Antisipasi Bencana Alam

Data BNPB menyebut, terjadi bencana longsor di Jawa Barat antara 2005-2017 sebanyak 994 kejadian. Longsor menyebabkan 636 orang meninggal dunia, dan 83.479 jiwa mengungsi.

Kamis, 02 Nov 2017 05:54 WIB

Warga dan TNI membersihkan lumpur tanah longsor

Warga dan TNI membersihkan lumpur tanah longsor di Pangandaran (foto: Antara/Adeng Bustomi)

Musim hujan telah tiba. Sebagian wilayah di Indonesia mulai diguyur hujan hampir setiap hari. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut pola hujan tahun ini akan berbeda dengan pola hujan yang terjadi 20-30 tahun lalu. Musim hujan bakal lebih singkat, dengan volume air yang dijatuhkan tetap sama. Artinya, ada potensi hujan ekstrim. Risiko terjadinya bencana juga meningkat; banjir dan longsor. 

Peringatan BNPB bukan isapan jempol. Longsor mulai terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Selasa lalu, longsor menimbun dua rumah di Kampung Muara, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Satu keluarga meninggal dunia tertimbun longsoran tanah. Masih di Jawa Barat, bulan lalu nasib naas juga menimpa satu keluarga di Kecamatan Sidamulih, Pangandaran.

Jawa Barat adalah satu dari tiga provinsi dengan kejadian longsor terbanyak. Ada 3 juta jiwa tinggal di lereng-lereng perbukitan dan pegunungan yang bisa longsor sewaktu-waktu. Data BNPB menyebut, terjadi bencana longsor di Jawa Barat antara 2005-2017 sebanyak 994 kejadian. Longsor menyebabkan 636 orang meninggal dunia, dan 83.479 jiwa mengungsi. Bersama Jawa Barat, ada Jawa Timur dan Jawa Tengah yang juga masuk dalam daftar rawan bencana longsor.

Puncak musim hujan diprediksi terjadi Januari-Februari mendatang. Karenanya,  Pemerintah daerah mesti mengambil langkah segera mengupayakan pengurangan risiko bencana. Apakah masyarakat sudah paham akan peningkatan ancaman  bencana di sekitar mereka? Sudahkah mereka jeli membaca tanda-tanda alam? Apakah masyarakat sudah lebih jeli membaca tanda-tanda terjadinya bencana? Paham apa yang mesti dilakukan ketika bencana itu datang? Ke mana mereka pergi mengevakuasi diri?

Langkah-langkah antisipatif melibatkan kesadaran masyarakat soal potensi bencana di wilayah mereka perlu terus dilakukan. Tak banyak waktu tersisa,  Mencegah dan bersiap diri tentu lebih baik demi mencegah kerugian akibat bencana.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau