Novel 

Perkembangan polisi patut diapresiasi, meski dengan catatan: kenapa butuh waktu begitu lama? Polisi beralasan kasus ‘hit and run’ yang dialami Novel sulit terungkap.

Senin, 27 Nov 2017 05:12 WIB

Ketua KPK dan Kapolda Metro Jaya menunjukkan sketsa terduga pelaku penyiram air keras

Ketua KPK Agus Rahardjo bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis menunjukkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Akhirnya, ada perkembangan baru juga untuk teror terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK, Novel Baswedan. Seperti kita tahu, Novel disiram air keras pada April lalu hingga matanya nyaris buta. Setelah tujuh bulan, polisi baru-baru ini mengumumkan dua sketsa terduga pelaku penyiraman tersebut. 

Sketsa dibuat setelah polisi memeriksa 66 saksi, juga bekerjasama dengan beberapa pihak untuk menyelidiki CCTV di tempat kejadian perkara. Polisi haqul yakin: ini sudah 90 persen sesuai dengan wajah terduga pelaku. Polisi bahkan membuka jalur telepon khusus yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk melaporkan informasi apa pun terkait kedua terduga pelaku penyiraman air keras ini. Sampai kemarin, sudah 200-an orang yang menelfon - lebih karena penasaran, bukan karena punya informasi yang berguna bagi penyelesaian kasus. 

Perkembangan polisi patut diapresiasi, meski dengan catatan: kenapa butuh waktu begitu lama? Polisi beralasan kasus ‘hit and run’ yang dialami Novel sulit terungkap. Bahkan sempat disebut, kasus seperti ini bisa makan waktu empat tahun baru selesai. Tentu kita semua, terlebih Novel, tak ingin menunggu selama itu untuk menuntaskan kasusnya. Sekarang, polisi menurunkan 167 penyidik dari Polres, Polda dan Mabes Polri untuk menuntaskan kasus ini. Penyidik di Polda bahkan dibebastugaskan dari perkara lain. 

Polisi ada di tengah sorotan dan tekanan terus menerus untuk menuntaskan kasus ini. Mulai dari dipanggil Presiden Joko Widodo sampai didatangi berbagai tokoh yang minta pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Teror terhadap Novel sesungguhnya adalah teror bagi kita semua yang tengah berperang melawan korupsi. Kita menuntut polisi serius membuktikan komitmennya, dan sketsa dua terduga ini jadi titik mula yang wajib kita kawal terus.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.