Banjir di Aceh Utara Meluas, Pengungsi Bertambah 15 Ribu Jiwa

Debit air sungai yang deras menyebabkan banjir di Aceh Utara terus meningkat dan meluas. Saat ini BPBD masih mendata jumlah pengungsi di lapangan yang terus bertambah.

Selasa, 05 Des 2017 14:17 WIB

Warga melewati banjir di Ibukota Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (5/12/2017). (Foto: KBR/Erwin Jalaluddin)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Aceh Utara – Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh terus meluas. Banjir yang sebelumnya melanda 19 kecamatan pada Jumat (1/12/2017) lalu, kini meluas hingga 23 kecamatan. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Utara mencatat ada 15.475 warga mengungsi ke pos-pos pengungsian yang tersebar di berbagai tempat.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Aceh Utara, Khairuddin mengatakan debit air sungai yang deras menyebabkan banjir di Aceh Utara terus meningkat dan meluas. Saat ini BPBD masih mendata jumlah pengungsi di lapangan yang terus bertambah karena meluasnya wilayah terkena banjir. 

"Soal logistik, Pemda sudah menangani terutama dari dinas sosial dan Kita sendiri terjun yang membantu para korban untuk evakuasi. Dan, untuk infrastrukturnya sedang melakukan pendataan oleh dinas terkait, misalnya Dinas Pekerjaan Umum (PU) terkait tanggul sungai yang jebol dan juga dinas-dinas lain, ” kata Khairuddin menjawab KBR, Selasa (5/12).

Banjir melanda 23 kecamatan antara lain Matangkuli, Pirak Timu, Syamtalira Aron, Syamtalira Bayu, Seunuddon, Baktiya, Baktiya Barat, Tanah Jambo Aye, Samudera, Kuta Makmur, Tanah Luas, Langkahan, Lhoksukon, Sawang, Muara Batu, Geureudong Pase, Simpang Kramat, Lapang, dan Nisam Antara, Dewantara, Paya Bakong, Banda Baro, dan Kecamatan Cot Girek. 

Dari pantauan di lapangan, ketinggian banjir di Aceh Utara bervariasi antara 50 sentimeter hingga 1,5 meter. BPBD bersama tim SAR, TNI/Polri dan relawan masih terus mengevakuasi warga di titik-titik banjir.

Baca juga:


Lahan pertanian warga terendam banjir di Kabupaten Aceh Utara, Senin (5/12/2017). (Foto: KBR/Erwin Jalaluddin) 

Terancam puso

Selain merendam rumah warga, banjir di Aceh Utara juga merendam ribuan hektar sawah. Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Utara mencatat ada 6,941 hektare lahan pertanian padi di 19 kecamatan yang terancam puso atau gagal panen karena terendam banjir. 

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Utara Salahudin mengatakan rata-rata sawah tergenang banjir hingga setinggi 1,5 meter.

Salahuddin mengatakan sampai saat ini pemerintah daerah masih mendata seluruh lahan pertanian yang terkena dampak banjir agar lebih akurat. Pemerintah juga masih memverifikasi nilai kerugian yang disebabkan banjir di Aceh Utara. 

"Kami masih memantau lahan yang terkena banjir dulu. Minimal perlu waktu tiga hari untuk menentukan apakah akan puso atau tidak. Mungkin hari ke-4 dan ke-5 nanti kami sudah mendapat gambaran berapa yang puso atau mati. Kalau sekarang masih kami data dulu yang terkena banjir, kondisinya bagaimana," kata Salahuddin kepada KBR, Selasa (5/12/2017). 

Salahuddin menambahkan pemerintah daerah akan mengupayakan agar petani yang lahan pertaniannya dirusak banjir supaya mendapat bantuan dalam bentuk Sarana Produksi Padi (Saprodi) dari Pemprov Aceh dan Kementerian Pertanian RI.


Dinas Pertanian Aceh Utara juga mencatat ada sekitar 59 hektare lahan tanaman kedelai dan 35 hektare lahan pertanian jagung ikut terendam banjir. Dinas Pertanian belum menghitung dampak kerugian total dari sektor pertanian yang ditimbulkan banjir bandang tersebut.

Banjir di wilayah Aceh Utara terjadi setelah curah hujan tinggi mengguyur kawasan perbatasan di atas pegunungan Kabupaten Bener Meriah. Akibatnya, beberapa sungai di Aceh Utara, meluap. 

Banjir juga mengakibatkan ratusan siswa di empat kecamatan di Aceh Utara gagal mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) semester ganjil. Para siswa itu tidak dapat mengikuti ujian setelah banjir bandang merendam gedung sekolah di Kecamatan Lhoksukon, Cot Girek, Matangkuli, dan Pirak Timu.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".