Musik Tradisional Menginspirasi Generasi Baru Afghanistan

Selama beberapa dekade, musik dilarang di Afghanistan. Saat Taliban muncul lagi, musik kembali dibatasi di beberapa provinsi.

Senin, 13 Nov 2017 10:07 WIB

Eisa Qaderi sedang membuat Rohbab. (Foto: Ghayor Waziri)

Eisa Qaderi sedang membuat Rohbab. (Foto: Ghayor Waziri)

Selama beberapa dekade, musik dilarang di Afghanistan. Saat Taliban muncul lagi, musik kembali dibatasi di beberapa provinsi.

Tapi, seperti dilaporkan Ghayor Waziri di Kabul, dalam kondisi ini musik tradisional mengalami kebangkitan. 

Ada jalan ramai di kota tua Kabul yang menjadi magnet bagi pecinta musik. Saya datang kemari, ke Khara bat Lane, untuk menemui Eisa Qaderi yang berusia 63 tahun. Dia adalah pembuat alat musik tradisional Afghanistan yang terkenal.

“Saya sudah melakukannya sejak kecil. Saya belajar dari ayah saya. Ayah belajar dari ayahnya. Ini diajarkan secara turun temurun,” tutur Qaderi.

Eisa Qaderi sedang membuat Rohbab. Ini adalah sebuah alat musik senar yang dipegang seperti gitar dan dimainkan dengan cara dipetik. Dia juga membuat alat musik senar yang lebih kecil, Tumbor dan Dambora.

Qaderi membuat alat musik dari kulit kambing dan kayu murbei yang berasal dari provinsi utara Afghanistan. Kayu itu dilubangi, diukir dan dipoles dengan tangan.

Sementara senar dan tiram dekoratif diimpor dari Pakistan, sebuah negara yang kini sangat dikenal Qaderi.

“Ketika Taliban menguasai Kabul, saya meninggalkan Afghanistan dan pergi ke Pakistan. Saya tinggal di sana selama dua belas tahun. Setelah Taliban jatuh, saya kembali ke rumah dan mulai lagi di sini. Dalam beberapa tahun terakhir musik kembali berkembang, terutama di kalangan generasi muda. Sebagian besar pelanggan kami adalah kaum muda yang menyukai musik,” jelas Qaderi.


Rostam Gafoori yang berusia 25 tahun mulai menyanyi tujuh tahun lalu. Dia datang kemari membeli Rohbab untuk mengiringi lagu-lagu tradisional.

Rostam mengatakan dia ingin menjadi penyanyi terkenal suatu hari nanti.

Ketika Taliban jatuh pada 2001, generasi baru mulai tertarik pada musik dan alat musik. 

Mereka mengatakan menyukai bunyi-bunyi yang akrab di telinga yang berasal dari alat musik tradisional. Selain itu mereka juga bangga dengan budaya Afghanistan.

Tapi sejak 2008, kekuasaan Taliban mulai meningkat kembali terutama di provinsi-provinsi bagian barat dan selatan. 

Di daerah tersebut, musik sekali lagi dibatasi. Masyarakat tidak boleh  bermain atau mendengarkan musik. Kini para pecinta musik berdatangan ke Kabul.

Seperti Shireen Tawhidi yang berusia 18 tahun. Dia berasal dari Provinsi Ghazni yang dikuasai Taliban. Sudah empat tahun ini dia belajar memainkan sitar di Kabul.

“Di Provinsi Ghazni tidak aman. Saya datang ke Kabul untuk belajar musik. Menurut saya kebanyakan gadis suka musik dan mereka mau mendengarkannya. Itu sebabnya saya ingin jadi musisi. Kabul aman untuk anak perempuan dan ada lebih banyak kesempatan untuk belajar musik,” kata Tawhidi.

Tapi para musisi populer menyanyikan lagu-lagu lama dengan alat musik modern, seiring orang Afghnistan yang mulai meninggalkan tradisi budaya mereka.


 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Penggantian Ketua DPR Dinilai Tak Perlu Tergesa-gesa

  • PKB: Keputusan Golkar Terkait Posisi Setnov Menyandera DPR
  • Mendagri: Usulan Tim Gubernur Anies Melebihi Kapasitas yang Diatur Undang-undang
  • Golkar Resmi Dukung Khofifah-Emil di Pilkada Jatim