Penyusup Istana Ingin Temui Jokowi

"Yang bersangkutan menghilang, ternyata dia datang ke Istana Negara," kata Argo.

Selasa, 14 Nov 2017 13:33 WIB

Istana negara. (Foto: presidenri.go.id/Publik Domain)

KBR, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) membenarkan adanya kasus penyusupan ke Istana Negara, pada Senin (13/11/2017) sore pukul 18.30 WIB.

Juru bicara Polda Metro Jaya, Argo Yuwono mengatakan pelaku bernama Basufi Tarsiwan berusia 39 tahun. Argo mengatakan dari pemeriksaan polisi, penyusup itu bukan anggota atau simpatisan kelompok ISIS.

"Setelah kami periksa, dia tidak pernah menyampaikan dari kelompok ISIS," kata Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Berdasarkan pemeriksaan pelaku dan kakak pelaku, polisi mendalami kronologi kejadian. Menurut Argo Yuwono, Basufi ternyata berniat pulang dari Tangerang, Banten menuju Banyumas Jawa Tengah. Namun, Basufi mendadak hilang ketika tiba di Jakarta.

"Yang bersangkutan menghilang, ternyata dia datang ke Istana Negara," kata Argo. 

Argo mengatakan pelaku mengaku menerobos Istana Negara untuk bertemu Presiden. Gara-gara itu, Basufi langsung ditangkap. Menurut Argo, ada ketentuan yang mesti dipatuhi untuk bertemu pimpinan negara.

"Sebagai lambang negara kita, simbol negara kita, kan harus ada prosedur yang harus dilalui. Tapi dia langsung masuk ke pintu dua," kata Argo.

Berdasarkan keterangan keluarga pelaku, kata Argo, Basufi pernah berobat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banyumas pada 2016 selama tiga bulan.

Saat ini pelaku penyusupan Istana Negara itu masih ditangani oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Gambir.

Ini merupakan kali kedua adanya kasus penyusupan ke lingkungan Istana. Pada Agustus lalu, seorang berinisial B juga mencoba menyusup ke Istana Kepresidenan. Pria itu merupakan warga Cengkareng, Jakarta Barat. 

Pelaku mencoba masuk Istana lewat  gerbang di Jl Medan Merdeka Utara dengan kondisi tanpa pakaian. Pada saat diinterogasi pasukan pengamanan Istana, pelaku mengaku ingin menikah. Paspampres menduga pelaku mengalami gangguan jiwa.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.