisioner Tinggi HAM, PBB, (UNOHCHR) juga didakwa terlibat. Yang disebutkan terakhir disidang secara in absentia. 

Tapi para kritikus mengklaim tuduhan itu bermotif politik dan ada kaitannya dengan pemilu yang akan berlangsung.

Koresponden Asia Calling KBR, Borin Noun, bertemu keluarga korban di ibukota Phnom Penh.

Di kawasan miskin di Phnom Penh inilah, tempat tinggal Ny Sokha, ketua kelompok HAM ADHOC. 

Sokha dipenjara dengan tuduhan ‘menyuap saksi’ awal Mei lalu. Ini terkait skandal seks yang melibatkan wakil pemimpin oposisi, Kem Sokha.

Istrinya Men Leakina yang sedang hamil besar, ini anak keenam mereka. Kata dia, suaminya tidak bersalah.

Tiga staf ADHOC lainnya, Nay Vanda, Yi Soksan dan Lim Mony juga ditangkap bersama Sokha.

Mereka dituduh menyakinkan perempuan yang diduga pacar Kem Sokha untuk berbohong pada petugas soal dugaan perselingkuhan.

Pheav Mey adalah istri Nay Vanda, salah seorang yang ditangkap. Dia juga meminta pemerintah membatalkan kasus terhadap suaminya.

“Saya ingin pemerintah dan pengadilan mempertimbangkan kejahatan yang dituduhkan pada suami saya. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak bersalah dan tuntutan terhadap dia tidak terbukti,” tuntut Pheav Mey.

Dalam sebuah pernyataan, Human Right Watch mengecam penangkapan itu. 

Mereka menggambarkan langkah ini bermotif politik dan bagian dari kampanye membatasi pengawasan lembaga HAM dari dalam maupun luar negeri terhadap negara itu. 

Lebih dari 50 LSM di Kamboja juga mengkritik penangkapan itu.

Koalisi LSM tersebut menyebut penangkapan itu adalah ‘penyerangan terhadap masyarakat sipil menjelang pemilu lokal dan nasional’.

Lim Mony adalah penyidik di ADHOC, yang fokus pada isu hak-hak perempuan. 

Seperti rekan sejawatnya, dia juga dituntut dengan tuduhan penyuapan.

Putrinya yang berusia 20 tahun, Aun Ponnary, marah dengan berita ini.

“Apa yang ibu saya lakukan? Hukum apa yang dia langgar? Ibu saya sudah memperjuangkan keadilan sosial selama 20 tahun. Tidak mungkin dia bersalah,” kata Aun Ponnary.

Pelajar bernama San juga berupaya mencari tahu lebih banyak soal penangkapan ayahnya, Yi Soksan.

Dia mengaku teman-teman sekelas mendorongnya berjuang mencari keadilan.

“Teman-teman saya benci ketidakadilan dan mereka mendorong saya untuk membela ayah. Biasanya saya anak yang pemalu tapi teman-teman mendorong saya untuk berjuang demi ayah. Karena saya yakin dia tidak bersalah.”

Tanggal persidangan para penyidik ADHOC itu belum ditetapkan. Jika terbukti bersalah mereka terancam dihukum penjara lima hingga 10 tahun. 

Tapi para kritikus mengatakan mereka bisa dibebaskan jika ada rekonsiliasi politik antara partai berkuasa dan partai oposisi yang berpengaruh.

Sementara pengamat dan organisasi HAM internasional terus mengawasi jalannya kasus ini.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!